Chapter 03

525 59 3
                                        

Ketika sedang menonton 'happy three fiends' Martin mendekat ke arah tempat Annie duduk. Lalu Martin mulai berbicara.

"Annie apakah kau sudah tau kabar bahwa Jimy meninggal?" tanya Martin kepada Annie. "Benarkah?" Annie memasang wajah syok. "Dia bunuh diri di dalam gudang sekolah. Penjaga sekolah sudah menemukannya tergantung di sana," Martin menjelaskan.

Annie memasang wajah sedih seakan akan tidak percaya dengan kepergian Jimy. "Putri Ayah yang cantik, Ayah akan meninggalkan mu bersama Astrid sampai pukul 21.00 malam," jelas Martin sambil mengelus rambut Annie penuh kasih.

Annie mengangguk. Setelah Martin berbalik meninggalkan tubuh kecil Annie, disitulah Annie memasang senyuman licik.

Ketika melintasi lorong menuju dapur. Lagi lagi Annie melihat Astrid yang sedang memandangi poto Martin. Bukan hanya memandanginya,Astrid juga mencium poto tersebut. Sangat menjijikan. Tatapan Annie melebar. Rasa tidak sukanya kepada Astrid semakin membesar.

Annie membuat sebuah rencana untuk menyingkirkan Astrid. Annie pun memikirkan ide cemerlang. Annie meminta bantuan kepada Astrid untuk mengambilkan meja kecilnya di gudang. Astrid menuruti permintaan Annie.

Ketika Astrid sudah memasuki gudang. Annie mengunci pintu gudang. Menyalakan korek api lalu melemparkannya ke arah gudang. Api merambat begitu cepat. Hingga kini gudang sudah terbakar separuh.

Melihat rambatan api yang mulai menjalar, Astrid panik karna tidak ada jalan keluar. Astrid melihat Annie dengan wajah datar sedang memperhatikannya di balik jendela. Astrid memukul jendela hingga pecah dan akhirnya tangannya malah terluka, Astrid merasa kesakitan dia berjalan mundur sambil berteriak teriak.

Sebuah balok yang sudah terbakar menimpa tubuh Astrid hingga akhirnya Astrid ikut terbakar di dalam gudang. Annie pergi meninggalkan gudang pergi menuju ruang tengah. Annie menelpon damkar dan juga ayahnya agar segera pulang.

Martin pulang dan melihat Annie yang kelihatan bersedih dan syok. Martin memeluk Annie. Annie menangis di dalam dekapan Ayahnya. Annie tidak benar benar menangis, buktinya saat dalam pelukan Martin,  Annie menampilkan senyum penuh kemenangan.

Annie diantar Martin menggunakan mobil. Seperti biasa suasana hening di dalam sana. Annie hanya memainkan jari jari tangannya. Martin hanya berfokus ke arah jalan. Sampai di sekolah Annie keluar dari mobil. Martin meraih tangan Annie, kemudian Annie kembali berbalik tanpa ekspresi apapun.

Martin mencium kening Annie. Senyuman kecil terlukis di wajah Annie.

Annie berjalan menuju kelas dengan senyum tipis yang terukir di wajahnya. Seseorang menendang kaki Annie hingga membuat Annie tersungkur. Annie menatap tajam wajah Aleta. Aleta kembali membalas tatapan Annie. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi padanya jika berurusan dengan Annie.

Annie berdiri, berjalan melewati Aleta dengan senyuman mengerikan di wajahnya. Bell istirahat berbunyi, kelas sepi, tidak ada seorang pun kecuali Annie di sana.

Istirahat pun berakhir, semua masuk kedalam kelas dengan teratur. Aleta menemukan sepucuk surat di mejanya
Bertuliskan :

temui aku di kolam renang  sepulang sekolah

Aleta kebingungan sebab tidak ada nama sang penulis di dalam surat tersebut. Tanpa rasa curiga Aleta menuruti isi surat tersebut. Sepulang sekolah di saat semua kelas dan isi sekolah kosong. Aleta pergi ke kolam renang belakang sekolah.

Aleta bingung karna tidak ada orang di sana. Aleta tetap menunggu sambil memperhatikan tenangnya air kolam. Tiba-tiba seseorang berbisik padanya. "kau mau main main denganku?" Seseorang mendorong tubuh Aleta hingga Aleta tercebur ke dalam kolam. Aleta tidak bisa berenang dan tidak ada yang menolongnya karna tidak ada siapapun di sana.

Annie bertepuk tangan sambil menyaksikan tubuh Aleta yang mulai tak sadarkan diri,  mengambang di kolam tersebut.

"Kau bermain-main dengan orang yang salah"
~Annie

Tak lama berita kematian Aleta tersebar. Annie masih bertahan dengan raut wajah datarnya. Martin sedang membaca koran sembari duduk di sofa singgle. "Ayah aku ingin pergi ke rumah Natan," ucap Annie kepada Martin. "Ayah antar?" tawar Martin pada Annie. "Tidak perlu ayah, aku bisa pergi sendiri," jawab annie menolak penawaran Martin.

Annie membawa ransel abu-abu miliknya. Hodie abu-abu juga menutupi kepalanya.

Setelah Annie pergi Martin menemukan sebuah buku harian milik Annie. Martin membuka lalu membacanya. lembar berbahaya belum tersentuh. Yang Martin baca hanyalah lembar pertama yang berisikan :

aku rindu ibuku. kapan aku bisa bertemu ibu? Ayah terlalu sibuk dengan pekerjaannya dan juga sibuk dengan Jane kekasihnya. Aku cemburu pada Jane dia selalu mendapat perhatian lebih dari ayah sedangkan aku. ah sudahlah.

Martin membuka lembar berikutnya saat dia hendak membacanya. Telepon rumah pun berbunyi. Martin cepat-cepat mengangkat panggilan telpon tersebut. Yeah panggilan kerja lagi. Dia menyimpan buku harian Annie di tempatnya semula.

Annie pulang melihat tidak ada siapapun di rumah, cepat-cepat dia pergi menuju kamarnya. Annie bergegas mandi lalu menonton televisi.

Annie merasa bosan dia pergi menuju kamarnya. Annie berpikir apa yang harus dia lakukan agar tidak terlalu bosan. Matanya melirik ke arah ikan koi yang di berikan ayahnya saat dia berulang tahun.

Terlintas sesuatu di pikirannya. Annie membawa pisau berukuran kecil dari dapur di rumahnya. Ikan koi yang berada di dalam aquarium di tangkap.

Lalu ikan koi di tusuk tusuk menggunakan pisau hingga percikan darahnya jatuh kemana mana, entah apa yang dipikirkan Annie.Dia nampak senang ketika melihat darah. Jangan kan hewan, Annie pun tidak pernah merasa takut ketika membunuh manusia.

Dan tidak pernah terlihat menyesali perbuatannya.

***

ANNIE [End]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang