2. Sang Kapten Basket

1K 91 1
                                        

"Aku sama seperti kalian, tapi apakah hanya aku saja yang pantas diberlakukan seperti ini?"-a Orion

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Aku sama seperti kalian, tapi apakah hanya aku saja yang pantas diberlakukan seperti ini?"
-a Orion

.
.
.
.
.

"Kamu jangan lupa dengan tugas piket kita," teriak laki-laki berjaket biru membanting pintu kelas dan pergi bersama temannya.

Orion hanya bisa mengiyakan perintah laki-laki tadi, teman satu kelasnya. Segera berjalan menuju pojok kelas mengambil sapu untuk membersihkan kelas ini. Disapunya setiap bagian kelas hingga tak nampak debu yang ada disana.

Kegiatan setiap pulang sekolah yang Orion lakukan. Mengerjakan tugas piket temannya, padahal seharusnya Orion sekarang pulang kerumah. Ia tak bisa menolak, akan dibully habis-habisan besok.

Sering terlintas di benak Orion, mengapa harus dirinya yang mengerjakan tugas piket ini? Apakah temannya tidak bisa? Bisa sempatkan waktu sebentar untuk mengerjakan kewajiban mereka. Dan kenapa dirinya yang terus-terusan diperlakukan begini.

"Selesai, sekarang aku tinggal mengepel dan membuang sampah itu," ucapnya.

Sudah seperti membersihkan rumah saja. Menyapu, mengepel, merapikan meja dan kursi, membuang sampah. Atau mau diperbaiki juga atap sekolah ini?

Lengkungan indah yang terukir di kedua sudut bibirnya pun masih ada. Tak menghiraukan badannya yang sudah capek, keringat menetes dan sekolah ini yang semakin sepi. Ia masih mengerjakan pekerjaannya.

Orion melangkah keluar kelas, sebelumnya memastikan apakah masih ada orang disini. Ditangannya membawa kantong plastik hitam berisi sampah. Angin yang datang menerpa rambutnya, membuat surai hitam itu bergerak tak beraturan.

Tempat sampah utama memang tak jauh, tetapi berada di pojok bangunan gedung sekolah ini. Keadaannya pun bersih, hanya setiap pulang sekolah sampah menumpuk. Jadi tidak akan mengganggu proses pembelajaran berlangsung.

Orion masih berjalan lurus, tempat sampah utama pun sudah terlihat. Orion mempercepat langkahnya melewati lapangan basket dan sampai ditempat sampah utama. Membuang kantong plastik hitam itu dan kembali ke kelasnya.

Lapangan basket itu cukup ramai, dikarenakan juga hari ini ada klub basket yang latihan. Semua sempat mengalihkan fokus ke Orion. Dipikiran mereka, masih ada yang piket sampai sesore ini?

Tak terkecuali laki-laki berpostur tubuh paling tinggi disana. Seluruh atensinya kini pada Orion, adik kelas gedung sebelah. Sempat merasa kasihan harus melihat dia piket seorang diri.

"Hey, bukankah dia yang sering dibully itu?" teriak salah satu laki-laki yang memegang bola basket.

"Iya, dia sering dibully kakak kelas gedung kita bahkan teman-temannya juga ikutan," jawab yang satu.

"Ah aku kalau menjadi dia sudah pindah dari sekolah ini, kasihan sekali," sahut laki-laki itu.

"Sudahlah kita lanjutkan bermain basket, hampir sore ini," putusnya dan diangguki temannya.

Laki-laki bertubuh tinggi tadi tak sengaja mendengar percakapan teman satu klubnya. Ia juga masih memperhatikan Orion yang berjalan kembali ke kelasnya.

"Ck, jalan saja lama bagaimana mau melawan," gumamnya sembari tersenyum.

"Kapten kita mengapa berdiam disitu? Percobaan jadi patung?" teriak temannya membuat ia lepas melihat Orion.

"Baiklah, kita lanjutkan lagi," ucapnya.

Klub basket pun melanjutkan kegiatannya berlatih bermain basket. Sudah setiap hari sesuai jadwal mereka pulang sore.

Orion mengemasi buku pelajaran dan alat tulisnya. Menggendong tasnya dan keluar dari kelas. Tak lupa menutup pintu dan mematikan lampu kelas.

Piket untuk hari selesai dikerjakan jam 15.30. Seharusnya ia pulang satu jam yang lalu. Sekarang badannya sudah seperti hancur saja, haha.

Tinggal Orion menunggu bus di halte. Sendirian, lebih baik daripada ramai seperti biasa. Ia malah semakin tak suka. Bus akan datang sekitar 10 menit lagi, masih ada waktu untuknya duduk sebentar.

Diujung bangku halte bus terdapat laki-laki bertubuh tinggi yang juga duduk disana. Ah, kapten basket yang memperhatikan Orion lagi.

Sekarang mereka berdua bertemu kembali di halte bus. Laki-laki itu pun tak luput pandangannya kepada Orion.

Orion sendiri tak menyadarinya. Ia asyik memerhatikan jalanan yang lebih menarik perhatiannya daripada yang lain. Bahkan Orion tidak tahu jika ada orang selain dirinya.

Bus tiba berhenti tepat di halte. Orion segera menaiki bus dan duduk dibangku paling belakang. Laki-laki itu pun sana, duduk disebalah Orion.

"Orion," batin laki-laki itu membaca papan nama diseragam Orion.

"Huh, besok-besok aku akan pulang lebih awal agar bisa terhindar dari mereka,"


Nah siapa atuh si kapten basket?Jeng jeng jeng, wkwk

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Nah siapa atuh si kapten basket?
Jeng jeng jeng, wkwk

5 Desember 2020

a Orion✔ Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang