12--the roses that spread wounds

58 11 85
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.





Saat jalan setapak yang ia gunakan untuk kembali itu telah hilang——tertumpuk semak belukar yang begitu tajam, menjebak, menyakiti. Hingga akhirnya menyerah dalam rasa sesal. Setelah banyak pengorbanan yang telah ia berikan, di saat semua perasan cinta di hatinya telah di berikan seutuhnya pada sang puan. Memimpikan sebuah kehidupan bahagia yang membuat jantung nya berdegup tak karuan.

Namun, seketika impian itu runtuh bersama dengan dunia nya yang hancur menjadi kepingan terkecil, maka hanya ada satu hal yang dapat jeon Jungkook genggam sebagai semangat hidup nya. Kendati jiwa nya serasa ikut mati bersama dengan harapan hidup nya. Namun semua kenangan yang terus berputar pada kotak memori bagai kaset yang rusak itu membuat raga nya tetap tinggal, mencoba bertahan. Dan entah sampai kapan.

Udara malam itu serasa dapat membunuh jeon Jungkook secara perlahan, rasa dingin yang seolah menyayat tubuh nya. Dengan segumpal rasa amarah juga bingung yang terperangkap di dalam kotak memori membuat Jungkook tak dapat terlelap damai bersama alam mimpi.

"sebenarnya apa yang di telah di sembunyikan hwara dariku?"

Pemuda itu bergumam sendiri bersama dengan kepala nya yang semakin kacau. Tak menemukan barang setitik cahaya terang, pemuda itu bahkan kembali mengingat perkataan yang di ucapkan ibu hwara sore tadi,

"bisahkan aku memohon satu hal padamu?"

Mengangguk patuh, jeon Jungkook dengan segala rasa penasaran nya hanya bisa mengikuti alur yang telah tercipta.

"bisahkan kau menjauhi hwara?
Pergi dari kehidupan nya, dan jika bisa..jangan menampakkan dirimu lagi di hadapan nya. Hanya itu, bibi sangat mohon kepadamu,nak."

"kenapa? Kenapa bibi min begitu memohon padaku untuk menjauhi putri nya, padahal dia tahu jika aku dan hwara telah bersama sedari kecil. Bahkan kami tak bisa dipisahkan barang sejengkal pun."

Mengeratkan rahang nya, jeon Jungkook mulai terbawa emosi saat teka-teki yang begitu banyak pada kepalanya semakin membuat nya bingung setengah mati.

Tak ada jalan keluar..

Apa yang harus kulakukan?

Namun, hingga detik ini kepalanya masih terasa kosong dengan berbagai pertanyaan yang membuat nya hendak membenturkan kepalanya sendiri ke tembok hingga hilang ingatan. Mungkin itu yang terbaik, namun alih-alih melakukan hal bodoh yang dapat menyusahkan banyak orang nanti nya, jungkook malah mendongakkan kepala—— menatap ke arah langit juga sesekali melihat ke arah balkon di seberang rumah nya. Tak lama, Jungkook terkesiap kala ruangan di seberang sana yang tadi nya gelap tiba-tiba menjadi terang, di susul dengan suara kunci yang di putar dengan perlahan, lalu di sekon kemudian iris rusa nya menemukan sang gadis berjalan santai dengan mantel hangat yang menyelimuti tubuh mungil nya.

Sementara gadis di seberang sana ikut terkejut kala menemukan jeon Jungkook berdiri selurus dengan nya tepat di seberang balkon kamar nya, menggunakan kaos putih tipis. Bahkan gadis itu nyaris memekik kencang——entah terkejut karena mengira jeon Jungkook adalah setan, atau panik melihat sang pemuda yang hanya mengenakan kaos tipis padahal salju tengah turun lebat dengan angka suhu -2 derajat menyelimuti Seoul malam itu.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: May 10 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Evanescent Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang