"Ah itu... Aku tahu dari keyzi. Tadi ketemu pas dia mau jalan pulang, jadi aku tanyain deh," Jelas Arga dengan kikuk.
"Oh, gitu" Arsya kembali fokus dengan kegiatan yang ia lakukan sebelumnya.
"Kita belum kenalan loh dari tadi, kenalin aku Arga Dwi Putra dari SMA Nugraha" Arga mengulurkan tangannya ke untuk berkenalan dengan Arsya.
"Ohiya, salam kenal, Arga. Soal namaku, kamu kan sudah tahu dari Keyzi" Arsya memberikan senyuman tipis untuk Arga. Hal itu membuat Arga menjadi salah tingkah.
"Ayo berteduh, ini dingin banget loh. Nanti kamu sakit" Arga mencoba untuk membujuk Arsya.
"Gak mau, cuma hujan yang mengerti semua keluh kesahku. Disaat aku harus mempertahankan semua topeng bahagia diwajahku ini. Aku hanya ingin sendiri sekarang, kamu boleh pergi" Arsya tetap menatap sendu sang langit yang tampak gelap. Rinai hujan kini bertambah ganas jatuh ke bumi. Seakan mengerti akan perasaan yang dirasakan Arsya sekarang.
Arga diam mematung, ia tak menyangka kalau Arsya adalah gadis yang rapuh. Karena dari informasi yang ia dapat selama ini, Arsya adalah gadis yang baik hati, murah senyum, serta peduli dengan sekitar, meskipun ia pendiam. Seakan mengerti akan perasaan yang dirasakan oleh Arsya, Arga melempar payung yang dibawanya, dan kemudian berlari mengambil bola basket yang ia gunakan saat pertandingan tadi.
"Yaudah kalo gitu, kamu boleh main hujan sambil nemenin aku main basket," Arga melempar senyum manis untuk Arsya. Arsya mengangguk dan kembali bermain hujan.
Selintas kenangan kembali terputar bagaikan video monokrom di memori Arsya. Saat ayahnya dimandikan, saat ayahnya dimakamkan, semua luka pada tubuh ayahnya terekam jelas dalam ingatan Arsya.
Memang benar kata orang,
'Tak selamanya akhir dari hujan itu adalah pelangi, boleh jadi hanya kenangan yang hadir dan kembali membuatmu menangis'
Arsya terduduk di pinggir lapangan basket, ia menangkup wajahnya. Sesak didadanya kembali terasa. Dingin di tubuhnya tak sanggup untuk menyamarkan sesak di dadanya. Dan akhirnya, cairan bening kembali tumpah di pelupuk matanya. Hanya saja hujan hanya menyamarkan tangisnya, tidak dengan isaknya.
Arga menyadari Arsya yang sudah tak bermain hujan lagi pun menoleh kearah pinggir lapangan. Ia berlari untuk memeriksa keadaan Arsya.
"Sya, kamu kenapa? Ayo berdiri, kamu pasti kedinginan," Arga membantu Arsya untuk berdiri dan berteduh.
"Sya, tunggu bentar," Arga bergegas mengambil jaket nya. Ia kemudian memasangkan jaket itu ke tubuh Arsya yang terlihat menggigil.
"Makasih ya, ga" Arsya tersenyum tulus kepada Arga. Bukan senyuman yang biasanya ia tampilkan, tapi memang benar-benar tulus dari lubuk hatinya.
"Ayo aku antar kamu pulang," Arga beranjak untuk membantu Arsya berdiri dan mengambil tas mereka. Mereka berjalan bersisian di koridor sekolah yang sudah sepi, karena sekarang sudah jam 17.30 yang sudah pasti semua murid sudah meninggalkan sekolah.
"Bukannya tadi pagi kamu di halte? Kamu mau anter aku naik apa?" Arsya teringat kejadian pagi tadi, saat ia bertemu Arga di halte.
"Tenang aja, aku ada mobil. Soal pagi tadi, rahasia" Arga mengulum senyum melihat raut penasaran Arsya.
"Ish nyebelin banget, baru kenal juga" Arsya cemberut menatap Arga yang hanya dibalas dengan kekehan.
"Suatu saat nanti kamu bakal tahu kok" Arga mengedipkan sebelah matanya kepada Arsya. Arsya hanya mendengus melihatnya.
Setelah sampai di tempat parkir, hanya tersisa satu kendaraan disana, yang sudah pasti itu adalah mobilnya Arga. Mobilnya pasti mahal, pikir Arsya. Arga membukakan pintu mobil dan mempersilahkan Arsya untuk masuk.
"Silahkan masuk tuan putri, akan saya antar sesuai orderan," Arsya tertawa mendengar gurauan Arga.
Manis, pikir Arga saat melihat senyuman Arsya. Arga menyetir dengan tenang meninggalkan parkiran sekolah, dan menuju rumah Arsya. Dan tentunya dengan arahan dari Arsya.
"Ga, harusnya aku panggil kamu kakak, kan? Kata keyzi kamu udah kelas 12,"
"Terserah kamu mau panggil aku apa aja, yang mana kamu nyaman aja," Arga berbicara dengan memperhatikan jalanan di depannya.
"Yaudah, aku panggil Aga aja, gapapa kan?"
"Unik, cuma kamu yang manggil aku kaya gitu," Arga tersenyum lebar mendengar panggilan baru dari Arsya.
"Aku mau panggil kamu Ara aja, boleh kan?" Arga pikir panggilan Ara cukup menarik.
"Iya, gapapa kok" Dan setelah itu tak ada lagi percakapan apapun.
***
Setelah beberapa menit perjalanan, mereka akhirnya sampai di depan rumah sederhana milik Arsya. Terlihat sebuah rumah minimalis dengan halaman yang tampak asri meskipun pagar rumahnya sudah tampak reot karena tak pernah diperbaiki.
"Masuk sana," Pinta Arga.
"Iya, makasih ya udah mau anter aku. Gak mau mampir dulu?" Tawar Arsya, ia berpikir tak ada salahnya bila mengundang Arga untuk masuk sekedar singgah sebentar.
"Lain kali aja ya, mamaku udah nelpon nyuruh pulang. Nanti kapan-kapan aku kesini lagi. Aku pulang ya," Arga menatap Arsya sebentar, lalu masuk kedalam mobil.
"Dadah" Arsya melambaikan tangan kepada Arga.
Arsya memperhatikan mobil Arga yang menjauh sampai hilang di tikungan. Arsya melangkah memasuki rumahnya. Hari perlahan sudsh menggelap. Sang surya sudah tak menapakkan diri semenjak siang tadi. Hujanpun sudah berhenti menyuarakan isi hati.
Arsya hendak ke kamar mamanya untuk sekedar menyapa. Ia melihat tubuh mamanya yang sedang berbaring di ranjangnya dan tampak terlelap sekali.
Arsya mencium kening mamanya, dan kemudian berlalu ke kamarnya.
Sesampainya di kamar, Arsya langsung membersihkan diri. Arsya teringat akan jaket Arga yang sampai saat ini masih dipakainya. Baunya harum, bau parfum khas laki-laki. Ia teringat akan perlakuan Arga yang sangat manis, padahal baru beberapa jam saling kenal. Ia seakan pernah bertemu dengan Arga sebelumnya. Tapi ia tak ingat apapun akan hal tersebut.
Malam itu, Arsya memakai setelan tidur berwarna soft pink. Ia berbaring di kamarnya sambil menatap langit-langit kamarnya. Jaket Arga sedari tadi ia peluk, baunya sudah seperti candu untuk Arsya. Aneh, padahal baru hari ini bertemu dengan Arga. Tapi kenapa perasaannya bisa tidak karuan seperti ini?
Arsya terlelap menutup hari ini tanpa sadar bahwa, semuanya akan dimulai esok hari.
TBC
KAMU SEDANG MEMBACA
Mengejar Senja
Teen FictionIni tentang gadis bernama Arsya. Anak tunggal yang ditinggal ayahnya ke Surga. Yang tersisa hanyalah mamanya yang tak bisa merespond semua ceritanya. Ia berjuang sendiri menghadapi kesepian yang dialaminya. Sampai takdir berkata bahwa, akan ada ses...
