#NoCopas
#StopPlagiat!
Happy Reading....
***
Tidak banyak yang membuat seorang Rafandika Rahagi kehilangan fokus ketika sedang menjalankan profesinya. Asalkan keluarga dan orang-orang yang disayanginya baik-baik saja, maka harinya akan berjalan setenang biasa. Namun kali ini berbeda. Entah sudah berapa banyak ia memaki dirinya sendiri untuk kecerobohannya sendiri.
Rafan tidak menyangka meninggalkan ponsel bisa membuatnya sepanik ini. Ponsel yang terbiasa tidak menggunakan sandi atau pin pengaman sekarang baru ia sesali. Rasanya Rafan nyaris gila bila memikirkan bahwa Agisha yang menemukan ponsel itu dan membukanya. Karena sumpah demi apapun pesan dan status panggilan dari Bella masih tersimpan rapih di sana.
Jadi, ketika jam visitnya selesai, ia tidak menunggu dua kali untuk bergegas menuju mobilnya dan tancap gas agar cepat sampai di apartemen. Rafan hanya berharap ponselnya tertinggal di kamar sehingga kemungkinan Agisha menemukan sangat kecil. Walaupun ia sendiri tidak yakin dimana kali terakhir meninggalkan benda itu.
Ketika ia membuka pintu, semua lampu sudah menyala. Yang artinya Agisha sudah pulang lebih dulu. Rafan bergerak cepat memeriksa ruang tamu, namun nihil. Entah ia harus merasa lega atau justru waspada. Lalu Rafan bergeser ke ruangan lain dan terakhir kamarnya namun tetap sama hasilnya. Sial, dimana ia meninggalkan ponselnya itu?
"Mas udah pulang?" suara itu terdengar merdu namun sempat membuat Rafan tercekat di tempat.
Rafan berbalik dan menangkap sosok Agisha di ambang pintu dengan baju rumahan dan rambut setengah basah.
"Maaf, aku nggak tahu. Aku baru saja selesai mandi," Agisha mencoba mendekat. "Mas sedang ap-"
"Jangan masuk! Tetap di sana," potong Rafan tegas.
Agisha kembali mundur sampai batas pintu dengan memaksakan senyum. "Ada yang perlu aku bantu?"
Rafan mengabaikan dan melanjutkan apa yang dicarinya. Tepat ketika ia akan membuka lemari pakaian, suara Agisha lebih dulu menghentikan geraknya. "Mas Rafan mencari ponsel ya?"
S
ial. Semesta ternyata tidak berpihak padanya. Rafan mengusap wajah sebelum menghampiri Agisha.
"Kamu menemukan ponsel saya?"
Agisha hanya mengangguk kemudian berbalik menuju pintu sebelah dan keluar dengan membawa ponsel di tangannya.
"Tertinggal di sofa depan." Agisha mengulurkan ponselnya. "Tadinya aku mau antar ke rumah sakit, tapi waktunya nggak cukup karena di kantor pagi tadi ada meeting."
Rafan memperhatikan Agisha sejenak sebelum menerima ponsel itu. Tidak ada perubahan gestur atau ekspresi yang janggal. "Terima kasih."
Syukurlah, sepertinya keberuntungan masih dipihaknya.
Sekali lagi Agisha mengangguk. "Oh iya, karena aku tadi pulang terlambat jadi nggak sempat masak, tapi aku udah beli di luar tinggal dipanaskan. Ka-"
"Saya mau mandi dan saya sudah makan. Jadi nggak perlu repot-repot," putus Rafan. Ia tidak akan membuka celah untuk perempuan ini sedikitpun.
KAMU SEDANG MEMBACA
365 Days
RomanceBagaikan sebuah mimpi yang menjadi nyata. Agisha dilamar oleh laki-laki yang ia cintai sejak masa sekolah. Pernikahan terjadi dan menjadi hari bahagia bagi Agisha. Namun hanya dalam hitungan jam semuanya berubah atas pengakuan menyakitkan suaminya. ...
