10. Konfrontasi

8 1 0
                                        


#NoCopas
#StopPlagiat!

Happy reading....

***

Dulu saat Rafan masih remaja dan berstatus siswa menengah atas sosok Agisha di matanya merupakan perempuan yang sederhana dan bergaul seperlunya. Tipe anak rumahan yang lebih banyak menghabiskan waktu untuk belajar daripada bersenang-senang menikmati masa muda. Namun harus diakui karena ketekunannya dalam belajar Agisha selalu mendapatkan nilai yang sempurna dan sering mewakili sekolah untuk mengikuti berbagai lomba akademik dan pulang dengan membawa piala. Akhirnya perempuan itu menjadi kebanggan seluruh penghuni sekolah, terutama murid laki-laki yang banyak mengaguminya. Tetapi entah mengapa Rafan tidak merasakan hal yang sama. Menurutnya Agisha justru terlihat kaku dan membosankan. Tidak menarik untuk ditaklukkan meski perempuan itu sering memberikan sinyal-sinyal perasaan khusus dalam bentuk perhatian kala itu.

Sisi baik lainnya yang Rafan ketahui, Agisha juga merupakan anak yang sopan dalam tingkah laku atau bertutur kata serta pandai membawa diri. Itu terlihat saat keluarga mereka menghabiskan akhir pekan bersama. Mungkin untuk alasan itulah ibunya menyukai Agisha lalu mempunyai ambisi untuk menjadikannya sebagai menantu sejak lama. Dan karena alasan yang sama, Rafan juga terpaksa menyetujui keinginan ibunya. Ia berpikir Agisha yang sopan, kalem dan penurut itu bisa dengan mudah Rafan setir untuk pernikahan sementara ini.

Ternyata asumsinya salah. Agisha tidak selemah dan sebaik yang terlihat. Rencananya tidak berjalan semulus yang Rafan inginkan. Skenario yang sudah ia buat meleset jauh karena Agisha yang berani melawan. Sial, Rafan jadi teringat perjanjian di atas kertas yang sudah ia tandatangani semalam. Hasil kesepakatan bersama yang seluruh isinya sangat tidak menguntungkannya. Rafan membuka ponselnya untuk kembali membaca softcopy perjanjiannya.

1. Pihak pertama (Rafan) tidak boleh lagi berhubungan khusus dengan perempuan manapun termasuk Bella dalam kurun waktu satu tahun kesepakatan. Begitu juga bagi pihak kedua (Agisha).

2. Tidak ada komunikasi dengan lawan jenis yang bersifat intim dalam bentuk apapun, baik secara langsung atau via media perantara ; ponsel dll.

3. Pihak pertama sebagai suami dilarang menolak semua bentuk perhatian pihak kedua selama masa pendekatan satu tahun.

4. Pihak kedua bersedia melakukan tugas dan kewajibannya sebagai istri dalam berumah tangga.

5. Pihak pertama harus bertanggung jawab dan melaksanakan kewajibannya sebagai suami dalam rumah tangga.

6. Baik pihak pertama dan kedua tidak boleh menyimpan rahasia penting dan harus selalu terbuka satu sama lain.

7. Tidak boleh ada anak dalam rumah tangga selama perjanjian satu tahun.

8. Dan jika dalam waktu satu tahun pihak pertama tidak mau mempertahankan pernikahan terkait perasaan, maka pihak kedua tidak bisa lagi menahan atau berusaha menghalangi pihak pertama untuk berpisah secara agama dan negara.

9. Semua perjanjian pada point masing-masing akan kadaluarsa bergitu waktu satu tahun berakhir.

10. Jika waktu satu tahun berakhir dengan perpisahan maka pihak kedua dilarang untuk membuka tentang perjanjian ini kepada siapapun.

Dari sepuluh poin perjanjian itu, menurut Rafan hanya poin nomor tujuh sampai akhir saja yang tidak memberatkannya. Ke empat poin itupun dibuat atas kehendak Rafan. Sekarang membaca dan memikirkannya lagi membuat kepala Rafan terasa berat. Lalu bagaimana ia harus menjelaskannya pada Bella tanpa membuat kekasihnya itu emosi dan mau mengerti. Namun Rafan memang tidak punya pilihan lain. Ia tak kuasa untuk menolak. Kepalanya bisa dipenggal ibunya kalau sampai Agisha memilih membongkar semuanya.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jul 29 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

365 Days Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang