12

27.5K 1.8K 329
                                        

Hari sudah menjelang siang, Meva sudah berada di sekolah Arlan untuk menjemput putra tercintanya itu. Tapi yang ditunggu belum kunjung keluar dari kelasnya. Tidak hanya Meva yang nunggu, ada juga beberapa ibu ataupun ayah yang sedang menunggu anak mereka.

Tak lama bel sekolah pertanda pulang berbunyi, satu persatu anak dari setiap keluar bersiap untuk pulang termasuk Arlan yang sudah berlari ke arah Meva.


"Bunda.."


"Jangan berlari, sayang." Arlan terkekeh malu. Meva tersenyum kecil dan tangannya bergerak mengelus kepala Arlan.


"Bunda... Ini buat Bunda." Arlan memberikan surat yang dibagikan wali kelas Arlan sebelum bel pulang beberapa saat lalu.

"Apa ini, sayang?" Meva mengambilnya dan membaca surat yang berupa surat undangan wali murid.

"Itu undangan untuk orang tua, untuk acara hari anak disekolah minggu depan, Bunda. Kelas Arlan akan tampil bernyanyi dan besok Arlan sudah mulai berlatih. Bunda, datang ya?"

Meva terdiam, ia juga tidak tahu akan diizinkan untuk cuti atau tidak? Tapi tidak salahkan jika dia cuti setengah hari atau satu hari?

"Bunda usahakan ya, Sayang. Bunda akan mencoba meminta izin ditempat kerja Bunda. Kalau diizinkan pasti Bunda datang." ucap Meva selembut mungkin agar dapat dimengerti Arlan dan juga tidak mengecewakan putranya.

Arlan terdiam sejenak, lalu tersenyum dan mengangguk. "Iya Bunda, Arlan mengerti. Kalau Bunda tidak diizinkan libur, juga tidak apa - apa. Kan Bunda kerja juga buat Arlan. Jadi, Bunda tidak perlu khawatir."


Hati Meva terenyuh, menatap haru Arlan. Ia tahu keinginan Arlan, meskipun Arlan berkata tidak apa - apa. Ia tahu Arlan merasa sedikit kecewa dan takut jika Bundanya tidak datang. Arlan juga tetap seorang anak yang ingin orang tuanya melihat dia tampil diatas panggung. Ia tahu karena ia ibunya.

Meva berlutut menyamakan tingginya dengan tinggi Arlan. Memeluk putranya itu dengan erat. "Bunda akan berusaha untuk datang ya Arlan. Bunda tidak bisa berjanji, tapi Bunda akan berusaha, Ya Sayang."

Dapat ia rasakan dipundaknya Arlan mengangguk. Melepas pelukannya dan berdiri.

"Ayo, ke tempat kerja Bunda."


*


*


*


Hari dimana Arlan dan teman satu angkatnya tampil telah tiba, para orang tua dari setiap murid sudah mulai berdatangan. Entah itu ayah atau ibu, ataupun keduanya yang lebih dominan.

Devan berada didalam mobil miliknya yang sudah terparkir di depan sekolah anaknya. "Apa hari ini acaranya?" tanya Devan pelan entah pada siapa.

Devan sudah berada disini selama satu minggu ini sejak ia datang, meskipun tiga hari setelah ia datang ia kembali ke Jakarta untuk mengantar orang tuanya pulang dan menyelesaikan beberapa pekerjaan dan cepat - cepat kembali ke Surabaya.

Devan tahu jika akan ada acara disekolah Arlan karena ia selalu melihat Arlan dan teman - temannya berlatih bernyanyi di aula terbuka yang berada disekolahnya yang kebetulan berada dibagian depan. 

Atensinya tidak sengaja melihat Meva yang memasuki area sekolah, Devan segera turun dari mobilnya dan melangkah masuk ke dalam sekolah Arlan. Ia juga sudah bersiap ternyata, ia juga ingin melihat putranya tampil.

TRUST [Terbit E-Book]✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang