11. Mulai Menerima

432 30 3
                                        

"Aish?! Kak Sirius!"-a Orion

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Aish?! Kak Sirius!"
-a Orion

.
.
.
.
.

"Hai!"

"Sudah selesai?"

Suara itu mengintrupsinya melihat seseorang yang berdiri didepan pintu kelas. Kakak kelasnya sudah menunggu, ia hanya menatapnya dan tersenyum singkat. Sampai ada tangan yang membantunya membereskan buku-buku dimeja, sudah dipastikan itu Sirius.

Tadi saat istirahat tiba, lagi-lagi Orion diajak makan bersama di kantin dan berakhir janji untuk pulang bersama. Kebetulan juga hari ini ia tak ada ekstra mading, jadi menerima ajakan itu tak salah kan?

"Jadi pulang bersama?" tanya Sirius dan diangguki Orion.

"Kakak tak akan menyogokku untuk bercerita yang lain lagi kan?" ucap Orion.

"Hah? Ayolah, aku tak selalu seperti itu."

Mereka berdua berjalan keluar kelas Orion. Sudah cukup sepi, mengingat bel pulang sekolah sudah dari beberapa menit yang lalu. Mungkin masih menyisakan guru dan karyawan. Langkah mereka perlahan meninggalkan area sekolah.

"Ou."

Orion hanya berdehem, pasti kakak kelasnya ingin meminta bercerita. Kalau saja Sirius tidak punya ingatan untuk menyimpan memori, ia akan meluapkan semua yang ada dipikirannya saat ini. Oke, salahkan siapa?

"Kau ada asma?" tanya Sirius.

Kaki kecil itu berhenti, tatapannya masih menunduk kebawah. Tidak menghiraukan Sirius yang juga ikut berhenti bingung. Orion menghembuskan napas pelan dan kembali berjalan.

"Ada, sejak kecil," jawab Orion.

"Ouh.. kau sering check up pasti," ucap Sirius.

Biarkan ini akan menjadi cerita flashback lagi. Ada-ada saja cara Sirius membujuk adik kelasnya ini untuk bercerita lebih banyak lagi.

"Tidak. Aku tak peduli Kak, kalau sakit itu datang saat dengan dia. Sekarang malah makin parah," lirih Orion, matanya memejam menahan sesuatu yang kapan saja bisa jatuh.

"Kalau tak ada yang mengantarmu, aku bisa menemanimu untuk check up kapanpun itu."

"Tidak usah Kak, aku sesekali juga check up dengan Bunda Ayah."

Susana menjadi hening setelah Orion menyelesaikan kalimatnya barusan. Mereka masih melangkah bersama dijalan beraspal. Sirius berpikir, bagaimana caranya ia membujuk Orion lagi. Huh, ini tantangan terberat dari dulu.

"Aku jadi teringat kejadian beberapa hari lalu," ucap Sirius, sang lawan hanya menatapnya seolah bertanya.

"Saat kau dengan Kak Alfa. Kau kesakitan, tapi Kak Alfa malah biasa saja, tak menolongmu ataupun mencari bantuan. Aku tak tahu juga apa yang sedang dipikirkan Kak Alfa saat itu," jelas Sirius.

"Dia tak tahu kau ada asma?" lanjut Sirius lagi, Orion menggidikkan bahu.

"Entah, dulu tahu, sekarang mungkin sudah lupa. Apa peduli dia?" jawab Orion.

"Kau tahu Ou, aku akan berjanji akan menjagamu dari siapapun mulai saat ini."

"Lalu?"

"Aku harus mendapat imbalannya," lanjut Sirius sembari terkekeh.

"Hh! Jika tak ikhlas, tak usah sok-sokan mau menjagaku Kak," ucap Orion jengah.

"Ash kau ini, ayolah satu permintaan saja. Ini juga tak aneh-aneh kok, dan kau akan aman saat selalu bersamaku," ucap Sirius meyakinkan.

"APA?!"

Sirius berjingkat kaget, pasalnya baru kali ini Orion berteriak. Bukan bukan, bukan berteriak, lebih tepatnya marah? Eoh, atau kesal?

"Hehe... jangan marah begitu, aku hanya ingin kau menerimaku menjadi teman?" ucap Sirius.

"Teman?" beo Orion, kelerengnya menatap wajah sang kakak kelas itu. Tak ada gurauan, wajahnya menujukkan seserius itu.

"Baiklah, teman kan?" ucap Orion pelan.

"Yak! Teman, kita berteman kan?" jawab Sirius senang.

"Iya."

"Oke, aku janji akan selalu menjagamu. Aku tak akan membuatmu sakit sedikitpun, aku menyayangimu."

Orion terkekeh dan memasang wajah aneh plus geli, mendengar ucapan kakak kelasnya barusan. Bagaimana bisa, kalimat tadi seperti ungkapan sayang sepasang kekasih yang baru mengikat suatu hubungan. Aishh! Orion masih normal, ia tak menyukai laki-laki, apalagi modelan Sirius.

"Geli, jangan bicara seperti itu kak," ucap Orion dan terkekeh.

"Yak! Selalu tersenyum seperti itu Ou, kau harus mempertahankannya."

"Kau makin manis kalau tersenyum," lanjutnya, yang membuat Orion memalingkan wajahnya dan menggerutu.

Tak terasa obrolan mereka akan terputus sampai disini. Rumah Orion sudah terlihat, langkah mereka dipercepat. Orion berhenti dan tersenyum menatap kakak kelasnya.

"Terimakasih Kak, maaf kalau merepotkanmu," ucap Orion.

"Ah, tak masalah. Kalau begitu kau langsung masuk dan istirahat, aku akan pulang," jawab Sirus.

Entah kenapa ucapan Sirius barusan mampu membuat Orion tersenyum. Bahagia rasanya diperhatikan, ia akan mulai menerima kakak kelasnya kali ini.

"Hati-hati dijalan Kak, sampai jumpa," ucap Orion.

Sirius mulai melangkah meninggalkan Orion didepan rumahnya. Tangannya melambai-lambai dan memberi senyum itu pada Orion.

"Sampai jumpa adik manis."


Harusnya update kemarin malem, tapi karena males ya gini wkwk

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Harusnya update kemarin malem, tapi karena males ya gini wkwk

24 Januari 2021

a Orion✔ Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang