"Eh enggak kok pak, saya nggak bilang gitu! Si Anam aja pak yang nggak suka sama saya tuh, makanya fitnah, hayoloh!" tuduhku.
"Lah? Kok gua?" protesnya.
"Iya lah, elu!" ucapku menuding ke arahnya.
"Sudah-sudah ... Mending kita lanjut ngambyar aja gimana?"
"Mantap pak! Lanjott!" teriak Kanha.
Aku menghela napas lega. Untunglah aku tidak kalah suara dengan Anam. Anak itu memang selalu mencari masalah. Bukan hanya Anam, seisi kelas bahkan selalu mencari masalah. Not have akhlak!
Sound sistem kembali berbunyi, memainkan lagu-lagu milik Didi Kempot yang belakangan sempat viral.
"Loro atiku! Atiku keloro-loro."
"Rasane nganti tembus neng dodo."
"Tangisku iki mergo koe sing jalari. Kebangeten opo salahku iki?! Opo dosoku iki?"
Begitulah sekitarnya sedikit lirik yang mereka teriakkan. Memasang muka melas, mendalami setiap baitnya. Entahlah, lagu-lagu milik Didi Kempot memang sangat pas dinyanyikan jika sedang galau.
Ting
Satu notifikasi muncul di layar ponselku. Dari nomor yang tak kukenal. Membuka aplikasi WhatsApp, lalu membuka pesannya.
085009^^^^^^
Hai Nay
14.17
Siapa ya?
14.18
Nino
14.18
Oh, kenapa kak?
14.18
Kanha kemana ya? Gua chat ga dibales
14.20
Ada tuh kak, lagi konser
14.21
Gua mo minta tolong, bilangin sama Kanha ya? Ntar pulang sekolah suruh dia buat nunggu gua dulu. Gua ada latihan basket sama anak-anak, kebetulan Kanha tadi berangkat bareng gua. Jadi pulang harus sama gua juga. Lu suruh dia nyusul ke lapangan basket aja.
14.22
Oke kak, ntar gua bilangin
14.23
Ok Thanks
Jangan lupa save nomor gua wkwk
14.25
Done kak
14.26
Read
'Huaa seneng banget gilaaa! Di chat sama gebetan ya ampun! walaupun endingnya read doang. Gapapa.'
"Lu kenapa dah Nay? Dari tadi senyum-senyum sendiri. Kesambet lu ya?" ucapan Risa membuatku berhenti tersenyum. Anak ini! Selalu mengacaukan suasana.
"Enak aja lo! Nggak!"
Aku diam, menyudahi kehaluanku tentang Nino. Pesannya akan disampaikan pada Kanha, mungkin nanti setelah acara konser berakhir. Toh, ini sudah mata pelajaran terakhir. 7 menit lagi bel akan segera berbunyi.
Pembelajaran pada hari ini telah berakhir. Selamat jumpa besok pagi dengan semangat belajar baru.
Bel itu telah berbunyi. Suara decitan kursi yang bergesek dengan lantai semakin berbunyi. Banyak siswa-siswi yang telah berhamburan meninggalkan kelas, tak terkecuali dengan kelasku.
Kuhampiri Kanha yang tengah mengemas bukunya yang masih berserakan di atas meja.
"Kanha," ucapku.
"Paan?" jawabnya tanpa menoleh ke arahku.
"Itu ... Nino bilang katanya lu suruh nunggu dia sebentar, ada latihan basket katanya." ucapku.
"Oke."
"Gu--gua mo ikut," titahku.
Setelah menutup resleting tasnya, dia menatap aneh ke arahku. Aku sendiri juga bingung dengan tatapannya.
Satu detik, dua detik...
"Bwahahahah!! Ngakak gua."
Aku semakin bingung dengan tingkahnya. Kenapa? Apanya yang lucu?
"Apaan?" tanyaku. Kanha masih dengan posisi yang sama, terbahak-bahak yang entah menertawakan apa.
"Hadehh, lu kalo mau modus, bilang!"
Hah? Aku masih tak mengerti dengan maksudnya. Kanha justru malah meninggalkanku dengan perasaan bertanya-tanya.
Kukejar dia, menyamakan langkah kakiku dengannya. Lalu menanyakan kembali perihal tadi.
"Modus gimana dah maksud lu?" tanyaku.
"Modus mau deket sama Nino!" sindirnya.
Aku malu. Bahkan sangat malu. Kanha ini, benar-benar memiliki bakat terpendam. Peramal, yang entah kebetulan atau memang peramal.
"Ya udah si, petros!" ucapnya lagi.
"Hah? Petros apaan lagi si?" tanyaku.
"Pepet teros! Hiyaaa," sahutnya. Aku manggut-manggut saja, berteman dengan Kanha ada baiknya juga, karena bisa mendapat restu untuk dekat dengan temannya.
Berjalan berduaan di koridor sekolah. Seperti sepasang kekasih bukan? Namun memang bukan!
Lapangan basket telah terjangkau oleh mataku. Di sana terdapat beberapa anak yang berlari kesana-kemari memperebutkan bola berwarna merah itu. Memantulkannya ke lantai, lalu sesekali melompat dan memasukkan bolanya ke dalam ring.
Mataku menemukan sosok Nino. Laki-laki yang entah sejak kapan kukagumi. Benar, memang mungkin 2 tahun lebih. Baru kali ini aku bertegur sapa dengannya, setelah sekian lama memandangi hanya dari balik jendela kaca.
Dia berlari sembari memantulkan bola. Keringan bercucuran di sekujur tubuhnya. Rambutnya terlihat basah oleh keringatnya sendiri. Keren!
"Busettt ... Aaa!! Nggak kuat gue liat Nino! Keren banget sumpah!" pekikku ketika melihat Nino berhasil mencetak skor.
"B aja!" sahut Kanha.
"B aja gimana si? Liat nih ya, Nino tuh body-nya good! Liat noh, ototnya haduh, keker bre!"
"Apaan? Gua juga keker," ucapnya dengan nada seperti ... Tak terima?
"Dih? Elo? Keker? Badan kek triplek gitu lu bilang keker? Kek adonan cireng noh! Lembek!" ejekku mendorong bahunya.
"Dah! Sono pulang aja lu, kagak usah ikut gua!"
"Eh selaw bre," titahku.
"Liat noh, gebetan Nino ada di pinggir lapangan!"
Deg
Mataku tertuju pada arah yang ditunjuk oleh Kanha, dan memang benar. Ada seorang wanita di sana.
'Siapa dia? Gebetan Nino? Apa bener?'
TBC
•••••
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear, KANHA
Teen FictionUPDATE SETIAP HARI! STAY TUNE OKE Sebait catatan untuk azdillah Kanha Farezi. Catatan tentang sebuah kenangan yang tersimpan rapi di dalam ingatan, tanpa pernah sedikitpun terlupakan. Mungkin ini hanya catatan usang di dalam hati yang lapang. Namun...
