Delapan belas - Kenangan yang tak ingin dikenang

139 21 6
                                        

Sekarang Nayeon sedang berada dikelas dikerumuni semua teman-temannya, mereka meminta klarifikasi kenapa Nayeon bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan cerdas cermat dengan cepat dan benar?

"Jujur sama gue, lo nyontek, ya?" tanya Momo, Nayeon tertawa dan menggelengkan kepalanya "Jangan ketawa, gue serius"

"Emang gue keliatan kaya becanda?" –Nayeon

"Sumpah gue masih bingung ini, gue aja yang nilainya kadang lebih bagus daripada lo terus belajar buat cerdas cermat hasilnya gak gini gini banget" –Dahyun

"Apa jangan-jangan selama ini lo bohongin kita?" –Sana

"Bohongin gimana, San?" –Jihyo

"Iya, lo cuma pura-pura bego padahal sebenernya lo pinter banget. Tapi gue masih gak percaya" –Sana

"Kebanyakan nonton drama, lo" –Chaeyeong

"Tapi bisa juga sih, apa bener, Nay?" –Tzuyu

Nayeon terdiam, ia tersenyum lirih. Ia jadi mengingat dulu pada saat SD dan SMP selalu menjadi juara umum dan paling pintar disekolah, semuanya Nayeon lakukan untuk membuat Ayah dan Ibunya kembali seperti dulu, menghawatirkan Nayeon dan selalu ada disamping puterinya. Haruskah Nayeon menceritakan semuanya pada sahabatnya? Tapi untuk apa? kenyataannya pun kedua orang tuanya tidak peduli.

"Nay, jawab kita" –Mina

Nayeon hendak menjawab, namun sebuah suara membuat semua murid menatap seseorang yangbaru saja datang "Kalian tidak dengar? Sekarang kumpul dilapang, cepat kesana" ucap Chanyeol, Nayeon merasa lega karena gurunya itu datang diwaktu yang tepat, ia masih belum bisa menceritakan mengapa Nayeon menjadi seperti ini.

"Aih, Bapak sejak kapan disini?" -Jeongyeon

"Sejak kalian terus mengobrol, cepet ke lapangan" –Chanyeol

"Iya, iya. Ayo kita ke lapang" –Jihyo

"Untuk Nayeon jangan dulu keluar, ada yang mau Bapak bicarakan" –Chanyeol

"Jangan lama ya, Pak." –Momo, semua anak twice keluar dan tinggal Nayeon dan Chanyeol berdua

"Kenapa, Pak?"

Chanyeol menepuk kepala Nayeon lembut membuat Nayeon membulatkan kedua matanya "Anak pintar, Bapak tidak salah memilih kamu menjadi kandidat cerdas cermat"

Nayeon menepis tangan Chanyeol dengan pipi yang entah mengapa rasanya seperti terbakar "Apaansi, Pak. Kayak anak kecil"

"Sebagai hadiah, Bapak akan traktir kamu makan besok. Bagaimana?"

"Makan?" Chanyeol menganggukan kepalanya sambil tersenyum, kenapa ada yang aneh dengan Nayeon? kenapa ia malah berdegup ketika melihat senyuman guru yang dulu selalu bertengkar dengannya?

"Besok, habis acara ulang tahun"

"Boleh, traktir kan ya?"

Chanyeol tertawa "Traktir"

"Okey" Nayeon tersenyum "Nayeon ke lapang dulu, Pak." Chanyeol tersenyum dan mengangguk, Jinyoung yang berada dibalik dinding kemudian berlari dan bersembunyi. Baru saja ia ingin meminta maaf pada Nayeon karena sikapnya yang terlalu kasar selama ini dengan mengajaknya makan, tapi ia terlambat. Sebenarnya ada apa? kenapa Nayeon dan Pak Chanyeol begitu dekat? Jangan bilang mereka saling menyukai? Fikir Jinyoung, ia menggelengkan kepalanya dan menghilangkan fikiran-fikiran tidak masuk akal itu.

"Murid-murid yang Bapak cintai dan sayangi, tak terasa acara sudah selesai dilaksanakan. Bagaimana? Kalian senang? Atau lelah?" –Baekhyun

"Lelah, Pak" teriak salah satu murid

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Oct 26, 2020 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

found youStories to obsess over. Discover now