Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.
Wattpad Original
Ini bab cerita gratis terakhir

enam aja udahan

34.2K 4.3K 393
Penulis: Aku-UMI oleh Aku-UMI
                                        

"Dia tetep kekeh, Ibu. Katanya, dia mau diskusi. Ibu minta bayaran berapa? Cuma buat dua foto! Ih manteb sih menurutku."

Aku menatapnya.

Santi tidak henti-hentinya membahas mengenai fotografer yang katanya sangat tertarik untuk menjadikanku sebagai modelnya.

Aku tidak mengenalnya, dan tidak peduli dengan penjelasan Santi bahwa lelaki itu sering melihatku di kafe langganan. Bahkan, menurutnya, kami pernah bertegur sapa. Aku memang tidak ingat, dan mana mungkin aku mengingat semua manusia yang pernah kutemui secara random?

Bukan hanya karena aku tidak mengenalnya, aku pun sama sekali tidak tertarik dengan kerja sama yang satu ini.

Difoto? Berpose berdasarkan arahan? Tidak, aku tidak bisa membayangkan diriku melakukan semua itu.

"Maaf. Nggak penting ya foto begini buat Ibu. Nanti kalau dia ke sini lagi, biar saya bilang. Ibu nanti malam mau makan ap—sebentar. Muka Ibu pucat banget. Ibu sakit ya?!"

Entahlah. Aku sering merasa mual dan muntah. Pinggang terasa sakit. Belum lagi aku merasa kedinginan tetapi badanku panas. Aku mudah merasa ingin buang air kecil, tetapi yang keluar hanya sedikit dan itu terasa tidak nyaman.

Aku duduk di kursi meja-makan, menopang kepala dengan meletakkan tangan di dahi. Aku tahu aku harus mengisi perut kali ini, kalau tidak ingin aku mati besok. Namun, rasanya sulit sekali untuk mengangkat kepala.

Padahal, tadi pagi aku masih baik-baik saja. Setelah Uti pamit pulang yang diantar oleh Gharda, aku ke Kebun Jeruk untuk memantau pembangunan cabang Laundry milikku.

"Saya bikinin teh madu dulu, sebentar."

Bagus, sekarang aku kembali mual, tetapi kepalaku benar-benar terasa berat. Ini tidak bisa ditahan, "San, to—hueeeek." Hebat, Bora, kamu memuntahkannya di dapur.

"Ibu, ya Allah. Sebentar saya bersihin."

"Nggak us—" Aku menutup mulut, kemudian berlari ke kamar mandi yang ada di dekat dapur.

Rasanya menyesakkan sekali. Karena tak ada yang kumuntahkan, aku belum memasukkan apa pun ke dalam mulut.

Setelah merasa puas, aku kembali berjalan ke ruang tamu, dengan menahan sakit. Merebahkan badan di sofa, aku berusaha memejamkan mata. Rasanya tak bisa. Aku perlu memanggil Santi. Dia harus di sini.

"Santi ...."

"Iya! Ini minumannya." Dia duduk di sebelahku. "Kita ke dokter ya, Bu? Saya panggil Bapak gimana?"

"Jangan apa-apa Bapak."

"Tapi Ibu—"

"Kenapa liatin kayak gitu?"

"Ibu nggak hamil kan?"

Di tengah sakit begini, dia bahkan memaksaku untuk menertawakan ucapannya. Jangan gila kamu, Santi. Hamil? Tidak mungkin aku hamil. Ini pasti karena aku kecapekan. Stres. Semua jadi satu.

Jangan hamil. Jangan.

Aku kembali mencoba duduk, meminum yang dihidangkan Santi. Merasa terus ditatap, aku mengangkat kepala. "Kenapa?"

"Enggak."

"Saya kelihatan kacau ya? Harapan kamu waktu itu kan saya harus bisa hidup lebih baik, kenapa susah ya, San."

Matanya sudah berkaca-kaca. Kalau saja ini dalam kondisi normal, aku pasti sudah memarahinya. Ditambah, bibirnya yang mulai mencebik. Dia pasti menganggap aku ini mengenaskan.

"Ah suara bel. Sebentar, Bu." Tubuhnya berlari keluar.

Aku memerhatikannya yang sedang membuka pintu, kemudian ... sosok idolanya masuk dengan senyuman lebar. Tidak untuk sekarang. Tidak dalam kondisi ini. Tolong, aku tidak ingin melihatnya dalam keadaan lemah.

icon lock

Tunjukkan dukunganmu kepada katan🦋, dan lanjutkan membaca cerita ini

oleh katan🦋
@Aku-UMI
Bora merasa keberadaannya disembunyikan sebagai istri Gharda, seorang...
Beli bab baru cerita atau seluruh cerita. Yang mana pun itu, Koinmu untuk cerita yang kamu sukai dapat mendukung penulis secara finansial.

Cerita ini memiliki 32 bab yang tersisa

Lihat bagaimana Koin mendukung penulis favoritmu seperti @Aku-UMI.
Beda CeritaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang