Teruntuk Cinta Pertamaku

83 6 0
                                        

Tepat 26 tahun yang lalu, ditanggal yang sama seperti hari ini 30 agustus, pukul 12 malam. Pertama kalinya aku jatuh cinta pada suara merdu seorang lelaki muda. Suaranya parau, terisak menahan tangis haru bahagia. Air matanya dibiarkan terjatuh membasahi pipi yang belum mengering sejak 10 jam yang lalu. Lantunan adzan terdengar cukup merdu hingga mampu membuat perempuan paruh baya itu berhenti sejenak untuk mendengar lantunan ayat suci itu.

Dunia seolah sedang menyambut hari bahagia, gerimis kecil mengguyur bumi ditengah malam yang dingin. Hari itu, hari dimana aku dilahirkan. Pertama kali suara yang kudengar hanya suara itu. Suara yang membuat gendang telingaku merekam jelas memori suara dan menyimpannya di sel memori yang terdalam.

Aku melihat bibir itu tersenyum tipis, sedikit memicing karena takut menggendong daging yang masih lunak sepertiku kala itu.
Suara tangisku pecah dikeheningan malam, dibalik bilik dukun beranak yang tersohor didesaku. Seakan syukurku tiada tara dapat mengisi kekosongan hatinya, bapak.

Begitu aku memanggilnya, tentang laki2 muda yang tiada lelah dalam mengais rejeki untukku dan ibu di rumah. Cinta pertama yang tidak pernah menolak apapun yang kuminta. Satu satunya laki laki yang bersedia berkorban nyawa jika aku menangis karena dilukai oleh orang lain. Karena baginya, nyawaku jauh lebih berharga.

Hari demi hari aku lalui dengan kasih yang teramat dalam dan sayang yang tiada tara. Tak pernah aku merasa kekurangan, banyak teman yang iri padaku yang selalu mendapatkan segalanya darinya. Ia begitu mencintaiku hingga lupa akan dunianya. Lupa akan materi yang dikumpulkan dengan keringat bercucuran, yang dia tau hanya satu hal, senyumku adalah dunianya.

Tapi malam itu, tepat di tanggal 22 februari 2016 silam tepat pukul 20.30 ia pergi meninggalkan sejuta misteri. Membawaku pada kubangan berkabut yang tak pernah bisa ku lalui. Duniaku seakan runtuh, ambruk, tak ada lagi harap pada masa depan. Yang tersisa hanya rindu yang terpisah oleh kematian. Impian2 logis yang mungkin saja bisa kucapai dulu, kini tak lagi menjadi sebuah harap. Hanya sekedar lewat diingatan saja, rasanya ia terlalu malu.

Berulang kali terpikir olehku untuk mengakhiri hidup karena tak mampu menahan beban yang teramat dalam. Memaksa diri untuk tangguh walah sebetulnya lemah.
Tapi pada akhirnya, hatiku kembali kokoh memperjuangkan nyawa yang sudah Tuhan anugrahkan. Aku ingin terbebas dari rasa sakit ini, dari belenggu yang sudah bertahun tahun lamanya menjerat sukmaku.

Aku akam beranjak melewati, melawan, dan mengakhiri segala kepedihan ini dengan cara ikhlas. Karena segala hal sudah digariskan, bahkan sebelum aku dilahirkan.

Untukmu AkhiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang