Aku tau yang baca ceritaku cuma dikit beuud, jadi thank's banget buat yang baca:')
###
Keesokan paginya Marlyn merasakan pegal di seluruh tubuhnya. Ya, bagaimana tidak. Dia yang selama ini tidak begitu menghiraukan berat badannya tiba-tiba saja dipaksa untuk berolahraga demi mengecilkan tubuh besarnya itu. Kemarin adalah mimpi buruk baginya.
"Uh," Marlyn menggoyang-goyangkan bahunya yang pegal seraya masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan diri. Pagi ini dia akan mengenakan kaus dengan jeans. Setelan ternyaman.
Seperti pagi-pagi biasanya. Dia diantar oleh ibunya ke sekolah. Dia ingat sekali dengan apa yang diucapkan Daiki kemarin saat mereka hendak berpisah setelah olahraga hari itu.
"Kalau bisa kau membiasakan diri berangkat dengan sepeda setiap pagi," ucapnya dengan wajah dinginnya.
"Biar saja. Dia kira memangnya jarak dari rumahku ke sekolah dekat apa?" Marlyn mengomel sendiri.
"Kau berbicara dengan siapa hun?" Ibu Marlyn melirik wajah putrinya yang memberengut kesal.
"Bukan, aku hanya kesal," Marlyn melihat ke arah jendela. Dia sudah sampai.
"Mom akan menjemputmu nanti," ucap Ibu Marlyn saat Marlyn baru turun dari mobilnya.
"Tidak usah Mom,"
"Oh iya, kau kan sudah ada yang mengantar sekarang," Ibu Marly tersenyum jahil. Dengan kesal Marlyn membalikkan badan dan melambaikan tangan pada ibunya.
"Eh, lihat dia. Kenapa masih ada orang yang berpakaian sekuno itu sih?" seorang gadis dengan tampang menor berbisik pada temannya.
"Ya Tuhan! Kalau aku jadi dia, aku tidak akan pernah berpenampilan seperti itu," balas teman yang dibisiki tadi. Tentu saja Marlyn mendengarnya, mereka berkata tepat di dekatnya. Tapi Marlyn memilih diam. Dia merasa mereka ada benarnya. Marlyn memang berpenampilan buruk dan ketinggalan jaman, tapi apa salahnya? Lagipula gadis gemuk sepertinya tidak pantas memakai baju modis yang tren dikalangan remaja sekarang, kurang lebih begitulah fikirnya.
Tanpa berkata apapun, Marlyn meninggalkan kedua gadis yang bermulut culas itu. Dia memilih untuk meneruskan jalannya menuju kelas. Saat sedang berjalan, tiba-tiba ada yang menepuknya dari belakang. Marlyn menoleh.
"Kau?"
"Ya, aku. Kau fikir siapa?"
Bisa saja Nate. Pikir Marlyn.
"Kau masih mengharapkan pria itu menyapamu?" Ujar Daiki. Ya, yang menepuk tadi adalah Daiki, dan sudah bisa ditebak kenapa dia tiba-tiba menanyakan hal itu.
"Bisakah kita tidak membicarakan hal ini dan berjalan menuju kelas saja? Karena kufikir sepertinya sebentar lagi bel," Marlyn mengalihkan pembicaraan.
"...", tanpa menjawab, Daiki berjalan disamping Marlyn.
Belum 5 langkah mereka berjalan, terdengar obrolan tidak jauh dari mereka berjalan sekarang.
"Benar ya, gosip itu, she's a biatch," Gadis-gadis yang mengomentari pakaiannya tadi, sekarang beralih mengata-ngatainya bitch. Kali ini Marlyn tidak lagi diam. Dia berbalik ke belakang, menghadap ke tempat dimana gadis-gadis menyebalkan itu berdiri. Suatu kebodohan yang dilakukan mereka, menghina seseorang tepat dibelakangnya, tidak tahu bahwa orang yang dihinanya mampu melayangkan pukulan hebat di wajahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Blue Angel [Aomine Daiki]
FanfictionSebutlah aku si gadis cupu, culun dan tidak tahu malu. Semua orang muak melihatku. Menjauhiku. Tapi ada satu orang, seseorang yang entah sejak kapan masuk ke dalam hidupku dan kehadirannya sangat berarti bagiku. Apa kalian percaya pada malaikat? Aku...
![Blue Angel [Aomine Daiki]](https://img.wattpad.com/cover/13319072-64-k897259.jpg)