Aku orang yang hidup dalam keluarga yang kaya raya akan tetapi tidaklah bahagia. Ketika bertemu seorang nenek tua yang memberikanku gelang, ternyata dalam satu malam aku telah berada di tempat lain dan memiliki kedudukan dan status yang tinggi
Ketika aku menyetujui untuk bertemu dengan Yang Mulia lagi, seluruh istana seperti diwarnai dengan suasana yang menggembirakan.
“Ratu, Yang Mulia sudah menunggu, mari kita keluar” ajak Lili.
Ketika sampai ditaman, aku merasa suasana ditaman semakin berbeda, penyusunan dan tata letak pondok dan yang lainnya seperti diubah.
“Hormat kepada Yang Mulia”
“Kamu baru saja sembuh, tidak perlu memberi hormat, bagaimana apakah tempat ini menjadi lebih berbeda?”
“Iya... Untuk apa taman tersebut diubah? Apakah akan ada tamu yang datang beberapa hari kedepan?”
“Tentu tidak, kata tabib orang yang baru sembuh dari sakitnya harus diberi suasana yang berbeda agar suasana hatinya membaik dan tidak menyebabkan orangnya depresi, jadi aku menyuruh orang untuk mengubahnya” Jawab Yang Mulia (ramah)
“Terima kasih Yang Mulia” (senyum)
Tiba-tiba penjaga Yang Mulia keluar dan memperkenalkan dirinya.
“Hormat Ratu, saya adalah penjaga Yang Mulia yang baru, nama saya Ansen, mulai hari ini saya yang akan menjadi penjaga yang menemani Yang Mulia dimana pun beliau berada” jelas Ansen
“Baik, semoga kamu melaksanakan tugas dengan baik dan membantu meringankan tugas Raja” (senyum)
Kami keliling taman untuk menikmati suasana taman yang berbeda ini
“Waw... Tidak disangka wilayah taman ini semakin luas, apakah ini dikarenakan aku sudah lama tidak jalan-jalan di taman?”
“Makannya sebelumnya jika aku mengajakmu jangan kamu tolak” sindir Yang Mulia
Hahahaha...
Kami bersenda gurau selama ditaman, dan aku merasa Yang Mulia bukanlah orang yang kejam seperti yang dikatakan mereka, melainkan dia orang yang ramah, mungkin dikarena dari dulu adanya tekanan dan beban yang diberikan oleh ayahnya yang membuatnya tidak lagi merasakan apa itu kebahagiaan.
“Karena jarang beraktivitas semenjak aku baru sembuh, sekarang jalan sedikit, sudah terasa capek, bolehkah aku pulang dulu Yang Mulia?”
“Baiklah kalau begitu”
“Biar saya pergi menyiapkan kereta kuda dahulu” jelas Ansen.
“Ehhh...!!!”
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
“Biar aku yang bawa, siapa tahu nanti kamunya gara gara ingin buru buru pulang malah tersandung” (ngomong dengan ekspresi malu-malu dan tidak berani melihat)
“Uwwwoooooo....!!! Teriak Ansen dan Lili yang tertinggal dibelakang menampakkan wajah yang ceriah.
“Tuh kan, Yang Mulia amat baik terhadap Ratu, jadi jangan kalian gosip tentang Yang Mulia” jelas Ansen (cerewet)
“Eleh... Itu karena Ratu kami yang juga baik dan cantik... Uh!” jawab Lili (tidak mau kalah)