Bab Sepuluh

4.9K 796 111
                                        

"Eh, pengantin baru udah datang aja ke sini." Tegur Rere dengan senyuman manisnya ketika melihat kedatangan Abi dan Gisa ke rumahnya. Saat ini Rere sedang duduk di sofa. Rere memangku sebuah piring dan terlihat sedang menyuapi Leo yang duduk bersila di lantai sambil memainkan jemari kedua bayinya yang berada di atas Bouncer mereka masing-masing.

"Tangan lo kenapa, sampai makan aja harus di suapin?" cibir Gisa, namun dia sudah menghampiri Adel lalu menggendongnya. Gisa memilih duduk di sofa yang lain sambil bermain dengan Adel yang terlihat menggemaskan di matanya. Pipi Adel terlihat putih dan mulus memerah. Begitulah kalau lahir dari dua orangtua yang memiliki kulit seputih susu.

Leo hanya mendengus malas menanggapi cibiran Gisa. Lalu saat dia melirik Abi, senyuman menyebalkan Abi membuatnya ingin melempar wajah sahabatnya itu dengan Bouncer milik Adel. "Ngapain kesini? Nggak capek memangnya?" sindir Leo.

"Capek kenapa?" sahut Gisa.

"Suami lo udah lama puasa, dia nggak mungkin puas dengan angka tiga." Jawab Leo dengan senyuman miringnya.

"Sayang!" Rere memukul bahu Leo dan mencebik pelan. "apa sih kamu ini ngomongnya. Nanti Gisa malu loh."

"Tenang aja, Re," Gisa menatap Leo dengan tatapan malasnya. "tentu aja angka tiga nggak akan cukup buat Abi. Abi kan bukan elo yang sekali main aja langsung capek. Kebanyakan main game memang bisa buat orang kehilangan gairah terhadap manusia. Re, hati-hati, ya." Gisa tidak lupa menghadiahi Leo dengan senyuman manisnya.

Abi tertawa puas, lalu dia duduk di samping Gisa, merangkul bahunya dan mencium pipinya sekilas. "My wife." Ucapnya bangga hingga membuat Leo ingin muntah melihatnya.

Rere malah terkekeh geli dan tersenyum senang melihat mereka berdua. Rasanya dia masih belum menyangka Abi dan Gisa bisa menikah. "Senang banget bisa lihat kalian berdua akur." Kekehnya. Ketika Rere ingin menyuapi Leo lagi, Leo mengerjap lalu melirik pada Abi dan Gisa yang saat ini juga menatapnya, membuat Leo berdehem kaku lalu mengambil alih piring dan sendok dari tangan Rere. "loh?" gumam Rere bingung.

"Aku makan sendiri aja."

"Tadi katanya nggak mau makan kalau nggak disuapin."

Apa yang Rere katakan membuat Abi dan Gisa menahan tawa mereka dengan gelagat menyebalkan hingga Leo menghembuskan napas panjangnya yang lelah. Leo tidak memedulikan sepasang pengantin baru itu, dia hanya kembali melanjutkan kegiatan makannya, sendiri, tanpa disuapi oleh Rere.

Hal seperti memang sering terjadi semenjak mereka menikah, apa lagi semenjak Leo bekerja di perusahaan keluarga Rere. Leo yang sering lupa waktu dan cenderung malas untuk makan kalau sudah larut dengan pekerjaan atau kegiatannya bermain game hanya akan mau makan jika Rere sudah menyuapinya.

"Lo nggak kerja?" tanya Abi pada Leo.

Leo hanya menggelengkan kepalanya.

"Capek katanya, mau istirahat dulu." Sahut Rere. "tapi palingan sebentar lagi juga main game sampai sore." Sindirnya.

"Kan aku udah jarang main game, kamu ngomel terus." Rutuk Leo.

"Kamu pagi sampai sore kerja, pulang kerja masa main game kaya biasanya. Libur juga main gitu, mendingan main game dari pada nemenin aku keluar. Kan sekarang udah ada anak-anak, harus punya waktu buat mereka dong. Kalau main game terus kapan punya waktu main sama anak-anak?"

"Mau main gimana? Mereka tidur terus gitu, belum bisa di ajak main juga."

"Ya kan kamu bisa ajak mereka ngobrol, sayang. Kamu ih."

The Journey (Skuel Tikus Dan Kucing Jatuh Cinta)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang