13

24.5K 1.6K 132
                                        

Meva keluar dari aula panggung menuju tepi lapangan sekolah yang cukup sepi. Menangis menumpahkan air matanya yang tak kuasa ia tahan.

Mendengar hal cukup membuat hatinya teriris mendengar ucapakan putranya. Jadi selama ini, seperti itulah yang dirasakan putranya. Apa keputusannya untuk pergi menjauh dari Devan dan keluarganya adalah keputusan salah?

Apa dia terlalu egois? Lebih mementingkan perasaannya daripada perasaan anaknya nanti? Apa karena dia tidak ingin terluka lagi sehingga membuat anaknya terluka?


Kenapa ia tidak memikirkan Arlan? Memikirkan masa depan Arlan? Jika saja, ia mengatakan pada Devan jika ia hamil saat itu, pasti nasib Arlan akan berubah meskipun ia akan selalu merasakan luka.

Maka Arlan tak akan menunggu seseorang yang bahkan tidak tahu bahwa dia ada di dunia ini. Mungkin saja Devan sudah menikah lagi disana dan memiliki anak dari pasangannya yang sekarang. Lalu bagaimana nasib Arlan sekarang? Apa akan selalu seperti ini untuk selamanya?

Ia bahkan tidak tahu, apa ia kan selalu berada disamping Arlan saat Arlan tumbuh dewasa nanti? Lalu akan dengan siapa nanti Arlan jika ia tidak ada nanti?


Kenapa? Kenapa ia tidak memikirkan hal sejauh itu? Ia terlalu dibutakan perasaannya. Ini salahnya yang membuat Arlan merasakan hal ini semua. Ini salahnya.

Meva menangis deras dengan tangan yang menangkup mulutnya agar isakan tangisnya tidak terdengar. Meva sibuk menangis dan memikirkan Arlan tanpa tahu Devan yang berdiri sedikit jauh dibelakangnya sejak dirinya keluar aula, menyaksikan dirinya menangis tersedu.

Membuat hati pria itu sakit terkoyak, melihat wanita yang selalu ia cintai menangis seperti itu dan itu karena dirinya.


"Bunda!"

Meva tersentak dan menghapus air matanya tergesa - gesa. Agar Arlan tidak melihat air matanya dan membuat anak itu merasa bersalah.

"Bunda kenapa? Arlan tadi mencari Bunda" ditatapnya wajah polos putranya yang sudah berdiri didepannya. Menyamakan tingginya dengan putranya.

"Bunda tidak apa - apa, sayang. Tadi Bunda pergi ke toilet sebentar" Meva berusaha menormalkan suaranya.

"Bagaimana penampilan Arlan tadi, Bunda? Bagus, kan?" tanya Arlan dengan senyuman ceria diwajah mungil dan tampan itu.

Dapat Meva lihat binar dimata Arlan membuat hatinya mengernyit ngilu. Tanpa menjawab pertanyaan anaknya, Meva justru memeluk tubuh mungil Arlan dengan erat sehingga membuat anak itu tenggelam didadanya.


"Maafkan Bunda, nak. Bunda, minta maaf."

Arlan yang tidak mengerti apa yang terjadi pada Bundanya sehingga meminta maaf padanya, hanya bisa membalas dekapan sang bunda.

"Bunda tidak perlu minta maaf. Bunda tidak punya salah sama Arlan, jadi tidak perlu minta maaf pada Arlan. Seharusnya, Arlan yang minta maaf sama Bunda. Karena Arlan selalu merepotkan Bunda selama ini. Arlan minta maaf ya, Bunda. Arlan tidak akan jadi anak nakal lagi. Maafkan Arlan ya, Bunda."

Air mata Meva kembali terjatuh mendengar nada polos itu yang seperti tidak ada beban. Mengeratkan pelukannya, menangis tersedu dipundak kecil Arlan.

Arlan adalah anak baik, anak yang manis. Anak yang sangat ia sayangi.

"Bunda minta maaf karena belum membahagiakanmu, nak." dapat Meva rasa gelengan pelan dipundaknya.

"Tidak, Bunda. Arlan sudah bahagia, sangat bahagia karena Arlan anak Bunda dan Arlan punya Bunda disisi Arlan. Terimakasih Bunda, karena sudah melahirkan Arlan dan Erlan. Merawat Arlan dengan kasih sayang yang besar meski tidak ada Ayah. Memberi kesempatan untuk Arlan melihat wajah Bunda yang cantik. Arlan bangga jadi anak Bunda dan Arlan akan membanggakan Bunda suatu hari nanti. Arlan sayang Bunda."


Benarkan itu anak berusia 5 tahun? Devan tak menyangka anaknya memiliki pemikiran seperti itu diusianya yang cukup dini. Meva telah melahirkan dan merawat Arlan dengan sangat baik dan menjadikan Arlan anak yang berkualitas.

Meva sangat terharu dengan apa yang Arlan katakan, "Bunda juga sayang Arlan dan Erlan"


*


*


*

Mohon maaf QReaders^^

Sebagian chapter telah dihapus untuk kepentingan penerbitan e-book^^

*


*


*

TBC

Sorry for Typo~~


Uhuk...

Devan nyamperin Meva dirumahnya tuh.. Giman ya nantinya? 


Makasih ya buat kalian yang udah baca, vote & commentnya T.T 

Kalian buat aku semangat >.< Maaf ya kalo lama dari perkiraan aku up nya :') Makasih juga udah mau nunggu cerita ini :')


Pokoknya, makasih banget buat kalian semua >.<

Saranghae~~


See you next chap~~


AlifalQur_

16 Januari 2021

TRUST [Terbit E-Book]✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang