Chapter 09 : a boy who in love

426 60 0
                                    

When someone is in love, they look through rose-tinted glasses. Everything's wonderful. They transform into a soft teddy bear that's smiling all the time.

Ketika seseorang sedang jatuh cinta, mereka melihat melalui kacamata berwarna mawar. Semuanya indah. Mereka berubah menjadi boneka beruang lembut yang selalu tersenyum.

.










Setelah kekacauannya sudah reda, secepatnya keadaan kembali seperti semula dan dengan cepat mereka semua melupakan kejadian tadi dengan tarian yang meriah.

Hermione masih berbicara dengan Ron sambil tertawa. Harry dan Wednesday berdiri diantara banyaknya orang disana.

"Eum.. Astronomi?" Tanya Harry tiba-tiba.

Sebuah pertanyaan yang agak canggung tapi formal. Itu pertanyaan yang biasa dibahas oleh murid-murid yang sedang dekat atau akrab mungkin, menanyakan soal pelajaran apa saja yang mereka ambil yang mungkin saja ada diantaranya yang sama.

"Sejarah," jawab Wednesday. Ekspresi Harry agak kaget—dia terkekeh sedikit begitu juga Wednesday yang bingung tapi dia langsung menjawab, "Aku memang agak kuno," dengan memaksa tertawa pelan.

Yah, siapa sih murid yang mau ambil pelajaran Sejarah Sihir? Dengan Professor Binns—satu-satunya guru hantu, dan pastinya semua siswa akan tertidur pada jam kelasnya.

"Jadi apa yang kamu-?"

"Pertahanan terhadap ilmu hitam, tentu saja," jawab Harry. Matanya masih tidak lepas dari Wednesday yang padahal telah memandang sekitar. "Ngomong-ngomong aku belum sempat bertanya siapa namamu," Harry baru ingat kalau selama ini dia hanya tau nama gadis itu adalah Miss Rosier. Hanya sebatas itu.

Wednesday menoleh kembali dan tersenyum, "Oh, Wednesday," katanya.

Nama yang unik—pikir Harry. Harry tadinya sempat menebak mungkin namanya akan Violet atau Eleanor atau apapun itu yang terdengar familar di telinganya. Namun rupanya dia salah. Harry mengeryit.

"Nessie, mereka biasa memanggilku Nessie saja agar lebih mudah," kata Wednesday lagi.


Wednesday sekarang mendengarkan Harry dengan saksama. "Jadi kenapa memilih pertahanan terhadap ilmu hitam?"

"Karena kupikir Professor Lupin yang terbaik tahun ini, dan dia guru yang paling dekat denganku selain Professor Dumbledore,"

"Ilmu apa yang kau pelajari darinya?"

Harry menjelaskan, "Kau tahu—serangan Dementor, bahkan saat Quidditch, dan yah, kupikir aku membutuhkannya. Dia bilang aku butuh belajar mantra pengusirnya,"

"Dan dia mengajarimu mantra pengusirnya," Wednesday menyuarakan asumsinya.

"Yeah, dia mengajariku mantra pengusirnya, Patronus, itu sebutannya," kata Harry. "Dan bagaimana denganmu? Apa yang kau dapatkan dari kelas sejarah sihir?"

Wednesday sedikit terkekeh dan menunduk setelah meneguk minumannya, "Sebetulnya membosankan, tapi aku selalu terpaku pada materinya dengan serius,"

"Jadi... Berapa banyak yang tidak tertidur di dalam kelasnya selain kamu?" Harry membuat sedikit candaan.

"Tiga.. atau mungkin dua, atau tinggal aku sendiri pada akhir pelajaran?" Keduanya tertawa pelan.

Hanya sedikit orang yang tetap di pesta sekarang. Meja sudah kosong—makanannya pun sudah habis. Mangkuk dan gelas dikeringkan hingga habis isinya.

"Pestanya sudah resmi selesai!" kata Hermione. Ron mengajak Harry untuk kembali ke asrama, dia menariknya dan sebelum itu Wednesday menahan tangannya lebih dulu untuk berpamitan.

Hiraeth [Harry Potter FanFiction]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang