Chapter 5

24 9 43
                                        

Makan tuh hape! Makann! Emang sih bener kata orang-orang. Hp tuh mendekatkan yang jauh, dan menjauhkan yang dekat

Muhammad Nino Adriano
••••••••••

Seluruh murid kelas 11 IPS 3 telah berada di tempatnya masing-masing. Ada kebahagiaan tersendiri, karena hari ini merupakan hari Jum'at. Besok libur? Yes!

Hari jumat selalu menjadi hari yang dinantikan. Menjadi hari terakhir bersekolah di minggu ini, lalu keesokan harinya akan terbebas dengan segala mata pelajaran yang membuat pusing kepala. Menghabiskan weekend bersama pacar, eits! Hanya berlaku uktuk mereka yang memiliki pacar. Jomblo tidak perlu keluar, membuat jalanan macet saja! Maap, aku ga ngaca.

Mata pelajaran bahasa Indonesia sedang berlangsung. Mata pelajaran yang mempelajari seputar bahasa Indonesia. Bahasa negara kita sendiri. Tapi kenapa sulit sekali? Sedangkan mempelajari bahasa Inggris lebih mudah.

Lalu mengapa rata-rata guru pengampu mata pelajaran bahasa Indonesia menyebalkan? Absurd, dan tidak jelas. Entah kemampuan otakku yang minim, atau memang guru yang mengajar tidak menyenangkan?

Seperti yang sedang berlangsung di dalam kelas ini. Satu buku berdiri di depan muka, lalu pemiliknya tidur pulas tertutup oleh buku yang berdiri di depannya. Apakah kelas kalian juga seperti ini? Atau hanya kelasku saja yang bobrok?

"Hoam! Itu pak guru ngapain dah? Dari tadi ngoceh mulu! Mana gua kagak paham sama sekali," bisikku disebelah Risa. Sungguh, mata pelajaran ini membuatku mengantuk, jika saja menjadi murid laknat tidak berdosa, mungkin aku akan menyusul mereka ke alam mimpi.

"Liat noh! Anak-anak mana ada yang melek? Merem semua anjir!" cibir Risa menggerakkan dagunya.

Kuedarkan pandangan, menelusuri seisi kelas, dan benar saja! Teman-temanku memang tak ada yang memperhatikan sama sekali. Banyak yang tidur dan pura-pura menulis materi, padahal menyalin PR mata pelajaran lain. Oh, ayolah! Kapan jam mata pelajaran ini berakhir?

ting!

Suara itu membuatku mengecek ponsel diam-diam. Awalnya ingin mematikan nada dering, namun notifikasi di layar kunciku membuatku mengerjap.

"Whaaat?"

Krik krik...

Apakah aku gila? Padahal kegiatan belajar mengajar masih berlangsung, dan tanpa sadar aku malah berteriak-teriak seperti sedang berada di hutan.

Teriakan itu mampu membuat yang tidur menjadi terbangun, yang sedang menulis menolehku horror, dan guru laki-laki paruh baya itu menatapku heran.

"Kamu ini kenapa teriak-teriak? Saya menyuruh kamu mencatat materi, bukan berteriak-teriak seperti di pasar," ucapnya.

Aku hanya mampu membalasnya dengan cengiran. Mungkin wajahku sekarang sudah memerah padam. Sudah memerah seperti kepiting rebus, namun lagi-lagi hanya tentang notifikasi yang membuatku hilang akal.

"Toa jahanam! Gila lu ya?! Ngagetin aja," ucap Kanha menoleh ke samping, karena posisi tempat duduknya berseberangan denganku. Lagi-lagi hanya kubalas dengan senyuman saja.

Risa menyenggol lenganku menggunakan sikunya. "Lu kenape teriak-teriak kek orgil?" bisiknya.

"Liat nih!" bisikku memperlihatkan layar ponsel yang bagiku begitu menarik. "Seneng bat gua anjirr!"

Mhmd.Nino.A_ mulai mengikuti anda

"Apaan? Follow doang? Lah? Trus kenape?"

Dia ini! Ingin sekali aku menampar mulutnya. Dia saja yang tak pernah peka denganku, membuat moodku turun drastis.

Dear, KANHATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang