Selamat malam, Pagi.

63 3 0
                                        

Assalamualaikum, Bapak.
Segala doa dan fatihah tiada henti mengalir membanjiri kuburmu.
Semoga kesejukan dan kebahagiaan selalu menghampirimu di alam yang kini berbeda denganku.

Bapak, aku ingin bercerita tentang pagi. Manusia yang belakangan membuatku berfikir akan sebuah tabir. Bolehkah, pak?

Aku menyebutnya pagi, seperti senja yang mencuat manja dengan segala harapan baru.
Senja yang begitu elok muncul sesaat sesudah adzan subuh pemberi batas waktu antara pagi dan petang.

Bapak, pagi begitu baik.
Ia mengerti bagaimana seorang manusia berTuhan yang semestinya.

Memang betul, dia tak begitu paham agama seperti yang sebelumnya.
Tapi dia mau belajar, pak.
Dia begitu cerdas dengan segala pemikirannya.
Bagaimana mungkin seorang berhati lemah sepertiku mampu menahan kagum yang teramat dalam?

Pagi memang berbeda dengan bapak perihal agama.
Tapi dia sama kerja kerasnya dengan bapak.
Sesekali aku berdoa sama Allah berharap Allah mengerti apa yang kuminta kali ini.
Tak lagi membuat patah karena aku kembali berharap pada ciptaanNya.

Ah tidak pak, aku tak berharap.
Tapi bukankah berdoa sangat di anjurkan?
Bapak, apa betul aku sedang jatuh cinta?
Aku berbincang dengan Allah setiap malam.
Memohon supaya apa yang kurasakan kali ini tak lebih dari sebuah kekaguman.
Meski hatiku sering berdesir dikala dia menyapaku atau bertanya tentang Islam padaku.

Bapak, jika suatu saat pagi melamarku. Apa bapak akan setuju?
Apa Allah juga setuju?
Atau pikiranku ini terlalu jauh?
Aku tertegun setiap kali memikirkan itu, berfikir apakah ini hal yang dibenarkan?
Sedang realita tak mampu ku sembunyikan.
Apalagi pada dzat yang melihat disetiap gelap dan terang.

Apa yang harus aku perbuat, pak?
Aku tengah dirundung gelisah yang tiada tara.
Tentang rasa dan doa.
Tentang prinsip dan argumentasi semata.
Tentang nurani dan logika.
Tentang hukum dan egoisasi.

Bapak, aku jatuh cinta pada non-muslim.

Untukmu AkhiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang