Kekhawatiran terhadap Yang Mulia

56 12 1
                                        

Bab 16

Sesampainya aku di kamar Yang Mulia, aku melihat wajahnya yang pucat dan lemas.

“Yang Mulia saat itu tidak memperdulikan apa akibatnya dan beliau langsung menyelamatkan Ratu dari sihir yang meluap, beliau memberikan sihirnya sendiri agar Ratu selamat.”, jelas Ansen.

“Akulah yang menyebabkan Yang Mulia jadi seperti ini... Siapakah pelaku yang ingin mencelakakanku?” (sambil menangis)

“Saat itu Yang Mulia mengutusku agar saya menjaga Ratu, karena saat itu Yang Mulia sudah mencurigai selir Alphira. Akan tetapi kita belum punya bukti yang cukup.”

“Aku tidak akan membiarkan mereka lolos begitu saja!”

.
.
.

Selir Alphira yang mendengar Yang Mulia jatuh sakit karena menyelamatkanku, ia langsung pergi ke tempat penyihir itu berada.

“Bukankah sihir itu hanya bisa mencelakakan perempuan itu! Kenapa Yang Mulia bisa terkena sihir kutukan itu!”, ketus Alphira.

“Saya hanya melakukan hal yang diperintahkan oleh Ratu, kalau Yang Mulia terluka gara-gara sihir kutukan itu, maka hal tersebut sudah di luar tugas saya.”, jawab penyihir.

“Kenapa? Kenapa?!?!?! Kau rela menghabiskan kekuatanmu untuk perempuan itu, akulah orang yang pertama yang dijodohkan oleh ayah mertua kepadamu! Aku benci... Aku merasa aku diperlakukan tidak adil !!!”

Penyihir dan Lendi hanya bisa terdiam, suasana semakin suram.

“Beri tahu aku apa obat penawarnya agar Yang Mulia bisa bangun!”, tanya Alphira (ketus)

“Sihir kutukan telah mengalih ke posisi Yang Mulia, saya sudah tidak dapat melakukan apa-apa lagi, bahkan dewa pun tidak akan bisa... Maafkan hamba Selir.”

Ketika mereka sedang sibuk memikirkan cara menyelamatkan Yang Mulia, para penjaga telah mengelilingi tempat penyihir dari luar.

“Apa-apaan ini!!! Siapa yang mengizinkan kalian datang dan mengerumuni tempatku!!!”, tanya penyihir (marah)

“Kami menyelidiki bahwa tempat ini ada masalah dan adanya kasus pencelakaan yang dilakukan, sekarang harap Anda mengikuti kami ke istana!”, perintah salah satu penjaga.

“Lepaskankan aku!!! Aku tidak ada salah!!!”

“Penjaga! Pastikan semua jalan keluar yang ada dalam ruangan ini di tutup, dan harus ketemu pelaku sesungguhnya! Jaga tempat ini dan cabut hak miliknya, mulai sekarang tempat ini akan di tutup, barang siapa yang melanggar maka akan di hukum sesuai aturan yang berlaku!”

.
.
.

Sesampainya di istana...

Para penjaga menahan penyihir dan berlutut di depanku.

“Ratu... Hamba tidak bersalah... Hamba dicelakai.”, jelas penyihir (gemetar)

“Kalau kau mengatakan yang sejujurnya, aku akan meringankan hukumanmu. Kasih tau aku siapakah yang menyuruhmu melakukan ini!”

“Selir Alphira! Semua ini di suruh selir Alphira, hamba sama sekali tidak tahu... Ratu... Ampunilah hamba...” (ketakutan)

“Kenapa dia mau melakukan hal seperti itu? Apa kau ada bukti?”

“Ada... Ada..., Ini adalah surat kesepakatan kami ketika Selir Alphira menginginkanku untuk menggunakan sihir kutukan kepada Ratu.” (mengeluarkan surat yang ada di sakunya dengan cepat)

“Hmph!!! Berani-beraninya dia... Pengawal !!! Tangkap Selir Alphira dan bawa ke istana hidup-hidup. Jika tidak kalian yang akan menanggungnya!!!”

Apa yang akan terjadi selanjutnya?

Apa Yang Mulia akan bangun dan selamat dari sihir tersebut?

Bersambung...

I Became A Queen In One Night Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang