Ada yang terjadi pada akhir yang seharusnya bahagia, namun membuatnya akhir yang sedih bukannya akan sedih selamanya. Nasib baru akan datang, pengalaman baru akan datang, dan kisah yang baru juga sudah tak sabar ingin datang. Memilih akhir yang berbeda untuk sebuah kebahagiaan tertunda, jauh lebih baik ketimbang tetap di zona aman tanpa mau menoleh.
Kyu-Hyun mengurung dirinya sendiri di ruangan kerjanya, menutup mulutnya sendiri dengan sebelah tangan membuat suara tangisnya agar tidak meledak.
Wajahnya memerah menahan sekuat tenaga, namun kerasnya kenyataan membuatnya tertampar dan menangis terisak tanpa kata di dalam ruangan dingin itu.
Tangan sebelahnya meremas kuat-kuat surat yang dikirim oleh pengadilan kepadanya. Kyu-Hyun menghempaskan surat itu kemudian membanting semua barang-barang yang berada di atas meja kerjanya, ia berteriak kencang melampiaskan rasa sakitnya yang seperti akan membunuhnya detik itu juga.
Pekerjaan yang digilainya untuk menghindari Eun-Rin kini tampak tak berarti, kantor yang di datangi oleh Eun-Rin agar tetap mendekati Kyu-Hyun dijauhkan dari gadis itu, meskipun sulit menolak, Kyu-Hyun selalu tahu cara agar genggaman tangan Eun-Rin terlepas dari lengannya. Senyum gadis itu yang tersungging saat melihatnya dari jauh, ia abaikan seolah tak melihat dan tidak mengetahuinya.
Tangisan gadis itu di kamar mandi kantor ketika tak sengaja Kyu-Hyun lihat saat hendak pergi ke kamar mandi pria, ia abaikan walaupun karyawannya bernama Na-Ra tengah memandang dirinya dengan tatapan heran.
Ia mencoba segala cara untuk membuat gadis itu menjauh dan menyerah.
Walaupun ketika melihat gadis itu secara langsung, ia tak tega dan ingin menyentuhnya. Mungkin ada ribuan kali kata maaf yang diberikan Eun-Rin padanya, dan ribuan kesalahan Kyu-Hyun yang telah membuat gadis itu menangis.
Gadis itu tetap berada di sisinya. Tak meninggalkannya, tak mau memberikannya kepada gadis lain, tak seperti Yo-Jin yang begitu mudah meninggalkannya.
Sekarang mereka semua telah selesai, Eun-Rin menarik tangannya dan berjalan jauh meninggalkannya. Sendirian.
***
Kyu-Hyun mengambil cuti, ia memutuskan datang ke kampusnya dulu untuk bernostalgia tentang hal yang mungkin saja terlewatkan olehnya. Ia duduk di salah satu bangku, memejamkan matanya merasakan deru angin dari pepohonan rindang. Sejenak menenangkan dirinya. Berusaha menghilangkan himpitan beban yang nyaris membunuhnya dalam radius dua meter.
Ia membuka matanya, terasa kembali ke masa lalu melihat apa yang ada di depannya... air mata laki-laki itu menetes.
"Cho Kyu-Hyun!" seseorang memanggil namanya, laki-laki itu menoleh ke belakang dengan acuh. Dia lagi, gadis menjengkelkan itu lagi. Kapan sih Lee Eun-Rin berhenti membuntutinya?
"Ada apa?" tanyanya dingin.
"Tidak..." gadis itu tersenyum, ia menggelengkan kepalanya pelan. "Aku hanya ingin memanggilmu. Kau punya waktu luang? Mau makan bersama? Aku tidak suka makan sendirian." Kata gadis itu seraya menyentuh tangan Kyu-Hyun dengan mudah. Laki-laki itu melepaskannya, untuk sekian kalinya.
"Mungkin nanti, sekarang ada hal yang harus kulakukan. Makanlah dengan teman-temanmu."
"Tidak bisakah kau meluangkan waktu sedikit saja untukku? Aku bisa makan apa saja, asalkan kau mau menemanimu. Kau mau makan apa? Aku juga bisa traktir."
"Tapi saat ini bukan waktunya aku bisa menghabiskan waktu makan siang denganmu, maafkan aku. Bisakah kau pergi?" kemudian laki-laki itu berjalan meninggalkan gadis itu yang tidak bisa berbuat apa-apa selain berdiri menatap punggung tegap itu.

KAMU SEDANG MEMBACA
Because of You (END)
FanfictionDalam hidupnya, Lee Eun-Rin hanya menyukai menari, belanja, dan membaca novel. Tidak ada hal yang ia cintai selain ketiga hal itu, sebelum Cho Kyu-Hyun datang. Pria itu melewatinya dengan raut wajah dingin, mempesona, dan tampak misterius. Pada akhi...