Things we can't see affect our lives much more than we think.
Hal-hal yang tidak dapat kita lihat memengaruhi hidup kita lebih dari yang kita pikirkan.
.
Harry nyaris tak bisa tertidur tenang di dalam menara asrama Gryffindor kalau dia terus menerus membayangkan wajah Wednesday diatas sapu terbangnya yang hampir membuat Harry mengikhlaskan Snitch untuknya.
Sementara Wednesday merasa permainan Quiddicth nya cukup bagus, bahkan Marcus Flint sendiri memuji kehebatan terbangnya. Karena itu, Wednesday akan selalu dijadikan pemain cadangan atau mungkin mulai masuk anggota tim Quiddicth Slytherin kalau Malfoy tidak juga membaik.
Profesor Lupin belum ada ketika anak-anak Hufflepuff dan Slytherin tiba untuk mengikuti pelajaran Pertahanan terhadap Ilmu Hitam bersamanya. Mereka semua duduk, me-ngeluarkan buku, pena bulu, dan perkamen mereka, dan sedang mengobrol ketika akhirnya Profesor Lupin masuk.
Lupin tersenyum samar dan menaruh tasnya yang butut di atas meja guru. Dia masih sama lusuhnya seperti sebelumnya, tetapi sudah tampak jauh lebih sehat daripada waktu di kereta api seakan dia sudah makan cukup banyak.
"Selamat sore," katanya. "Silakan masukkan kembali semua buku kalian ke dalam tas. Hari ini kita praktek. Kalian hanya akan perlu tongkat."
Anak-anak menyimpan kembali buku-buku mereka sambil bertukar pandang ingin tahu.
"Baiklah," kata Profesor Lupin, ketika semua sudah siap, "ayo, ikut aku."
Bingung, tapi tertarik, anak-anak berdiri dan meng-ikuti Profesor Lupin meninggalkan kelas.
Dia membawa mereka menyusuri koridor yang kosong dan membelok di sudut. Dia membawa mereka menyusuri koridor kedua dan berhenti, tepat di depan pintu ruang guru.
"Silakan masuk," kata Profesor Lupin, membuka pintu lalu minggir.
Ruang guru, ruangan panjang berpanel penuh kursi-kursi tua yang berlainan.
"Nah," kata Profesor Lupin, memberi isyarat agar anakanak ke ujung ruangan. Di situ tak ada apa-apa, kecuali lemari tua tempat para guru menyimpan jubah ganti mereka. Ketika Profesor Lupin berdiri di sebelahnya, lemari pakaian itu mendadak berguncang, membentur dinding.
"Jangan khawatir," kata Profesor Lupin tenang, ketika beberapa anak melompat mundur ketakutan. "Ada Boggart di dalamnya."
Sebagian besar anak menganggap ini sesuatu yang layak dicemaskan.
Wednesday meng-awasi pegangan pintu lemari, yang sekarang bergetar, dengan gelisah. Bersembunyi dibalik tubuh Rolf yang lebih tinggi darinya.
"Boggart menyukai tempat-tempat tertutup yang gelap," kata Profesor Lupin.
"Lemari pakaian, kolong tempat tidur, lemari perabot di bawah tempat cuci piring—aku pernah bertemu Boggart yang tinggal di jam besar yang berdiri. Yang ini pindah ke sini ke-marin sore, dan aku minta persetujuan Kepala Sekolah agar para guru meninggalkan ruang guru ini, supaya aku bisa mengajar murid-murid kelas tigaku praktek,"
"Jadi, pertanyaan pertama yang harus kita ajukan kepada diri kita sendiri adalah, apakah Boggart itu?"
Wednesday mengangkat tangan.
"Boggart adalah pengubah-bentuk," katanya. "Dia bisa berubah menjadi bentuk apa saja yang dia pikir paling menakutkan bagi kita."
"Aku tak bisa memberikan definisi yang lebih baik dari itu," kata Profesor Lupin dan Wednesday berseri-seri. "Jadi si Boggart yang duduk dalam kegelapan lemari ini belum berbentuk. Dia belum tahu apa yang membuat takut orang di balik pintu lemari. Tak ada yang tahu, seperti apa bentuk Boggart kalau dia sedang sendirian, tapi kalau kukeluarkan dia, dia akan langsung menjadi apa pun yang kita masing-masing takutkan,"

KAMU SEDANG MEMBACA
Hiraeth [Harry Potter FanFiction]
Fanfiction[hiatus sementara] Hiraeth (hi-raeth) a deep, inborn sense of yearning for a home, a feeling, a place or a person that is beyond this plane of existence. ;rasa kerinduan yang dalam dan bawaan sejak lahir akan rumah, perasaan, tempat, atau seseorang...