Cuaca hari ini sangat tidak mendukung, awan tampak gelap, udara juga terasa dingin, membuat Tita merapatkan jaketnya yang berwarna Lilac.
Gadis itu berlari memasuki gerbang sekolah saat merasa air sudah turun sedikit. Selain itu, di depan sana juga ada Adit yang baru saja memarkirkan motornya.
"Adit!!" teriak Tita saat di lihatnya Adit sudah beranjak pergi dari parkiran motor.
Adit mendengar panggilan cempreng itu, tapi Adit tidak berhenti. Dia terus melanjutkan langkahnya, membuat Tita lagi-lagi harus berlari untuk menjajarkan langkahnya dengan Adit.
"Adit! Tunggu! Tita cape!" Adit menghela nafas gusar.
Masih pagi, dan Adit selalu terusik dengan Tita.
"Adit!" Mau tak mau Adit menghentikan langkahnya saat Tita berhasil menarik tangannya.
"Apa?!" tanya Adit sewot. Alih-alih tersinggung atau sedih, Tita malah menunjukan senyum manisnya.
"Pagi, Adit, kekasih dunia akhirnya Tita."
Adit mendengus kesal. "Lo mau apa sih?"
"Tita cuma mau bilang sama Adit, kalau Tita suka dan cinta banget sama Adit."
Adit mendelik tak suka, dia mengedarkan tatapannya ke sembarang arah. Asalkan jangan menatap Tita. Adit risi. Cewek itu selalu saja menyatakan perasaannya kepada Adit. Padahal Adit tidak suka sama cewek yang mengejar-ngejar cowok seperti ini. Kelihatan sekali murahannya.
"Terus?"
Mata Tita berbinar bahagia, kala mendengar tanggapan Adit. Eh.. jangan salah, jarang-jarang Adit mau menanggapi ucapan Tita. Selama ini Adit selalu meninggalkan Tita begitu saja setiap kali Tita menyatakan rasanya sama Adit. Emang kurang ajar tuh si Adit.
"Terus... Adit mau gak jadi pacar Tit-"
"Enggak!" jawab Adit lantang, sampai membuat Tita mengusap wajahnya.
"Adit, mah, ujan deh ngomongnya." Tita mengerucutkan bibirnya, sedetik kemudian, dia tersenyum lebar. "Terus kapan Adit suka sama Tita?"
"Will never!"
"Adit, Tita tuh beneran suka loh sama Adit."
"Bodo amat." Setelah itu Adit pergi meninggalkan Tita.
"I'ih.... Adit!!! Pokoknya Tita bakal terus kejar Adit sampe dapet!" teriak Tita, tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Akhirnya Tita memilih untuk ke kelas di banding harus mengejar Adit lagi. Pagi ini sudah cukup, nanti siang dia akan menyatakan perasaannya, siapa tau saja di terima.
Jangan pernah meragukan Tuhan yang mudah membolak balikkan hati umatnya.
***
Di kelas, Tita sudah mendapatkan Sisi yang sedang berkutat dengan tugas-tugas rumahnya. Eh.. salah buat Sisi itu tugas sekolah.
"Sisi!" seru Tita membuat Sisi terkejut sampai pulpennya terpental jauh.
"Tita! Apaan sih manggil tuh pelan-pelan."
Tita menyengir lebar. "Tita, kan, bukan sinden, Si," sahutnya.
Sisi menghela nafas lalu kembali melanjutkan kegiatannya setelah mengambil pulpennya.
Tita duduk di samping Sisi. Menatap sahabatnya yang sedang mengebut menyalin tugas Ratna, cewek pintar di kelas mereka.
"Lo udah kerjain tugas belum? Pelajaran Pak Yusuf, nih. Nanti kalau enggak kerjain bisa di hukum Lo."
Tita mengangguk, tapi tak membuka suara. Sisi meletakan pulpen di bukunya, menutup bukunya, dan menyimpan di laci meja.
"Lo kenapa deh? diem aja."
Tita menghela nafas panjang. Menopang kepalanya sembari menatap Sisi lekat.
"Tita bingung, Si."
"Bingung kenapa?"
"Adit susah banget di dapetin sama Tita," kata Tita membuat Sisi memutar kedua bola matanya malas.
"Masih?"
"Tita gak bisa hapus perasaan Tita dari Adit, Si."
"Iya, terus Lo mau keliatan goblok di depan dia terus? Sampai kapan?"
"Sisi...," lirih Tita.
"Serah Lo dah. Pokoknya kalau sampe Lo nangis karena Adit, gue bakal ceburin dia ke dasar laut terdalam." Tita mengangguk, lalu memeluk Sisi erat.
"Tita sayang sama Sisi." Sisi membalas pelukan Tita.
***
"Buat Adit." Sebuah susu kota rasa coklat telah di berikan Tita pada Adit.
"Apaan nih?"
"Itu susu, masa Adit gak tau? Susu itu bagus buat tubuh Adit. Makanya minum ya." Tita tersenyum manis pada Adit, tapi Adit malah mendelik sinis.
"Gue tau ini susu, cuma buat apa Lo kasih ke gue?"
"Biar Adit sehat," jawab Tita.
"Gak perlu."
"Ih, Adit, jangan gitu, Tita beli ini, kan, buat Adit. Masa Adit nolak."
"Gue gak nyuruh."
"Adit, ambil aja ya."
Adit berdecak, dia mengambil susu kotak itu dari tangan Tita, lalu menyerahkannya pada Irga.
"Nih, buat Lo," kata Adit. Irga tampak enggan, apalagi dilihatnya wajah Tita yang merenung sedih.
"Kok di kasih Irga? Itu, kan, buat Adit."
"Yang penting udah gue ambil, kan? Udah gih Lo sana." Usir Adit.
Tita hanya menunduk. "Sana pergi! Jangan bikin nafsu makan gue ilang deh."
"Ya udah, Tita pergi dulu ya, Dit. Makan yang banyak ya." Setelah itu Tita pergi dari kantin. Mengabaikan panggilan teman-teman Adit.
"Lo jangan keterlaluan sama Tita, Dit," peringat Denis.
"Bodo amat, gue gak suka sama cewek murahan kayak dia."
"Iya, tapi dia, kan, cewek. Setidaknya Lo harus bisa jaga perasaan dia."
"Lo belain dia?" tanya Adit dengan raut wajah tak suka.
"Bukan gitu-"
"Ah, males gue makan." Adit berlalu pergi meninggalkan geng Fortem.
"Dia belum tau rasanya cinta bertepuk sebelah tangan," gumam Denis yang masih dapat di dengar dengan teman-temannya.
***
*Bersambung*
Ah... Akhirnya aku bisa up lagi, setelah sekian lamanya gak mampir ke wattpad.
Ada yang kangen gak sama Adit dan Tita?
Komen ya.. :)
KAMU SEDANG MEMBACA
AdiTita (Po Ke2)
Teen FictionIni cerita tentang Tita yang mengejar cinta Adit. Tapi Adit malah mengejar cinta Caca, yang tak lain adalah sahabat Tita. "Tita suka Adit, tapi Adit-nya suka Caca. Jadi, Tita harus mundur atau melangkah? Nyatanya orang yang Tita cintai malah memper...
