Chapter 11

449 67 5
                                        

Publish pada tanggal 13-8-20

Attention, kepslok jebol :v

———💐———

VoTe yorObUn

———💐———

"Iya?"

Yeji terdiam sebentar, lalu membungkuk setelah otaknya memberitahu kalau orang yang ada di depan yang ini adalah dosennya.

Ya kalian pasti bisa tebak kalau itu Jeno, tapi saat itu ada dua orang yang juga sama sama menyandang status sebagai dosen dengan Yeji.

"Pak sena? Pak Jeno?" Ucapnya lalu kedua orang itu mengangguk, "kamu kenapa bisa ada disini?" Tanya Jeno, "aku ada disini? Karna aku habis membaca buku" Jawabnya, Jeno mengerutkan alisnya, maksud dirinya bukan perpus ini, tapi di gedung ini, apa yeji jauh jauh je gedung ini hanya untuk membaca buku? .

"Kamu bukanya masuk pagi?" Tanya pak Sena dan Yeji menggeleng "tidak pak, saya masuk sore" Koreksi Yeji, pak Sena mengerutkan alisnya.

"Oh sekarang bapak paham" Ucap pak Sena sambil memperbaiki kaca matanya, Yeji menatap pak Sena penuh arti.

"Ni bapak bapak kenapa dah"

Ucap Yeji dalam hati, jangan bilang, matanya salah liat lagi—mata pak Sena, kalau nina itu adalah dirinya.

Karna Yeji tau betul dengan pak Sena, sangat susah untuk membedakan wajah dirinya dan Nina, padahal mirip-pun enggak ada, bahkan karna salah liat, Yeji dapat skors yang seharusnya skors itu diberikan kepada nina.

"Ya sudah kalau begitu, bapak dan Jeno pergi dulu" Pamit Sean, dan Yeji menganggukan kepalanya, lalu dirinya menatap Jeno sekilas, laki-laki itu memberikan senyuman hangatnya, yang bisa membuat siapapun luluh.

Oke, yeji kembali sadar saat perut nya kembali bergetar, pak Sena dan Jeno sudah sangat jauh sekarang.

Yeji melihat layar ponsel nya, lalu memberi kabar kepada Jaemin kalau dia akan pergi ke cafe, dan juga akan langsung pulang.

Tapi hanya centang satu.

Setidaknya dia sudah memberikan pesan kepada kekasihnya itu.

.

Yeji point of view

Dan satu lagi yang baru gue tau, ternyata ni gedung ada kantinya, ga bukan kantin tapi restoran, dan sialnya lagi gue lupa kalau makan disini itu ga gratis

Dan parahnya lagi, dompet gue ketinggian di perpustakaan, gue sih ga takut, surat surat penting ga sering gue bawa

Dan ribetnya lagi

Berakhir dengan gue yang sedang beradu mulut dengan si penjaga kasir

"Saya bilang dompet saya ketinggalan di perpus, jadi saya mau ambil dulu" Jelas gue dengan penuh penekanan "tidak, harus dibayar sekarang, dan harus credit" Astagah ni orang mulutnya belom gue abstrak-in.

Sabar ji sabar, gue makin cantik kalau sabar.

"Iya, tapi saya mau ambil dompet saya dulu, saya janji akan bayar" Ucap gue lagi agak sedikit menahan amarah sebenarnya, tapi gue kudu jaga image "ga bisa harus-

[1] Between of CEOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang