Bab Dua

5.6K 930 99
                                        


"Nggak mungkin."

Senyuman Abi musnah seketika, digantikan dengan raut tidak terima. "Kenapa nggak mungkin?"

Rere mendengus kasar. "Kamu jangan aneh-aneh, ya, Abi! Aku memang setuju kalau kamu mau balik sama Gisa, tapi menikah? Kamu? Nggak!"

Leo mengangguk setuju. "Walaupun gue nggak suka sama Gisa, tapi dia benar-benar bernasib sial kalau sampai menikah sama lo, cowok sialan yang mungkin udah tidur sama setengah perempuan di Jakarta."

"Anjing!" umpat Abi. "nggak sebanyak itu."

"Lo ML mulai umur dua puluh, sekarang umur lo udah hampir tiga puluh, dalam satu bulan, lo tidur sama cewek minimal tujuh, belum lagi kalau otak lo kebanyakan main di selangkangan, lo bisa ML sampai tiga puluh kali mungkin. Lo juga bukan tipe cowok yang mau tidur berkali-kali dengan satu perempuan yang sama. Jadi, lo hitung aja sendiri berapa banyak cewek yang lo tidurin."

Rere mengangakan mulutnya tak percaya. Kedua matanya melotot ngeri menatap Abi yang hanya mengibaskan tangannya santai seolah apa yang baru saja Leo katakan sama sekali tidka berarti baginya.

"Gue sama Gisa nggak," gumam Abi dengan gaya santainya, dia juga tersenyum tipis saat kembali bersuara. "makanya gue cinta dia."

"Nggak!" protes Rere lagi. Dia bahkan sudah mencengkram lengan Leo dan menatap suaminya tajam, "aku nggak mau ya, sayang, kalau sampai kamu setuju Abi menikahi Gisa."

Satu alis Leo terangkat bingung ke atas.

"Ya, ya aku tahu kalau Abi memang berengsek, tapi...." racau Rere dengan wajah panik. Dia kembali menatap Abi, kepalanya menggeleng berat. "itu banyak banget, Abi..."

Abi menatap sepasang suami istri di depannya itu datar. Kenapa urusan sexnya menjadi sepenting itu oleh mereka? Gisa saja tidak peduli. Lagi pula, itu kan masa lalu, sebelum Abi bertemu Gisa. Lain ceritanya kalau saat ini Abi masih melakukan semua itu. Bisa-bisa Gisa akan menghabisinya.

Menghela napas panjang, Abi menyandarkan punggungnya. "Nggak usah ribet, Gisa udah tahu gimana gue, semua yang ada dalam diri gue, baik buruknya gue, Gisa tahu. Nggak ada satu pun yang gue tutupi dari dia dan Gisa bisa menerima semua itu." Abi menatap Leo lekat. "lo yang paling tahu gimana gue. Hidup gue berantakan, gue... juga berengsek. Tapi, ternyata masih ada perempuan sebaik Gisa yang mau menerima gue apa adanya. Sebagai sahabat gue, apa lo mau gue melewatkan Gisa gitu aja?"

"Gila!" racau Rere, dia tetap menatap tidak setuju pada ide gila Abi meski yang ditatap hanya menyeringai menyebalkan. "aku mau telefon Gisa dan nyadarin dia. Dan kamu," telunjuk Rere mengarah tepat di depan wajah Leo hingga suaminya itu mengernyit. "jangan merencanakan apa pun dengan Abi, ngerti?!"

Karena Leo ingin mencari aman dan sedang tidak mau terlibat masalah, maka dia hanya mengangguk patuh dan membiarkan istrinya beranjak dari tempatnya untuk menelefon Gisa. Leo sudah tahu apa yang akan Rere bicarakan bersama Gisa nanti.

Selepas kepergian Rere, kini Leo kembali menatap Abi lekat. Dia sangat mengenali Abi, bahkan seluruh ide-idel gila yang kerap kali menyinggahi pikiran sahabatnya itu pun bisa Leo baca dengan mudah. Leo juga tahu kapan Abi hanya bercanda dan kapan sedang benar-benar serius.

Menyangkut Gisa, Leo bisa merasakan keseriusan Abi. Tidak ada hal-hal konyol di dalamnya. Masalahnya, masih ada satu hal yang sangat mengganjal menurut Leo.

"Lo tahu menikah itu artinya apa?" tanya Leo, satu alis Abi terangkat ke atas sebagai respon. "menikah, artinya hidup lo bukan hanya milik lo sendiri. Akan ada perempuan cerewet yang berkali-kali memastikan di mana keberadaan lo di setiap jamnya. Kalau lo lupa sekali aja nelefon atau kasih kabar, rumah lo, tempat di mana lo merasa benar-benar berada di surga, akan beralih fungsi menjadi neraka."

The Journey (Skuel Tikus Dan Kucing Jatuh Cinta)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang