Chapter 6

572 98 17
                                    

Sifra Maree Victoria

Sudah beberapa hari semenjak percakapan terakhirku dengan Pangeran Jungkook. Dan kali ini, kami dipertemukan lagi. Tanggal pernikahannya sudah ditetapkan dan hanya tersisa dua pekan saja.

Meski sebenarnya aku tidak suka berada dalam satu ruangan yang sama dengan Pangeran Jungkook, tapi setidaknya saat aku dengannya, aku tidak harus bertemu dengan instruktorku atau Bibi dari Pangeran Jungkook, yaitu Lydia.

Dia menyebalkan.

“Senang bertemu denganmu lagi, Sifra.”

“Ya, aku juga.” Jawabku singkat.

Pangeran Jungkook mengangguk, sementara aku memalingkan pandanganku karena aku tidak ingin menatapnya.

Tapi ternyata, ketika aku kembali menoleh padanya, dia masih menatapku. Aku menaikkan alisku. “Apa?”

“Tidak ada,” katanya. Kemudian dia mendekat dan menggenggam tanganku serta menyelipkan jemarinya. “Tidak terasa, pernikahan kita sebentar lagi. Akan terdapat cincin di jarimu nanti sebagai tanda kau sudah menjadi istriku.”

Aku berusaha melepaskan genggaman tangannya. “Bisakah kau lepaskan?”

“Kenapa?”

“Tidak apa-apa. Lepas saja.”

Dia menggeleng. “Tidak bisa. Aku tidak pernah menyentuhmu dan aku akan menunggu hingga hari pernikahan kita tiba. Dan yang bisa kulakukan adalah menggenggam tanganmu.”

Aku memutar bola mataku.

Pintu Guest Room pun terbuka dan memunculkan Yang Mulia Ratu, Lydia dan Charles serta Putri Katherine.

Mereka berkumpul dan mendekat padaku dan Jungkook.

Yang Mulia Ratu mengatakan, “oh, astaga, kalian semakin dekat dengan satu sama lain, ya. Ini bagus. Pernikahan kalian juga akan segera diselenggarakan.”

Mau tidak mau, aku hanya bisa memaksakan senyum tipis saja sembari berdoa agar semua pertemuan ini segera berakhir.

Hari ini, kami hanya perlu memilihkan souvenir untuk para tamu undangan yang datang.

“Jadi, Sifra, souvenir seperti apa yang kau inginkan?” tanya Yang Mulia Ratu padaku.

Aku terkejut. “Um, souvenir? Memangnya harus, Yang Mulia?”

“Astaga. Kau akan menikah dengan penerus kerajaan. Tentu saja souvenir itu perlu. Itu saja tidak tahu.” Ujar Lydia sembari memutar bola matanya.

Ugh, benar ucapanku, bukan? Dia memang menyebalkan.

Pangeran Jungkook berbisik, “biarkan saja. Kau pilih souvenir apa yang kau inginkan.”

Aku menatap matanya. “Aku tidak tahu. Kau maunya apa?”

“Entah. Ya sudah, itu biarkan menjadi urusan wedding organiser nanti.” Katanya, lalu dia mengatakan pada Yang Mulia Ratu, “ibu, aku akan mengajak Sifra berbincang dulu, ya. Ibu bisa pilihkan souvenir apa yang cocok di hari pernikahan kami.”

“Oh, baiklah, anakku.”

“Alright. Let’s go, ma chérie.”

Dengan itu, Pangeran Jungkook membawaku pergi meninggalkan Guest Room dan kami kembali berjalan di sepanjang koridor.

Aku melepaskan tanganku dengan paksa.

Pangeran Jungkook mengerutkan keningnya. “Sifra,”

“Apa?”

HARD TO GET PRINCESSTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang