My Feeling

150 49 5
                                        

Bab 3
Perasaanku

Setelah aku mendengar apa yang di ceritakan oleh pelayan, rasa gugup dan takutku terhadap Yang Mulia sudah mulai berkurang, karena aku merasa bahwa ia juga memiliki sisi kemanusiaan, dan apa yang akan ku lakukan selanjutnya?

Bagaimana cara aku untuk menyatakan terima kasih kepadanya sedangkan aku jarang sekali dapat menemuinya dalam kehidupan sehari-hari...

Pagi pun telah tiba, aku menjalani kehidupanku seperti biasa, akan tetapi ada perubahan yang muncul, ada seorang pelayan yang datang mengantarkan surat dari Yang Mulia, surat tersebut berisi Yang Mulia ingin mengajakku ke taman belakang istana untuk menikmati teh.

“Wah... Ini merupakan acara minum teh pertama yang diajak Yang Mulia kepada Ratu, tidak biasanya...” seru pelayan.

“Apa biasanya Yang Mulia tidak pernah mengajak selir lain untuk menikmati teh bersama?” tanyaku

“Tidak Ratu, Yang Mulia sama sekali tidak pernah memperhatikan mereka, Oh ya, Ratu harus bersiap siap untuk acara minum teh nanti.” jawab pelayan.

Ketika sedang proses mendandani diri, tiba-tiba selir Alphira pun masuk ke ruanganku, karena ia mendengar bahwa Yang Mulia akan mengajakku untuk menikmati teh, para pelayan kaget, dan beberapa pelayan pun menghalanginya.

“Ini ruangan Ratu, Anda tidak berhak memasukinya, dan Ratu sekarang sedang mempersiapkan diri untuk acara minum teh bersama Yang Mulia.” ketus seorang pelayan.

PLAKKKKK....!!!

“Berani beraninya kau berbicara seperti itu kepadaku, aku ini selir Raja, buka matamu lebar-lebar!!!”

Aku pun langsung menghampirinya.

“Jadi kamu selir kedua Yang Mulia?”

PLAKKKKK....!!! (aku menamparnya balik)

“KAU!!!!” ketus Alphira

“Sebelumnya kamu telah mendorong aku jatuh ke sungai dan mengakibatkan Yang Mulia menolongku dan sakit setelah kejadian itu, sekarang berani-beraninya kamu datang dan langsung masuk ke ruanganku, apakah harus aku laporkan kepada Yang Mulia karena ketidaksopananmu terhadap aku?!” jawabku ketus.

“Jangan gara-gara Yang Mulia menyayangimu dan kau sudah bisa berani didepanku, ayahku adalah pejabat istana, sebelum Yang Mulia dinobatkan menjadi raja, ayahku lah yang membantu dia dalam mengurusi masalah negara, apa bagusnya seorang Ratu, melainkan kau hanya bisa memanfaatkan kedudukanmu agar bisa berdiri di atas orang orang!!!”, ketus Alphira

“Dan apa bagusnya seorang selir yang sama sekali tidak melihat status apa yang dia dapatkan dan malah ingin sekali berada di atas orang-orang?” Jawabku.

Pembicaraanku membuat Alphira sangat marah dan langsung pergi keluar.

Acara minum teh pun tiba, aku dibawa oleh beberapa pelayan dan menuju taman belakang istana, dalam perjalanan, beberapa selir Yang Mulia tampak cemburu karena mereka yang dari dulu tidak pernah di ajak oleh Yang Mulia sedangkan aku kali ini diajak

(Ternyata selir Raja juga banyak ya, apa Yang Mulia tidak merasa sulit dalam menangani selir yang banyak?)

Setibanya aku di taman, ternyata Yang Mulia sudah lama menunggu,

“Apa kamu sering terlambat jika ada orang yang mengajak kamu untuk acara tertentu?”, tanya Yang Mulia.

Jantungku seketika berasa copot karena takut jika Yang Mulia menghukumku atas keterlambatanku.

“Maaf Yang Mulia, karena sebelumnya aku ada masalah yang harus di selesaikan, sehingga menyebabkan Yang Mulia menunggu lama”, jawabku sambil gemetar.

Ketika sedang menikmati teh, Yang Mulia bertanya kepadaku.

“Aku dengar tadi Alphira pergi ke tempatmu membuat onar, apa tidak apa-apa?”

(Hm? Apa ini? Apa Yang Mulia sedang mengkhawatirkanku?)

“Oh, tidak apa-apa Yang Mulia, dia hanya mengomel sedikit padaku”

“BRUKKK!!!! (suara pukulan meja)

Berani-beraninya seorang selir bertindak semena-mena terhadap Ratu, lain kali kalau dia membuat onar di istanamu lagi langsung saja kasih tau aku, akan ku copot jabatan ayahnya”, jawab Yang Mulia (marah)

“Baik Yang Mulia.” (Huhuhuhuhu, kayaknya bakal terjadi sesuatu...)

Tiba-tiba Yang Mulia berdiri dari kursi yang ia duduk dan mendekatiku dan memegang tanganku.

“Jalan-jalan saja ditaman, membosankan hanya duduk begini.”, jawab Yang Mulia dengan tatapan mata yang tajam dan tidak berani menatapku.

Para pelayan mengikuti dari belakang, hanya pelayan terdekat kami yang berada disamping, di taman terdapat banyak bunga mawar yang paling aku suka.

Dan aku pun berlari ke salah satu bunga mawar yang paling memikat.

“Bunga mawar yang ada di taman ini ditanam oleh Yang Mulia sendiri karena dulu Ratu mengatakan bahwa Ratu suka akan bunga mawar.”, jelas pelayan terdekat Yang Mulia.

“Berisik.”, ketus Yang Mulia

(Wahhh, ternyata meskipun selir yang dimiliki Yang Mulia banyak tapi dia tidak pernah mempermainkan perasaan orang lain, melainkan aku merasa orangnya sangat setia terhadap orang yang dia cintai, ngomong-ngomong jika aku telah berada di sini berarti tubuh ini bukanlah punyaku, tapi siapakah orang sebelumnya yang memiliki tubuh ini?)

Apa ada hubungan antara Zenitthasia dengan pemilik tubuh yang sebenarnya?

Apakah cinta Yang Mulia terhadap Zenitthasia akan berlangsung lama?

Apa Zenitthasia dapat menjalani hidupnya dengan lancar di istana ini?

Always stay with me, and wait until last episode ❤️

I Became A Queen In One Night Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang