Vote sebelum membaca ya! Happy reading
.
.
.
Sepasang kaki mungil berlarian menginjak pasir pantai. Anak perempuan itu tampak begitu riang, gaun selutut yang ia kenakan telah basah di bagian bawah. Hanya sedikit saja, tapi tetap saja basah. Ia membiarkan rambut hitamnya berantakan ditiup angin laut, hembusan ombak menggelitik telapak kaki mungilnya lalu butir-butir pasir tersangkut di sela kukunya. Langkah kaki mungil yang tak berhenti berlari, membuat sepasang telapak kaki dewasa itu mengejar.
"Seulgi! Sudah lima belas menit. Kita pulang. Tepati janjimu oke!"
Mendadak dia berhenti berlari. Wajahnya ditekuk ke bawah dengan bibir tipis yang mengerucut lucu. Lima belas menit yang berharga. Ah tidak, dia tidak boleh berpikir demikian. Bukankah jika dia pulang ada yang lebih berharga lagi untuk ditemui.
"Apa tidak masalah Seulgi membawa pasir dan air dari pantai?"
"Untuk hadiah? Tentu saja boleh nona muda"
.
Perempuan itu tersentak. Kepalanya pening seketika, rasa pusing mendera namun tangannya tak dapat menyentuh bagian kepala. Ia mendesah kesal. Setelah di kursi roda kini ia terikat di atas kasur. Dengan posisi terduduk, Seulgi menatap sekeliling ruangan. Entahlah kenapa pandangannya tiba-tiba mengarah pada botol kaca berisikan pasir di sela-sela dinding dengan rak. Tidak ada air disana. Sudah mengering?
-
Tak henti-hentinya Jimin merutuki dirinya. Ya Tuhan. Seharusnya dia lebih waspada lagi. Orang pertama yang Jimin hubungi adalah Irene. Suara serak wanita itu tertahan kala Jimin bertanya cepat padanya.
"Apa Sehun bersamamu?"
Ya.
Satu-satunya yang terpikir oleh Jimin adalah Sehun. Sayangnya jawaban Irene membuatnya merasa lemas. Bahkan dalam waktu kurang satu menit dia mendengar suara lantang Sehun dari seberang sana.
"Aku baru saja dari tenda pengungsian. Ada apa Jimin?"
"Tidak ada. Apa Ravi menghubungimu?"
"Ayah? Kau menghubunginya? Ponselnya kubawa kemari."
Alis Jimin berkerut. Oke. Kebiasaan Sehun sejak lama. Dia tahu itu. "Baiklah. Kumatikan panggilannya."
"Jimin. Tolong katakan pada Ayah aku akan kembali lebih lama dari rencana."
"Heum."
Dia mematikan panggilannya. Sekarang Jimin telah berada di dalam kereta express. Ya Tuhan. Tidak bisakah membuat perjalanan kali ini lebih cepat. Dia benar-benar membutuhkan kendaraan pribadinya untuk mencari Seulgi.
"Seokjin! Aku kehilangan seseorang. Bisa kau bantu aku mencarinya? Dua jam lagi aku akan tiba di rumah."
Hanya itu yang Jimin bisa lakukan. Ia tak bisa menahannya lagi, air mata tumpah seketika.
"Seulgi kenapa kau tidak kembali? Kau dimana sayang?"
-
Dua jam di dalam kereta express. Selama itu juga Jimin merasa tubuhnya terus menerus dihujani paku tajam. Sekarang paku-paku itu memenuhi tubuh membuat kaku dan kesulitan bergerak.
Supir pribadi telah siap menjemput di stasiun kereta. Bukan segera masuk ke dalam mobil.
Bugh
Jimin melayangkan tinjunya pada pemuda yang lebih tua itu. "BRENGSEK!" teriakan kencangnya berhasil mengundang perhatian orang-orang sekitar. Sementara Taeyong, pria itu menahan perih di wajahnya. Pukulan telak Jimin berhasil membuatnya tersungkur. Tapi dia menyadari kesalahan kali ini. Nona muda mereka menghilang karena kelalaiannya. Sudah tentu tuan besar mereka akan sangat murka.
KAMU SEDANG MEMBACA
𝙇𝘼𝘿𝙔 𝙍𝙊𝙎𝙀 [𝙈] ✔
FanfictionSeorang bos ambisius yang memaksa sang sekretaris untuk menikah dengannya guna menghindari deportasi dan memenuhi hasratnya yang terpendam. Di samping itu, masalah mulai berdatangan setelah memori masa lalu sang sekretaris muncul perlahan-lahan ke...
![𝙇𝘼𝘿𝙔 𝙍𝙊𝙎𝙀 [𝙈] ✔](https://img.wattpad.com/cover/248099649-64-k281527.jpg)