Bola redup menjelang tengah malam.
Kau usap lembut kepala lindung dunia.
Takut buai maya tiada temu guna,
"Tidurlah..." Ucapmu sembari bersenandung bagai lagu penghantarku menuju teduh rumahmu.
Kian terpejam, erat peluk takut esok pagi mentari terbentang kau pun hilang.
"Tidurlah..." Bisikmu lagi.
Degup jantungmu terasa, wangimu melekat di sukma.
Kuhirup tenang hingga gulita menyisakan bayang.
Day.
