denganmu, aku adalah sesosok senja yang lupa diri sehingga jatuh cinta kepada pagi. aku menjelma menjadi sosok epitome asing dari diriku sendiri, seasing polaris yang terus menerus menginginkan bersanding di sisi sirius.
aku menjelma menjadi naif pada cangkang telur di ujung tanduk, anehnya si naif ini malah berdansa merayakan kenaifannya. tidak peduli, bahkan jika waktu perayaannya itu hanya satu detik sebelum ia akhirnya jatuh.
layaknya icarus yang terus terbang menantang matahari, aku pun tetap berlari di lintasan ini. tiada mundur barang sesenti, meski kutahu di ujung sana boleh jadi yang kutemui bukan garis finish melainkan memar di kaki. ini tidak karena aku kebal, sebenarnya hatiku juga hati biasa saja, tidak terbuat dari uranium atau baja.
KAMU SEDANG MEMBACA
A DIKSI
PoésieKumpulan kalimat dari berbagai sumber yang menggambarkan perasaan saya atau mungkin kalian. [END]
