Bunyi klakson dari mobil satu dan lainnya silih berganti, mereka seolah menyuarakan kelelahan menunggu kapan kemacetan ini akan terurai? Seharusnya, ia ikut saran mamanya untuk berangkat kemarin, sebab seminggu sebelum lebaran seperti ini dipastikan jalanan ke arah rumah neneknya macet. Ia adalah Ribas, pria tiga puluh tahun yang masih melajang meski di usia matang.
Mudik adalah bagian dari rencana lebaran tahun ini. Ya, bagian lain selain liburan di rumah nenek bersama keluarga besar, juga karena rencana perjodohan dengan seorang perempuan yang tak dikenalnya. Orang tua dan orang tua si perempuan telah menyetujui jika Ribas tahun ini akan dinikahkan pada Monica, kabarnya ia adalah seorang gadis keturunan melayu yang cantik.
"Persetan dengan wanita cantik! Nyatanya sama saja, Wina, Melanie mereka cantik tapi, berhati busuk." Ribas mengoceh sambil terus menekan klakson.
Setelah dua jam lebih terjebak macet, akhirnya kendaraan mulai bisa berjalan lancar. Kendaraan warna gelap itu melaju lancar keluar dari tol dan melewati perbatasan kota. Matahari sudah turun ke peraduan dan memutuskan untuk istirahat sejenak di pengisian bahan bakar yang mempunyai mushola. Ribas membawa tasnya keluar dari mobil untuk membersihkan diri, berbuka dan salat. Sesederhana itu rencana Ribas sore ini namun, kenyataannya berbeda.
Toilet umum di pengisian bahan bakar hanya terdapat dua, tidak ada gender yang memisahkan mana toilet perempuan dan lelaki, kedua ruangan itu tertutup artinya tengah dipakai orang. Ribas menunggu dengan sabar, hingga pintu terbuka dan ia bergerak masuk, akan tetapi tubuhnya ditarik keluar dan justru digantikan oleh orang lain.
"Sorry, Pak! Aku kebelet banget!"
"Hei, aku sudah nunggu dari tadi!"
"Sorry, Pak! Aku udah enggak kuat!" seru suara perempuan tengah membuang hajat besar.
Ribas risih dengan suara yang ditimbulkan toilet warna silver pun menepi sambil melihat sekitar. Tak berapa lama, pintu kedua terbuka dan ia bisa membersihkan diri tanpa harus menunggu toilet satunya selesai dipakai. Ribas mengenakan baju koko biru tuanya lalu membuka bekal yang dibawanya dari rumah, setelah selesai keluar menuju tempat wudhu kemudian salat.
Selesai salat maghrib, Ribas melipat sajadah dan masuk ke dalam mobil, tapi tangannya ditahan oleh seseorang.
"Bapak tujuannya ke mana? Apa melewati jalan Dharma? Boleh aku menumpang, Pak? Aku ditinggal bus travel padahal hanya buang hajat sebentar. Uangku tidak cukup—"
"Melewati, tapi maaf, aku—"
"Sebentar, Pak aku belum selesai. Jadi, uangku sudah buat beli tiket bus, enggak ada uang lagi. Boleh, ya, aku menumpang sampai sana aku bisa jalan kaki kok."
"Tidak."
"Aku bisa duduk di belakang kok," kata perempuan berkacamata tanpa kerudung.
"Tidak. Ada barang-barang di sana," kata Ribas.
"Bisa dipindahkan ke bagasi bukan? Aku bantuin, deh. Atau aku bisa duduk di jok, tubuhku kecil muat kok."
"Kau bisa pakai ini untuk naik bus, ini bukan utang, pakai saja."
"Tidak, tidak. Aku tidak mengemis, hanya mau menumpang saja kok." Perempuan bercepol itu meminta.
"Baiklah. Di jok belakang."
Jok belakang mobil Ribas memang dipenuhi dengan dua koper besar, bagasi sudah penuh oleh-oleh untuk keluarga besarnya. Si perempuan menata jok belakang hingga muat dirinya untuk menumpang. Ribas terkejut jika perempuan asing itu sangat cekatan dan mempunyai ide-ide yang tak dipikirkannya. Dia duduk memeluk tas ransel besar hitam sambil memejamkan mata.
KAMU SEDANG MEMBACA
Asterin ✓
RandomKumpulan cerpen dengan berbagai kisah. Isinya mungkin hanya barisan kata sederhana, semoga bisa memperoleh petuah untuk kehidupanmu. Check this out! ^^ 25.11.2020
