[S E L E S A I]
[B R O T H E R S H I P]
"Ou sudah menemukan semua, dari teman; kakak; ayah dan bunda; juga jalan keluar masalah itu. Ou sekarang tinggal jaga diri untuk baik-baik saja, agar nanti bisa pulang dan kembali bertemu mereka semua...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Kehadirannya memang selalu pas, tapi dengan semua perhatiannya belum membuatku percaya lebih. Bagaimana jika nanti aku malah selalu bergantung padanya?" —a Orion
. . . . .
"Coba lihat sekitarmu, lebih peka deh, masih ada yang sayang kan?"
"Haha, yang membuat juga harus lebih peka."
Orion menekan tombol enter dan mematikan komputer dihadapannya. Sudah lebih dari sepuluh menit dirinya berkutat dengan komputer. Menjalankan kebiasaannya setelah bel istirahat berbunyi. Padahal perutnya sudah terus minta diisi.
Dirinya hendak berdiri dan menuju kantin sekolah, tetapi malah keajaiban datang. Kakak kelas itu sudah ada didepan Orion, menunjukkan senyum manisnya yang membuat Orion kembali duduk ke kursi.
"Kau melakukan apa?" tanyanya.
"Apapun itu bukan urusan kakak," jawab Orion.
Sirius berjalan mendekati Orion, menghadap layar komputer. Bingung apa yang dilakukan Orion tadi, ia menyalakan kembali benda itu. Tertawa setelah melihat apa yang dimunculkan layar komputer.
"Oh begitu... jadi yang menjalankan web Mas Quotes itu kamu?" tanya Sirius, wajahnya seperti menahan tawa.
"Hhh... iya," jawab Orion malas.
Orion menatap kakak kelasnya itu yang sibuk meng-scrol laman web di layar komputer. Sesekali tertawa setelah membaca beberapa tulisan disana. Sudah terbongkarkah siapa admin alay dari web itu. Tunggu tunggu, ini juga bukan kemauan Orion sendiri, tapi amanat dari guru sekolah.
Belum selesai Orion melanjutkan kalimatnya, tangannya sudah ditarik paksa kakak kelasnya itu. Sampai lupa mematikan komputer, padahal mereka sudah di koridor sekolah.
"Kak, komputernya—"
"Nanti akan dimatikan petugas pasti," potong Sirius.
Sampai mereka tiba di depan ruang UKS, Orion hanya menatap bingung. Dirinya butuh makanan bukannya butuh obat. Tarikan tangan Sirius ditahannya, dengan cepat Orion menggelengkan kepalanya.
"Kenapa disini?" tanya Orion bingung.
"Perutmu?" tanya Sirius balik.
"Perutku? Lapar," jawab Orion.
Jawaban Orion membuat Sirius menghela nafas pelan. Saking takut terjadi apa-apa dengan Orion, sampai tak mendengar semua kalimatnya tadi.
"Huh?! Ku kira perutmu sakit, kita ke kantin," ucap Sirius dan kembali menarik tangan Orion.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Orion terus menatap pergelangan tangan kirinya yang ditarik kakak kelasnya tadi. Bahkan sekarang semakin memerah, apakah tidak tahu kalau itu sangat sakit? Sedangkan sang pelaku yang sedari tadi memperhatikan hanya terkekeh. Ditariknya tangan Orion, diusapnya dengan telapak tangan sendiri.
"Sensitif?" tanyanya dan Orion mengangguk.
"Sensitif kalau yang pegang Kakak," jawab Orion.
"Hmm, tak apa nanti akan hilang merahnya," ucap Sirius.
Krukk Krukk
'Tuh kan! Kenapa harus buat malu?' batin Orion.
Perutnya sudah berbunyi minta diisi. Kalau terlambat mungkin ia akan kembali lagi ke UKS, karena perutnya menjadi sakit.
"Kau mau makan apa?" tanya Sirius berniat memesan.
"Aku? Nasi goreng saja," jawab Orion dan membenamkan kepalanya di meja.
"Kau sakit?" tanya Sirius.
"Lapar Kak, aku boleh minta tolong?"
"Apa?"
"Pesankan makananku," ucap Orion dengan bibir mengerucut.
Pasalnya sedari tadi dirinya kelaparan, apakah kakak kelasnya tak peka sedikitpun?
"Ahh ya, tunggu sebentar adik manis," ucap Sirius mengusak rambut Orion dan pergi.
'Adik manis? Panggilan macam apa itu?' batin Orion.
Setelah Sirius selesai memesan dan makanan datang, mereka memakannya dengan lahap. Tak ada perbincangan lagi, masing-masing fokus dengan makanan di depannya.
"Orion, kau risih dengan kehadiranku?" tanya Sirius tiba-tiba.
"Tidak," jawab Orion mengunyah makanan.
"Lalu kenapa kau selalu tak suka saat aku ada?" tanya Sirius lagi.
"Hanya... yang semua kakak lakukan aku tak selalu suka."
"Contohnya tadi menarik tanganku," lanjut Orion.
"Jadi kita bisa bersahabat? Eoh berteman maksudku," ucap Sirius.
"Berteman? Maaf, mungkin nanti aku masih belum percaya. Tapi akan kucoba kak."
"Kenapa?"
"Aku pernah dibully."
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Pelajar plin plan akhirnya up!!! Wkwkwk, btw Linmo makin hari makin ganteng yak (づ ̄ ³ ̄)づ