Petra Rall.
Itu nama tidak asing lagi bagi Levi yang sedang berbaring di bangsal rumah sakit jiwa ini. Jika Levi ingat-ingat wanita itu memiliki surai pendek yang selaras dengan warna karamel, tubuhnya kecil untuk golongan wanita juga karena tingginya tak jauh berbeda dengan Levi yang tergolong sangat pendek untuk pria dewasa, Levi mencoba untuk mengingat-ingat bagaimana pertemuan mereka yang pertama dan terakhir selama beberapa hari ini sejak ia bertemu dengan Eren yang merupakan dokter pengurusnya.
"Nama saya Petra Rall! mulai hari ini saya yang bertugas untuk membersihkan unit apartemen anda, mohon bantuannya"
Levi terdiam, "hoh..." hanya itu reaksinya saat ia mengingat pertemuan pertama nya dan Petra, sekarang dia mulai ingat beberapa bagian keping ingatan yang hilang dari mimpinya.
Petra Rall, dia adalah seorang wanita yang tiba-tiba datang dengan wajahnya yang merona merah sambil berkata bahwa dia adalah orang yang bertugas untuk membersihkan unit apartemen milik Levi, padahal Levi tak pernah meminta petugas apapun untuk membersihkan unit apartemennya karena dia sendiri adalah seorang clean freak, dia tidak ingin barang miliknya disentuh oleh orang asing dan disini seorang wanita yang terlihat gugup itu bilang bahwa dia adalah petugas yang akan membersihkan unit apartemennya.
Saat itu Levi langsung paham saat melihat gerak-gerik wanita itu, wanita ini tertarik padanya.
Levi menatap Petra dari atas sampai bawah, wanita ini terlihat 'bersih' dan dapat diandalkan menurutnya, "silahkan masuk" tak ambil pusing Levi mempersilahkan Petra untuk masuk ke dalam apartemennya setelah menatapnya lumayan lama.
Petra menatap sekelilingnya dengan mata yang membulat besar dan mulut yang agak menganga karena terkejut melihat betapa bersih dan terawatnya unit apartemen milik Levi bahkan semua barang disini terlihat berkilau seperti barang baru, jika sudah begini apa lagi yang harus ia bersihkan?
"mulai minggu depan kau mungkin akan sedikit sibuk mengurus apartemen ini karena aku akan jarang berada disini, aku benci debu dan kotoran jadi jangan mengecewakanku atau tidak aku akan mengusirmu langsung dari apartemen ini" Levi menjelaskan seraya mengancam Petra untuk tidak melakukan hal aneh dan hanya melakukan pekerjaannya dengan benar dan baik, jika sudah diingatkan seperti ini seharusnya wanita itu mengerti bahwa Levi paling benci dengan debu dan kotoran apalagi setelah melihat isi unit apartemen ini.
"Baik tuan Levi! saya akan berusaha untuk tidak meninggalkan debu atau kotoran sedikit pun!" Petra membalas sembari membungkuk pada Levi di depannya
Levi hanya diam tak menanggapi dia hanya mengangguk pada Petra kemudian berjalan pergi ke kantor meninggalkan Petra di apartemennya.
Dimulai dari sana cerita mereka berawal.
"bagaimana? apa kau sudah mengingatnya, tuan Ackerman?" suara yang familiar tiba-tiba menyapu segala lamunan Levi, saat ia menoleh benar saja Eren berada di sebelahnya.
Levi bangkit dari ranjangnya dan duduk, dia hanya diam tak menanggapi Eren yang berada di depannya, Eren yang ia 'kenal' sudah tidak ada dia harus mengakui itu, dan yang tersisa sekarang adalah Eren yang akan 'mengurus' nya di realita ini.
Eren menghela, ia kemudian menduduki bangsal Levi, "untunglah kau tampak masih stabil"
Levi masih diam, "jangan berbicara denganku, bangsat" peringat Levi dengan mata yang menatap dingin pada Eren
Mata emerald itu membulat saat mendengar peringatan itu, dengan senyum kikuk Eren menatap ke arah lain, "kau tampak membenciku yaa..."
Levi hanya diam, dia bukannya benci pada Eren di depannya ini namun ini sangat mengganggu dia, setelah sekian lama ia mengenal Eren dia harus menerima kenyataan bahwa Eren-nya tidaklah nyata dan Eren yang sebenarnya adalah dokter penanggung jawab kejiwaan nya, mungkin Levi tak akan bertingkah menyebalkan seperti ini jika dia sama sekali tidak mengenal Eren namun beda cerita lagi karena Eren yang ada di ingatannya adalah kekasih hati nya, mengetahui semua itu tidak nyata membuat Levi benar-benar sangat kesal dengan semua orang apalagi Eren di depan nya ini yang tak mau bicara apapun terkait mengapa 'Eren' yang malah jadi protagonis halusinasinya.
"aku tidak membencimu" Levi membuka suara tiba-tiba
Eren yang mendengar itu langsung menatap Levi di depannya dengan mata berbinar, "benarkah!?"
Levi kemudian menghela, "namun tolong jangan berbicara padaku jika bukan hal penting" lanjut Levi dengan nada datarnya
Eren mengerutkan keningnya heran, "kenapa?"
"jarangkan berbicara melihatmu saja sudah membuatku tak nyaman, kau tahu apa rasanya jika orang yang kau cintai sebenarnya hanyalah halusinasi mu dan kemudian saat kau bertemu kembali ternyata orang itu adalah orang yang sudah melihat ke tidak waras nya diri mu sendiri, itu sangat tidak nyaman" Levi menghela kembali saat mengatakan hal itu, akhirnya dia bisa mengatakannya, "jadi kumohon untuk tidak bicara atau menemui ku lagi jika itu bukan hal yang penting"
Eren menatap Levi dengan tatapan yang tak bisa diartikan, saat Levi menatap langsung mata emerald itu, Levi bisa melihat air mata mulai turun dari mata bagai perhiasan itu, "ahh..." Eren menyapu kasar air matanya dengan lengan jas putih nya kemudian langsung pergi dari bangsal Levi
Levi menatap lekat pada bekas air mata milik Eren yang berada di selimutnya, dengan tangan kanannya ia menyapu bekas air mata itu dengan lembut, "kenapa menangis? harusnya aku yang ingin menangis" gumamnya pelan
***
Eren menatap lantai keramik di bawahnya dengan datar, sedari ia kembali dari ruangan Levi dia terus seperti itu, Jean yang merupakan partner kerjanya hanya bisa menatap heran ke arah karibnya itu.
"oi, Eren" Jean memanggil, membuat Eren menoleh ke arahnya langsung, Jean menggaruk kepalanya yang tak gatal sebelum ia mulai berbicara, "aku tahu ini sulit, tapi mau bagaimana lagi"
Eren yang mendengar Jean berkata seperti itu merasa hatinya mencelos seketika, "JUSTRU KARENA MAU BAGAIMANA LAGI AKU SEPERTI INI KAU TAHU?!" Eren memekik kesal pada Jean, dia sangat kesal sekarang hingga ia meremat erat rambut pendek coklatnya itu, "argh! LEvi menyebalkan!!!" gerutu nya kesal
Jean hanya menghela, "siapa suruh kau jatuh cinta dengan pasien sendiri, sudah tahu gila masih di ladeni"
Eren menatap kesal ke arah Jean yang berada di pantry ruang kerjanya itu, "ya benar! semuanya salahku! kenapa bisa aku jatuh cinta dengan pasien sendiri! dasar aku yang gila!"
Jean memutar matanya malas mendengar Eren, benar, karib se kawan kerjanya itu telah jatuh cinta dengan pasien pertamanya yaitu Levi Ackerman, pria yang merupakan anak dari pemilik Rumah Sakit Jiwa ini, "kau harusnya menjawab saja kenapa tuan Ackerman itu bisa memiliki halusinasi dan cerita sendiri denganmu, lagi pula sebagian besar salah mu juga, kau seperti sedang lari dari tuan Ackerman yang sebenarnya"
Eren menatap Jean dengan pandangan kesal, "itu tak mudah kau tahu! tidak mungkin setelah aku memperkenalkan diriku dengan sangat keren seperti beberapa hari yang lalu pada Levi tiba-tiba mengakui bahwa aku dan dia sudah melakukan ini itu dan hal sebagiannya"
"kau mungkin bisa saja di pecat jika senior Hanji dan tuan Smith tak menutupi ini semua, kau sudah melanggar aturan rumah sakit" Jean membelakangi Eren, ia kemudian mencuci cangkir yang baru saja ia gunakan untuk minum teh, "untung saja tuan Ackerman menunjukkan ketertarikan pada mu sehingga tak ada yang berani mangadukan mu karena para senior menutupi itu semua"
Eren merengut kesal, benar, cerita sebenarnya dari semua halusinasi Levi yang berkaitan dengannya itu sebagian besar merupakan salahnya, karena sebelum mereka bertemu Levi hanyalah pasien yang sudah di diagnosis memiliki Skizoafektif yang belum parah jadi terkadang ingatan asli dan palsu akan bercampur aduk, walau pun Levi merasakan bahwa dia berada di rumah bersama Eren saat itu, sebenarnya hanya lingkungannya yang berbeda, semua hal yang berada di halusinasi Levi benar-benar terjadi di dunia nyata jika berkaitan dengan Eren, "ahhh... Aku sudah gila!" Eren menggerutu kesal
TBC
Gatau kenapa mau publish episode yg ini susah banget dari laptop, padahal udah pake hotspot dari hape 😭😭😭
Jangan lupa di voment nya kakak 🙄🙄
KAMU SEDANG MEMBACA
Schizoaffective (Levi X Eren)
FanfictionWarning ! Read Before Regret. Disclaimer © Hajime Isayama Riren (Rivaille x Eren) FANFICTION / FICTION / FIKSI YAOI HOMO BOYSLOVE oooo Schizoaffective / Skizoafektif adalah gangguan mental dimana seseorang mengalami gejala Skizofrenia, seperti ha...
