Fauzah masih mematung di tempat. Dirinya masih memandangi punggung pria kekar itu.
"Sampai kapan aku harus bersabar Gus? Paling tidak berilah aku sebuah kepastian. Agar penantianku nanti tidak sia-sia." Fauzah berlari menuju asrama dengan membawa sejuta tangis. Sekali-kali disekanya air mata itu, namun tetap saja, bulir bening itu senantiasa jatuh tanpa aba-aba.
"Fauzah kamu kenapa?" tanya Anggun.
Hanya isakan tangis yang Anggun dapatkan dari pertanyaannya. Fauzah sudah tak kuat lagi untuk berkata-kata. Dirinya jatuh ke dalam pelukan sahabatnya.
"Sabar ya Zah." Sambil memeluk, Fitri mengelus punggung gadis itu.
"Coba yang tenang dulu, supaya bisa enak ceritanya." Anggun mulai melonggarkan pelukannya.
"Gus Umam guys. Hiks. Hiks. Hiks," jawab Fauzah disela isakannya.
Mendengar nama Umam, wajah Fatma langsung merah padam. "Apa yang Gus Umam lakukan padamu Zah?" Fatma berbicara dengan emosi.
"Sabar Fat, sabar. Jangan langsung su'udzon dulu." Fitri berusaha menengahi.
"Gus Umam belum memberikan kepastian guys. Dia cuma nyuruh aku buat sabar nungguin dia. Hiks." Wajah Fauzah nampak parau usai menangis.
"Owh begitu. Ya sudah, kamu ndak usah nangis lagi. Kamu sabar aja dulu, kamu tunggu dulu, siapa tau Gus Umam memang memerlukan waktu, iya kan? Lagiankan kamu juga harus ngabdi di Surabaya selama satu tahun. Jadi sambil ngabdi, kamu juga sabar nungguin Gus Umam. Mungkin Gus Umam memang pengen ngelamar kamu setelah kamu usai ngabdi." Anggun berusaha menenangkan hati Fauzah.
Fauzah hanya mengangguk. Gadis itu menurut pada ucapan Anggun.
"Kamu tenang aja Zah, kita bertiga kan masih di sini, jadi dengan leluasa kita bisa mengamati Gus Umam. Dan lepas itu, kita akan mengabarimu, jadi kamu ndak usah khawatir yah," gumam Fitri.
…
Pagi-pagi sekali, keluarga Fauzah sudah datang ke pesantren untuk menjemputnya. Gadis itu sudah bersiap sedari tadi. Kini ia tengah berada di rumah ndalem untuk berpamitan. Matanya menjelajah setiap sudut ruangan, hingga akhirnya netranya menangkap sosok pria yang keluar dari pintu dapur. Pria itu nampak tenang, tidak ada rona kesedihan di wajahnya.'Apa dia tidak sedih akan berpisah denganku. Jahat sekali,' batin Fauzah.
‘Andai kau tau bagaimana perasaanku yang sebenarnya Zah. Sungguh, aku sangat sedih mendengar kau akan pergi. Namun, apalah daya, ini sudah titah Abi dan harus dituruti. Tak apa jarak memisahkan kita, yang penting do’a senantiasa terlangitkan.’ Umam bersenandika, ia seperti mengerti arti dari tatapan Fauzah padanya. Ingin sekali ia membujuk Abinya untuk mengijinkan Fauzah tetap di sampingnya, namun, ia tak dapat melawan perintah.
Usai berpamitan, mobil mulai melaju membelah jalanan menuju rumah. Fauzah memutuskan untuk di rumah satu minggu dulu sebelum akhirnya pergi ke Surabaya. Ia rindu dengan suasana rumahnya. Sebelum nanti ia akan menghirup aroma pesantren kembali. Terlebih dia akan menjadi seorang ustadzah. Duh, tak pernah terbayangkan olehnya akan menjadi seorang ustadzah.
Usai melampiaskan rasa rindunya pada keluarga tercintanya. Kini Fauzah tengah berada di perjalanan menuju pesantren Nurul Huda di Surabaya. Kebetulan gadis ayu itu pandai berbahasa inggris, sehingga ia ditugaskan untuk mengampu mapel bahasa inggris. Tak perlu heran, pesantren yang akan dijadikan Fauzah tempat mengabdi adalah pesantren yang modern. Jadi ilmu-ilmu umum sudah diajarkan di sana.
Beberapa jam perjalanan, akhirnya ia sampai juga di pesantren Darun Najah. Pesantren itu tak kalah besar dengan pesantren Nurul Huda, malah lebih besar yang ini.

KAMU SEDANG MEMBACA
MIMPI NIKAH Sama GUS
RomanceMimpi Nikah sama Gus Synopsis Ini kisah tentang seorang santri biasa yang berharap menjadi istri seorang Gus. Tentang pengorbanan seorang sahabat sekaligus ujian seberapa kuat persahabatan mereka. Kisah cinta sederhana yang bernuansa pondok. Dibungk...