Delapan Belas

40 3 0
                                        

Setelah menghabiskan waktu hampir satu jam untuk sekadar klarifikasi pada Moza, akhirnya kini Hara terbebas. Rupanya cukup menghabiskan energi juga. Kedua bola mata gadis itu tampak bergerak gelisah, melirik ke kanan dan kiri, berusaha mendeteksi kehadiran pria yang menjadi penyebab klarifikasi panjangnya tadi.

"Mencari siapa, Nona?"

Hara menoleh dengan dengusan sebal. "Salahmu, nih, aku jadi harus jelasin panjang lebar ke Moza," keluhnya.

Sedangkan Rafael hanya menampilan deretan giginya yang rapi. "Kau tidak bilang ingin merahasiakannya," ujarnya membela diri.

Hara membuang muka, bibirnya ia majukan beberapa senti ke depan, namun tak lama kemudian ia kembali menatap sang pria. "Ada rencana apa hari ini?" tanya gadis itu semangat.

Rafael mengernyit. "Tampaknya tidak ada, kenapa? Apa yang ingin kau lakukan hari ini?" tanyanya balik.

Hara tersenyum. "Aku dengar di dekat perkotaan, ada taman bermain yang baru dibuka bulan lalu," ceritanya.

"Mau ke sana?" tanya Rafael yang memahami arah pembicaraan mereka.

Senyum Hara semakin melebar. "Kau mau?" tanyanya balik.

Rafael mengangguk. "Ayo. Kembalilah ke kamar untuk bersiap. Pakai pakaian yang sedikit panjang, takut udara semakin dingin nanti malam. Aku tunggu di depan," ujarnya panjang lebar.

"Oke!" jawabnya semangat.

***

Rafael mendengus lelah. Sungguh, bukan ini yang ia harapkan. Kencan pertamanya bersama Hara nyaris berjalan lancar hingga mereka bertemu dengan pasangan gila yang memaksa ikut. Pria itu tentu saja menolak dengan keras, namun apa boleh buat, ia memiliki mate dengan hati sebaik Hara. Gadis itu dengan cepat menyerah, ia memperbolehkan Moza dan si gila Atlas untuk ikut ke taman bermain.

Dan di sinilah mereka berada. Di dalam mobil yang Rafael pinjam dari Profesor Zach, mengingat para penyihir tidak memiliki kecepatan berjalan sama seperti werewolf. Sudah 20 menit berkendara dan Rafael mulai muak dengan situasi di mana Moza terus berceloteh--menceritakan kisah cintanya bersama Atlas yang cukup membuat Rafael hendak muntah. Parahnya lagi, Hara bukan duduk di sebelah pengemudi, melainkan ditarik Moza duduk bersamanya di belakang, sehingga Rafael harus menahan diri dengan duduk di depan bersama Atlas.

"Jadi, kau tidak boleh mencari pasangan hanya bermodalkan tampang saja. Kepribadian juga penting, tahu. Kau lihat Atlas, sudah tampan, baik lagi. Paket lengkap!" celetuk Moza mengakhiri ceritanya.

Rafael mengernyit dengan kaki yang masih menginjak pelan gas. "Maksudmu? Memangnya ada apa dengan kepribadianku?" tanyanya sedikit dengan nada tersinggung.

Moza berdecih. "Kenapa kau pede sekali bahwa yang bermasalah adalah kepribadian, dan bukan tampangmu?" tanyanya sinis.

"Jelas. Satu hal yang paling kuyakini adalah wajahku. Jadi, sudah jelas tidak akan ada masalah dengan wajahku, Dan tentunya, kepribadianku juga." Rafael menepuk dada bangga, lalu menyisir poni rambutnya ke belakang--menampilkan sifat sombong.

"Hm, memang tidak ada yang salah dari kepribadianmu, hanya saja sedikit ... kasar? Dan sombong," kata Moza tanpa takut.

Rafael mengernyit. "Aku tidak kasar. Hanya saja untuk apa aku bersifat lembut pada wanita selain Hara? Tidak penting," ujarnya ketus.

"Tuh kan. Langsung terbukti. Singkat, padat, kasar. Tidak seperti pacarku, ia sangat baik hati dan ramah," puji Moza seraya menatap mesra Atlas, yang dibalas ekspresi konyol khas Atlas.

"Gaya bicaramu seolah sudah berpacaran berpuluh tahun, padahal baru juga tiga bulan lebih," celetuk Rafael malas.

"Tiga bulan itu juga pengalaman, tahu!" balas Moza tak terima, "Masih mending kami sudah tiga bulan lebih, dari pada kalian belum tentu, tuh, bisa sampai tiga bulan."

Rafael langsung menginjak rem, dan berbalik menghadap Moza dingin. "Jangan bicara sembarangan," katanya dengan nada berat.

Moza kaget dan sedikit takut. Ia mendekatkan tubuhnya ke arah Hara, bermaksud meminta pertolongan dan sedikit pembelaan. Hara menelan ludah, bingung harus bertindak bagaimana, kemudian matanya tak sengaja melihat wujud bianglala dari jauh. Kedua sudut bibirnya terangkat.

"Sudah mau sampai!" serunya sambil menunjuk bianglala itu. Jujur, ia sudah sangat lama ingin mencoba bianglala.

Rafael berdeham. Suasana hatinya kembali membaik setelah melihat senyum Hara. Ia ikut tersenyum, lalu kembali menjalankan mobil.

Benar saja, hanya butuh waktu 5 menit untuk sampai. Untungnya, hari ini taman bermain tidak terlalu ramai, hanya ada sedikit manusia. Mungkin karena bukan akhir pekan. Begitu Rafael mendorong tuas ke huruf P, Hara dan Moza langsung keluar dari mobil--terlalu antusias. Hara menatap sekeliling taman bermain dengan rasa semangat yang meledak-ledak.

"Hara?" Panggilan dari suara yang cukup asing itu sukses membuat Hara berbalik. Kedua bola matanya membulat sempurna, disusuli senyuman tipis.

"Luna Ranya, Alpha Xander," panggil Hara dengan nada senang.

"Kau ke sini juga?" tanya Ranya mendekati Hara cepat. Ia memeluk gadis yang sudah seperti saudarinya itu dengan erat--sudah cukup lama mereka tidak bertemu.

"Iya, Luna. Aku datang bersama teman-temanku dan ...."

"Aku." Tiba-tiba Rafael menyeletuk sembari keluar dari mobil. Ia menampilkan wajah tengilnya, sengaja menggoda Xander yang menatapnya tajam. "Apa?" tantangnya.

Xander mendengus. "Tidak berubah dari dulu. Dasar bocah," ujarnya pelan.

Tentu saja Rafael mendengarnya, namun tidak ia hiraukan. Pria itu sudah tahu sifat pasangan dari kakaknya itu.

"Tumben sekali, berdua saja?" tanya Rafael sekadar basa-basi, namun siapa sangka jawaban berikutnya cukup membuatnya terdiam.

"Ada Yerikho juga."


~To be continue
.
.
.


Aloha, semua! Nyaris sudah 2 tahun nggak update. Maafkan aku! Terima kasih untuk yang masih mau menunggu. Cerita ini akan aku tamatkan segera. Mohon dukungannya terus, ya, terima kasih!

Sampai jumpa di bab selanjutnya.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jan 19 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

She is My MateTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang