Tettt! Tettt!
"Woah!" Seulgi terbangun kaget oleh suara alarm yang berada di meja kerjanya.
"Ah... aku ketiduran saat kerja lagi... ini gak bagus," kata Seulgi ketika dia sadar dia bangun tidur di atas meja.
Seulgi melihat ke lukisan yang sudah jadi di mejanya. Lukisan seorang wanita yang sedang memilih barang di sebuah kios.
"Kak Irene!" seru Seulgi teringat oleh janjinya dengan Irene hari ini.
Seulgi melihat ke jamnya.
"Shit, jam setengah 10!" seru Seulgi dan langsung pergi menyikat giginya.
Setelah menyikat giginya, Seulgi membasuh mukanya dengan cepat, mengganti pakaiannya, memakai parfum yang banyak, lalu memasukan lukisannya ke dalam tas, lalu berlari mengejar bus yang akan pergi ke alun-alun kota.
"Please please please masih bisa please please please," kata Seulgi pelan, "Pak, gak bisa cepetan dikit apah?" tanya Seulgi ke sopir bus.
"Gausah ngadi-ngadi deh, Nak," jawab Pak sopir bus cuek.
•
Setelah sampai di perhentian bus alun-alun kota, Seulgi langsung berlari ke arah kiri dia berlari ke asal arah mengikut hatinya karena dia tidak tahu dimana tepatnya toko roti Irene berada.
"Mba, toko roti Baebread dimana ya?" tanya Seulgi kepada seseorang yang lewat di hadapannya.
"Masuk ke gang itu," jawabnya sambil menunjuk sebuah gang kecil penuh dengan toko-toko.
"Makasih," jawab Seulgi lalu kembali berlari masuk ke dalam gang itu.
Seulgi tidak tau orang yang dia tanya adalah Wendy yang juga baru pergi dari toko roti Irene. Dan Wendy juga tidak tau kalau Seulgi lah yang ditunggu-tunggu Irene, yang dia bilang tidak pantas untuk Irene.
Seulgi melihat seseorang dengan apron bertuliskan Baebread masuk ke dalam sebuah toko. Orang itu adalah Jennie yang barusan saja melambai kepada taxi yang Irene tumpangi menuju bandara.
"Itu dia disana," Seulgi melajukan larinya menuju toko roti Irene.
•
Seulgi masuk ke dalam toko roti Irene sambil ngos-ngosan. Jennie terkejut saat menyambut tamu yang terlihat habis dikejar polisi.
"Se-selamat datang–"
"Irene!" sebut Seulgi sambil ngos-ngosan, "Aku mencari Irene!"
"Bos kami barusan pergi keluar negeri, ada yang bisa saya bantu?"
"D-dia... sudah pergi?"
"Kamu Seulgi?" tanya Jennie sadar kalau Irene dari tadi menunggu seseorang.
Seulgi hanya mengangguk, matanya sedikit berkunang-kunang.
"Duduk dulu, aku ambilkan minum,"
"T-tidak us–"
"Duduk lah," kata Jennie membantu Seulgi yang terlihat pucat duduk.
Jennie memberikan air putih kepada Seulgi, dan ketika Seulgi sudah sedikit lebih tenang, Jennie memberikan surat yang Irene tulis.
Seulgi membacanya, hatinya sedikit tersayat. Ini semua karena dia tidak bisa menepati janjinya, dia terlambat, dia tidak menepati janjinya, dia sudah terlambat. Seulgi meneteskan air matanya dan bersandar di kursi.
"Bisakah aku meminta nomor Irene?" tanya Seulgi.
Jennie ingin sekali menggangguk tapi dia mengingat perkataan Yeri untuk tidak memberi tau informasi apapun tentang mereka.
"Aku mohon," kata Seulgi dengan suaranya yang penuh belas kasihan.
Jennie memberikan kartu nama Irene yang berisi e-mail bisnis Irene.
"E-mail bisnis? Apa dia akan membalasnya? Dia sendiri yang membalas atau dia punya admin? Dia punya Instagram? Facebook? Atau apalah yang bisa membuatku bisa menghubunginya,"
"Maaf, Seul. Tapi, keluarga Irene meminta untuk tidak menyebarkan informasi apapun. Seenggaknya kartu nama itu cukup, aku yakin dia mencheck e-mailnya,"
"Berapa lama dia pergi ke Paris?"
"Dia... gak bilang kalau dia pindah?"
"D-dia... pindah?"
Jennie mengangguk tidak tega.
"Aku berharap terlalu tinggi kepadanya, aku berharap terlalu banyak...," kata Seulgi sangat pelan.
Jennie melihat Seulgi yang menjadi lemas dan lama kelamaan terlihat sangat pucat.
"Minum lah airnya," kata Jennie.
Seulgi meminum air yang diberikan oleh Jennie.
"Kenapa kamu datangnya lama banget? Irene lama nungguinnya,"
"Aku gak menyetel alarmku, harusnya aku menyetelnya jam 7. Aku semalaman menyelesaikan ini,"
Seulgi mengeluarkan sebuah canvas, dengan lukisan diri Irene saat di kota Koper.
"Wow," Jennie takjub dengan potret yang dilukis sangat indah oleh Seulgi.
"Dia memintaku untuk memberikannya hari ini, ah... sepertinya belum saatnya," kata Seulgi.
Jennie terdiam melihat lukisan itu sambil berpikir.
"Aku akan mengirimkan ini ke Irene–"
"Jangan!"
"Loh? Kenapa?"
"Aku mau memberikannya secara langsung ke dia,"
"Hmm... kamu tau, Seul? Cinta itu tentang pengorbanan. Jadi gapapa, kadang hatimu harus rapuh tapi kamu harus tetap bisa bangkit, dan kejar apa yang harus kamu kejar,"
Seulgi terdiam mencerna dalam-dalam kalimat yang barusan Jennie lontarkan. Seulgi tersenyum pahit lalu berdiri.
"Aku pulang ya– siapa namamu?"
"Jennie,"
"Oh oke, Jennie. Aku pulang ya,"
"Tunggu!"
Jennie pergi ke belakang sebentar lalu kembali dengan memberikan satu roti coklat yang masih hangat dan juga air mineral.
"Jangan sampai kamu pingsan di jalan," kata Jennie memberikan roti dan air mineral itu kepada Seulgi.
"Terima kasih, aku akan datang lagi,"
•
Hari sudah gelap, Seulgi berbaring di rooftop apartement beralaskan koran yang dia baca tadi sebelum matahari tenggelam.
"Kak, sesusah ini menggapaimu? Aku nggak sanggup mengejarmu, apa aku harus berhenti berharap?" Seulgi menghela nafasnya.
"Harusnya kamu jangan bertanya begitu, Kang Seulgi. Kamu sudah tau kamu harus berhenti mengejar bintang yang sangat tinggi di luar angkasa sana, sedangkan kamu... di bumi, nggak ada harapan untuk menggapai bintang, Seul," monolog Seulgi menitikan air matanya.
"Pelajaran baru. Jangan terlalu cepat berharap kepada manusia, karena itu sumber kecewa yang paling besar,"
Seulgi duduk dan menatap bulan yang sedang bersinar terang.
"Tapi dia bukan manusia, dia bidadari," Seulgi tersenyum lebar mengingat senyum dan tawa Irene.
"Cinta itu tentang pengorbanan. Jadi gapapa, kadang hatimu harus rapuh tapi kamu harus tetap bisa bangkit, dan kejar apa yang harus kamu kejar,"
Kalimat yang Jennie katakan terus terputar di kepalanya. Tapi, anehnya itu membuat Seulgi tersenyum sangat lebar dan seperti mendapatkan sinyal bahwa,
"Bagaimanapun caranya, apapun hasil yang akan aku dapat, aku akan kejar kamu, Kak. Tunggu aku disana ya,"
— TBC —
KAMU SEDANG MEMBACA
Dia [Seulrene]✔️
FanficDi suatu hari tanpa sengaja kita bertemu Aku yang pernah terluka kembali mengenal cinta Hati ini kembali temukan senyum yang hilang Semua itu karena dia Anji - Dia. ⚠️ GXG AREA ⚠️ Copyright ; aloyalpanda.
![Dia [Seulrene]✔️](https://img.wattpad.com/cover/234768770-64-k934217.jpg)