Pagi tiba, ketika Annie sedang duduk sarapan bersama Martin. Martin mendapat sebuah panggilan telpon. Martin pun mengangkat telpon tersebut.
"Hallo?"
"..........."
"Apa!! Bu Emili meninggal?!"
Martin merasa tak percaya dengan kejadian tersebut.Annie tidak memperhatikan ayahnya, dia sibuk memakan roti isi miliknya. Martin menghampiri Annie dengan terburu-buru. "Annie apakah kau mau ikut ke tempat pemakaman Bu Emili?" tanya Martin dengan terburu-buru.
"Tidak ayah, aku diam di rumah saja," Annie menjawab dengan tatapan malas. "Ayah akan kembali dalam 2 jam jaga dirimu selama ayah pergi," Martin berjalan rusuh ke arah pintu keluar.
"Akhirnya si brengsek mati juga," Annie bergumam sambil menatap lekat boneka pemberian Jane. "Aku jahat? tidak, aku hanya menyingkirkan sang pengganggu. Aku baik? aku tidak ingin di sebut seperti itu. Ah aku hanya ingin hidup dengan tenang," Annie berbicara pada boneka miliknya. Benda mati yang tidak mungkin mendengar ataupun berbicara padanya.
"Aku benci Jane, namun dia baik padaku. Tapi suatu saat aku pasti akan menyingkirkannya kau setuju Miko?" curhatan Annie bertanya kepada Miko nama boneka kecil pemberian Jane.
Disisi lain.
Martin menatap makam Emili dan makam Tiana yang bersebelahan. Kepolisian masih menyelidiki sebab terjadinya kecelakaan di tkp waktu itu. Setelah dari makam Emili, Martin sengaja pergi ke tkp untuk mengetahui apa yang telah terjadi.Martin bertanya kepada polisi yang ada disana. "Apa penyebab kecelakaan ini pak?" tanya Martin kepada polisi yang bertugas disana. "Kami belum mengetahui dengan pasti sebab kecelakaan tersebut. Namun kami menemukan sarang lebah di jok belakang mobil. Kami menduga kecelakaan ini terjadi karna pengemudi terganggu oleh kawanan lebah tersebut hingga mobil tidak terkendali," jelas polisi tersebut.
Ketika mendengar tentang adanya sarang lebah di mobil Emili. Martin teringat kembali dengan hilangnya sarang lebah yang berada di belakang rumah. Sekarang Martin merasa aneh kepada sikap Annie kemarin.
Kejadian pada saat Annie terluka, seperti telah di rencanakan. Emili juga kemarin berbicara tentang hubungan antara kematian Aleta dan keberadaan Annie di tempat kejadian.
Martin masuk kedalam mobilnya. Melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Pikiran Martin melayang, apakah benar Annie putrinya yang masih berumur 10 tahun dapat melakukan hal kejam seperti itu dengan mulus tanpa terungkap?
"Arghhh," Martin mengeluarkan nafas kasar masih menyimpulkan apa yang terjadi dengan putrinya. Ketika sampai di rumah. Martin langsung bergegas menuju kamar Annie.
Dilihatnya Annie sedang bermain dengan boneka miliknya. Kelihatan seperti gadis kecil kebiasaan. "Huuhh," suara nafas lembut Martin. "Annie?" Martin diam di depan pintu kamar Annie.
Annie menoleh tanpa menjawab. "Ada hal yang ayah mau tanyakan, kau mau ikut ayah sebentar?" Martin meminta Annie untuk ikut kepadanya.
Annie berdiri dari tempat duduknya tadi, mengikuti langkah Martin menuju ruang tamu. Annie duduk di sofa singgle dengan wajah datar. Martin berjongkok di depan tempat Annie duduk. Menatap lekat-lakat mata Annie lalu bertanya.
"Apa yang kau lakukan saat berada dikolam renang sekolah bersama Aleta?" tanya Martin secara perlahan.
"Aleta memintaku mengantarnya saat dia mendapatkan permintaan dari sebuah surat tak bernama," Annie menjelaskan kesaksian palsu kepada Ayahnya. Namun Martin tidak cukup percaya karna bukti-bukti nyata yang telah ia simpulkan.
Martin mencoba kembali bertanya. "Apakah kau melihat kejadian saat Aleta tercebur di kolam?""Saat itu aku pergi terlebih dahulu, karna sang pengirim surat tak kunjung tiba," jelas Annie.
"Kau meninggalkan Aleta sendirian?" Martin terus bertanya.
"Ya. Aku tidak tahu bahwa hal tersebut akan terjadi," jelas Annie kembali berbohong.
"Apakah kau tahu sesuatu tentang kematian Emili?"
"Aku hanya mendengar kabar itu dari mu,"
"Bicara jujur pada ayah," Martin menatap mata Annie dengan tatapan biasa tapi mampu membuat siapapun ketakutan dan bicara yang sebenarnya. Namun tatapan itu tidak berguna jika di tujukan kepada Annie.
"Ayah tidak percaya padaku? Ibu ayah tidak mempercayaiku!" rengeknya sambil berteriak memanggil ibunya. Annie menangis, Annie tau siapapun pasti akan percaya jika dia berakting seperti ini.
Martin memegang pundak Annie. Annie berhenti merengek, tangis air mata masih membanjiri wajahnya. Martin menatap Annie dengan senyuman. "Ayah percaya padamu, jangan menangis lagi ya," bujuk Martin kepada Annie. Annie berhenti menangis tangan Annie mengusap wajahnya yang masih basah dengan punggung tangannya. Terukir senyum di wajah Annie.
Siang berganti malam Annie tertidur lelap di kamarnya. Sedangkan Martin masih bersantai di kamarnya. Manatap langit langit kamarnya. Rasa percaya kepada Annie belum timbul di hatinya. Martin memikirkan sesuatu, lalu cepat-cepat tidur sambil menunggu hari esok.
***

KAMU SEDANG MEMBACA
ANNIE [End]
NouvellesPembunuhan yang sangat rapih, bahkan butuh waktu lama untuk kepolisian mengungkap siapakah pelakunya. Dan ternyata, pelakunya adalah gadis yang masih berusia 10 tahun. Annie namanya, jiwa psikopath yang muncul sejak dini. Gangguan jiwa yang timbul a...