Part 6

295 21 0
                                    

Fauzah masih termenung memikirkan senyuman pria itu kala menatapnya tadi. Entah apa yang dipikirkan Umam saat melihat dirinya berpakaian senada dengannya. Tapi yang jelas, pria itu telah menorehkan secerca harapan untuknya. Mungkin, sebesar itu rasa cintanya pada Umam, hingga senyum pria itu pun amat berharga baginya. Tanpa sengaja, senyum merekah di bibir Fauzah. Sejurus kemudian ia menampik pikirannya, teringat pada sahabatnya, Fitri, ia lebih layak dibandingkan dirinya. Wajah Fauzah kembali datar, sendu bila mengingat kisah cintanya.

Seperti biasa, para santri mengikuti pembelajaran dengan khidmat dan fokus ke depan. Entah fokus ke pelajaran, atau fokus karena ketampanan Umam, hanya mereka yang paham.

Selama pembelajaran, Fauzah hanya menundukkan kepala. Sesekali ia memberanikan diri untuk menatap wajah tampan Umam, sebelum disadari oleh si pemilik wajah. Getaran itu kembali hadir kala mata keduanya bertemu. Sejujurnya ia benci akan itu, namun, tak dapat dipungkiri bahwa ada kebahagiaan tersendiri ketika beradu pandang dengan Umam.

Fatma dan Anggun sedari tadi asik dengan kegiatan mereka. Nampaknya mereka tengah merencanakan sesuatu tanpa sepengetahuan Fauzah dan Fitri. Mereka berbicara dengan nada yang pelan, agar tidak terdengar teman-temannya yang lain, terutama Fauzah dan Fitri. Entah apa yang dibicarakan mereka. Fauzah yang tengah fokus dengan pembelajaran, merasa terganggu. Ia menoleh ke belakang,  di mana Fatma dan Anggun duduk, ingin mengetahui apa yang tengah dibicarakan kudua sahabatnya, sehingga harus berbisik. Namun mereka hanya menampakkan gigi mereka kala gadis itu menanyakan apa yang mereka lakukan. Fauzah geram, dan memilih kembali fokus pada pelajaran.

Tidak terasa pembelajaran telah usai. Semua santri bergegas untuk kembali ke asrama.

"Ayo balik ke asrama," ajak Fauzah pada Fatma dan Anggun, juga Fitri, meski tak ada jawaban darinya.

Fatma dan Anggun saling pandang, hingga membuat Fauzah bingung dengan tingkah mereka.

"Kalian kenapa sih. Di ajak balik kok malah pada saling lirik. Kalian mau ngelakuin sesuatu yah." Fauzah menatap penuh selidik.

"Fit, tolong jangan balik dulu. Mari selesaikan permasalahan diantara kalian dengan damai." Anggun memegang tangan Fitri dan sekilas melirik ke arah Fauzah.

Nampaknya Fauzah mulai menyadari apa rencana sahabatnya. Pun dengan Umam, pria itu tengah memperhatikan tingkah muridnya, hingga akhirnya ia paham dengan alur pembicaraan mereka.

Sejurus kemudian Fatma berlari ke pintu dan menguncinya dari dalam.

Fatma mulai membuka suara, "Gus, antum harus jawab jujur! Antum suka sama siapa?" Fatma menatap tajam Umam. Gadis itu memasang wajah interogasi ala polisi yang tengah menangkap maling. Ia tau kalau Umam memiliki rasa pada Fauzah. Namun, di lain sisi Fitri pun memiliki rasa padanya. Sebagai seorang laki-laki, tak seharusnya ia menelangsangkan perasaan kedua gadis, ia harus memutuskan satu diantaranya atau meninggalkan keduanya.

"Guys, apa-apaan sih nih? Nggak lucu tau." Fitri mulai ikut bicara, ia tak ingin masalah pribadinya dicampuri, meskipun itu sahabatnya sendiri. Pernah aku bilangkan? Bahwa Fitri itu orangnya pendiam dan tertutup.

Fatma dan Anggun tentu memahami maksud Fitri, namun, masalah ini harus segera diselesaikan. Ia tak mau kedua sahabatnya terkalut dalam kesedihan yang berlebih. Terlebih hanya karena seorang pria.

"Jawab Gus," tanya Fatma kembali. Kali ini tatapannya lebih serius dari sebelumnya.

Tidak menjawab. Umam malah memandang satu persatu gadis yang menjadi penyebab dirinya diintrogasi.

Fauzah hanya menunduk, ia bingung harus melakukan apa. Ia berharap, Umam segera menentukan jawabannya, dan ia harap itu adalah Fitri. Ia tak peduli seberapa sakit hatinya nanti, yang terpenting Fitri.

MIMPI NIKAH Sama GUSTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang