6. Kesepakatan

234 32 5
                                        


#NoCopas
#StopPlagiat

Happy Reading....

***

"Tidak semua diam itu lemah. Maka berhati-hatilah dengan diamku. Karena bisa jadi kamu terperangkap dalam masalah."

-Agisha Maheswari-

***

Rafan yang tadi nampak terkejut setelah mendengar ucapannya, sekarang terlihat gelisah, bingung atau... entahlah ia sendiri sulit mengartikannya.

"K-kamu bilang apa? Cinta?" laki-laki itu menggeleng sambil tertawa sumbang. "Kamu bercanda?"

Dari banyaknya respon yang Agisha bayangkan, tertawa bukanlah salah satunya. Jadi hal yang wajar kalau denyutan nyeri di balik dadanya kembali bereaksi ketika Rafan menganggap perasaannya sebagai gurauan belaka. Ya, Tuhan, kenapa hatinya memilih laki-laki seperti ini untuk dititipkan cinta.

"Aku serius dan nggak sedang bercanda, Mas!" Agisha berucap tegas. "Aku ulangi sekali lagi, bahwa aku nggak akan menyetujui apapun yang kamu minta."

Rafan terdiam. Menatapnya lama sebelum melepas tautan tangan keduanya, berjalan menuju pintu balkon. "Kamu pikir, saya akan percaya?"

"Terserah Mas mau percaya atau nggak. Yang jelas aku nggak berbohong. Sudah sejak lama aku menaruh hati sama Mas. Kalau boleh jujur, aku sudah tertarik sama Mas saat pertama kali kita bertemu."

"Kamu tahu ini percuma, pernikahan kita nggak akan berhasil."

"Pernikahan kita akan berhasil kalau saja kamu mau memberi kesempatan." Agisha mengikuti Rafan, kembali meraih tangan suaminya untuk digenggam. "Jadi, tolong kasih aku waktu untuk membuat kamu melihatku, merasakan apa yang aku rasakan dan percaya kalau pernikahan ini bukanlah sebuah kesalahan." Sepanjang perjalanan menuju apartemen tadi, Agisha sudah banyak berpikir. Ia memiliki dua opsi bertahan atau menyerah. Dan saat keluarganya terlintas di benaknya, pilihan inilah yang diambilnya.

Rafan tidak langsung menjawab. Agisha percaya kata-katanya barusan cukup mempengaruhi Rafan. Terlihat dari ekspresi laki-laki itu yang mulai gamang.

Setelah jeda cukup lama yang dilalui hanya dengan tatap, Rafan menarik napas yang terasa berat di telinganya. "Baiklah, tiga ratus enam puluh lima."

Agisha jelas mendengarnya namun tidak paham artinya. "Maksud, Mas?"

"Tiga ratus enam puluh lima hari," jelas Rafan lebih detail. "Itu batas waktu yang saya kasih untuk membuktikan kata-katamu tadi."

Agisha tercekat. Ia memang menginginkan sebuah kesempatan untuk berjuang. Untuk kembali merangkai harapan yang sudah hancur berserakan. Tapi tidak dengan batas waktu. Apalagi hanya satu tahun.

"Tapi, Mas-"

"Satu tahun, atau tidak sama sekali!" Sorot matanya yang tajam kembali menghujam seakan tidak ingin dibantah.

Agisha mendesah pasrah. Setidaknya ia memiliki kesempatan. "Baiklah, aku setuju keputusan kamu. Tapi, aku juga punya permintaan yang harus kamu turuti." Kalau Rafan memiliki syarat, tentu saja Agisha pun tak ingin kalah.

"Kenapa harus?" tanya Rafan sinis.

"Karena pernikahan ini milik kita berdua. Bukan hanya kamu dan kepentingan kamu aja, Mas."

Rafan meremas rambutnya. Nampak sekali berusaha mengendalikan emosinya. "Okey, fine! Apa itu?"

Agisha tersenyum. Siap atau tidak Rafan harus bisa melakukan ini, "Aku mau dalam usahaku satu tahun ke depan, Mas nggak boleh berhubungan dengan Bella atau perempuan manapun. Hanya aku yang boleh dekat dengan Mas Rafan."

"Apa?! Permintaan macam apa itu!" Rafan menghentakkan tautan tangan keduanya. "Nggak! Aku nggak pernah mau melakukan hal itu!" rahangnya mengeras dan wajahnya memerah. Kali ini emosi sudah benar-benar menyelimutinya.

Tentu saja nyali Agisha menciut. Tidak pernah sekalipun ia melihat Rafan semarah ini. Secinta itukah Rafan dengan perempuannya, pikir Agisha sedih.

"Kamu memberikan syarat waktu satu tahun, Mas. Dan aku menyetujuinya. Lalu kenapa kamu nggak bisa setuju dengan permintaan aku? Apakah itu terlalu sulit?" tanya Agisha pahit.

"Tentu saja! Itu permintaan tidak masuk akal. Bella itu pacar saya, dan kamu melarang saya berhubungan dengan dia?" berang Rafan "Kamu benar-benar gila!"

Agisha menggeleng tak percaya. Bisa-bisanya Rafan memakinya disaat seharusnya Agisha yang melakukannya. Memangnya semua ini terjadi karena ulah siapa? Tidakkah laki-laki ini bercermin.

Agisha memejamkan mata sejenak untuk mengendalikan emosi. Setelah itu kembali mendongak lebih tinggi seakan bersiap melawan. "Kalau begitu aku tarik kembali kalimat aku yang bilang setuju atas syarat yang kamu berikan."

"Maksud kamu apa lagi?"

Jika Rafan tidak mau menerima syaratnya, maka Agisha akan menggunakan berbagai macam cara agar suaminya itu menyetujuinya.

Termasuk rencana ini yang tiba-tiba terlintas di otaknya. "Aku nggak perlu waktu setahun itu kalau kamu pun nggak menyetujui syarat aku. Semuanya hanya akan sia-sia dan menyakiti aku nantinya. Jadi, lebih baik aku selesaikan sekarang juga."

Agisha berbalik untuk mengambil lagi kopernya yang masih tergeletak di depan kamar. Kemudian berjalan menuju pintu keluar.

"Agisha, mau kemana kamu? Kita belum selesai."

Semuanya benar-benar selesai kalau Rafan tidak mau mengikuti persyaratannya. Agisha berhenti sebentar. "Kamu nggak dengar, Mas? Aku bilang akan selesaikan semuanya sekarang. Aku mungkin akan malu tapi aku lebih memilih menjadi janda daripada harus meneruskan pernikahan kita."

"Apa?"

Agisha kembali meneruskan langkahnya. Sekarang pilihan ada di tangan Rafan.

"Agisha berhenti!"

Agisha pura-pura tak mendengar.

"Saya bilang berhenti!"

Tidak akan. Kecuali bila keinginannya terpenuhi.

"Kamu mau mengancam saya? Jangan nekad kamu!" nada suara Rafan mulai terdengar frustasi.

Agisha tidak peduli dan terus berjalan. Ia mulai menghitung dalam hati. Satu... dua... Ti-

"Baiklah, saya ikuti kemauan kamu. Saya setuju. Ayo, kita bicarakan dan buat kesepakatannya."

Tangannya yang sudah meraih handle pintu berhenti. Senyum tipis tersungging di bibirnya. Diam-diam Agisha bersyukur dalam hati. Untung saja rencana impulsifnya berjalan sesuai yang ia harapkan.

Namun Agisha tidak bisa berpuas diri. Ia masih berada di titik awal dan perjalanannya masih panjang. Mungkin ke depannya nanti bisa saja lebih menguras emosi juga air mata.

Tapi apapun itu Agisha sudah siap menghadapinya.

***
TBC

Jangan lupa vote dan comment-nya guys.

Terima kasih sudah mampir dan membaca. Semoga terhibur.

Salam,

Karsapena.

365 Days Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang