"Asal lo serius, gue mau." -Ares.
°°°
"Kalo misalnya kita pacaran, gimana ya?"
Hyunjin tersedak, cepat-cepat tangannya mengambil segelas air dan meminumnya hingga tandas.
"GAK MUNGKIN! GUE GAK MAU JADI PACAR LO! GAK BAKAL MAU!" teriaknya.
Minho malah terkekeh kecil. "Kan misal doang, santai sih."
"Ya tapi bercandanya gak lucu, gue seme ya! Gak bakal mau sama lo," katanya sambil kembali memakan bubur ayam-nya yang mulai mendingin.
Tidak ada jawaban, Minho memilih menuangkan air ke gelas Hyunjin yang kosong itu, kemudian terdiam memperhatikan figur cantik di hadapannya.
"Gue panggil lo Rafa ya," ujar Minho tanpa mengalihkan pandangannya.
Hyunjin mendongak dengan kernyitan di dahinya. "Kenapa Rafa?"
"Gue ambil dari Rafael, singkatnya Rafa. Belum ada yang manggil Rafa, kan?" jelas Minho diakhiri pertanyaan.
"Hmm, bagus. Gue suka namanya." Hyunjin kembali melanjutkan makannya. "Dan gue panggil lo ... Apa ya? Oh, gue kan gak tau nama lo," katanya dengan mulut penuh.
"Kunyah dulu, baru ngomong."
Mendengarnya, Hyunjin hanya mengangguk saja.
Minho sendiri terkikik geli mengingat dia belum memperkenalkan diri dengan baik. Lagi pula menurutnya Hyunjin pasti bakal tau dari orang lain, karena Minho kan cukup terkenal. Kan, mulai sombong dia.
Menonton Hyunjin yang tengah asik mengunyah sama sekali tidak membuatnya bosan, jika bisa Minho mau datang setiap hari ke rumah Hyunjin hanya untuk menontonnya makan. Seperti pagi ini, sekarang hari minggu yang biasanya Minho habiskan untuk tidur seharian, tapi tiba-tiba Hyunjin menelponnya, meminta Minho mengantarnya mencari sarapan. Katanya dia ditinggal sendirian saat sedang tidur. Harusnya sih ada Lucas, tapi entah ke mana kakaknya itu.
"Nanti minggu depan gini lagi ya, asik juga. Temen gue juga di sini belum banyak," ujar Hyunjin.
"Ogah," jawab Minho, meski dalam hatinya sih kegirangan.
"Yah ... Ya udah deh gapapa. Jadi, nama lo siapa?"
Minho mengernyit. "Bukannya udah tau?"
"Siapa? Adhan?"
"Ya gak salah sih, tapi panggil Adhan juga boleh."
Hyunjin mengangguk. "Oke, gue panggil kak Adhan," putusnya. "Sebentar gue ke dapur dulu." Hyunjin mlenggang pergi membawa serta piring dan gelasnya.
Sembari menunggu kedatangan Hyunjin, Minho asik memperhatikan sekitar yang sepi. Maksudnya tidak ada foto-foto Hyunjin semasa kecil, ataupun foto Lucas di dinding. Sebagian besar yang terpajang hanya sebuah lukisan bunga. Apa mungkin orang tua Hyunjin penyuka lukisan, ya?
"Kita ke mana ya? Bosen kalo di rumah terus." Tiba-tiba Hyunjin sudah terduduk di samping Minho.
Minho menoleh. "Hah? Emangnya mau ke mana?"
"Ya ... Ke mana gitu. Yang penting gak di sini."
"Ikut gue yuk."
°°°
Minho mengayunkan kakinya, kemudian menendang kerikil yang kebetulan berada di dekat kakinya. Di depannya, Hyunjin sudah berpindah-pindah tempat membeli apa pun yang dia mau, terkadang pria itu memanggil Minho, menyuruh Minho ikut serta dengannya. Namun Minho lebih memilih unduk terduduk di kursi kayu sambil sesekali memperhatikan Hyunjin di kejauhan.
Dari sini, Hyunjin terlihat bahagia. Senyumnya terus mengembang meski cahaya matahari menyengat kulitnya. Yang penting bisa dapet makanan yang dia mau.
Hyunjin mengulurkan tangannya, namun karena tak kunjung menerima balasan, pria itu memaksa Minho menerima es krim di tangannya yang mulai mencair.
"Kenapa ngasih ginian? Gue gak suka manis," ujar Minho.
"Oh iya ya? Kan gue udah manis. Kalo gitu balikin." Hyunjin lansung saja mengambil kembali es krim yang diberikannya.
"Dasar gak ikhlas."
"Katanya gak suka manis."
"Tapi bukan berarti gue gak mau."
Hyunjin menghela napasnya. "Kan udah gue bilang, gue manis. Kalo mau manis liat gue aja," katanya.
Minho terkekeh kecil, kemudian memiringkan duduknya menghadap Hyunjin. "Mana coba liat, katanya manis."
"Apaan sih, malu diliatin orang." Hyunjin kembali melahap es krim nya, tidak memperdulikan Minho diam-diam tersenyum.
"Rafa ... Pacaran yuk?"
"Uhuk! Bangsat ih! Kalo ngomong gitu jangan tiba-tiba, anjing!"
"Mulai lagi kasarnya. Dahlah." Minho bangkit, kemudian berjalan pergi tanpa memperdulikan Hyunjin di belakang sana yang diam-diam memikirkan ucapan Minho.
Hyunjin masih tetap di tempatnya meski Minho sudah memanggilnya di kejauhan. Pria itu menghela napas, dipikirnya ia juga perlu seseorang untuk membantunya melupakan sang mantan. Namun Hyunjin juga masih punya perasaan untuk tidak menjadikan Minho sebagai pelarian.
°°°
Minho melambaikan tangannya, menunggu Hyunjin berjalan masuk ke rumah, namun Hyunjin malah terlihat enggan beranjak pergi.
"Kenapa? Udah mendung, cepet sana masuk!" titah Minho.
Hyunjin menggeleng. "Sebentar deh."
"Oke." Minho mengangguk.
Cukup lama keduanya berdiri saling bersampingan, Minho tak mengerti kenapa pria di sampingnya ini mendadak aneh. Ya maksudnya mereka kan bisa duduk di kursi, gak harus berdiri.
"Fa? Lo kenapa?"
"Lo ... Gak ada yang mau diomongin sama gue gitu?"
"Ah ... Ketauan ya?" Minho terkekeh kecil. "Lo punya mantan?"
"K-kenapa nanya mantan? Punya."
"Dia gimana orangnya?"
"Kok nanyain mantan sih ... Tapi, dia brengsek," jawab Hyunjin.
Minho mengangguk.
"Lo kenapa nanyain mantan?"
"Hari ini gue udah 2 kali bilang. Ini terakhir kalinya, kalo gagal lagi gue mundur," ujar Minho yang membuat Hyunjin mengernyit bingung. "Gue suka sama lo, mau jadi pacar gue?"
Bukannya menjawab, Hyunjin malah terdiam. Matanya menatap Minho dalam, seolah mencari ketulusan di sana.
"Gue ... Kita baru kenal loh ... Tapi lo serius? Gue gak mau lo nanti kaya mantan gue yang itu, nanti lo brengsek kaya dia, ninggalin gue tiba-tiba. Gue gak mau." Hyunjin menggelengkan kepalanya, seolah berusaha menyingkirkan ingatan tentang mantannya itu.
"Gue janji, Fa."
"Beneran?"
"Iya."
"Ya udah ayo. Ayo kita pacaran."
[4 Oktober 2020]
Cut!

KAMU SEDANG MEMBACA
I'm Serious || Hyunho
Fanfiction"LO GAK SERIUS YA BANGSAT!" "Gue kurang serius apa lagi? Demi lo bahkan gue rela putusin 3 pacar gue yang lainnya." ⚠️Warn! BxB Boyxboy Boyslove ©darkiestxs