[S E L E S A I]
[B R O T H E R S H I P]
"Ou sudah menemukan semua, dari teman; kakak; ayah dan bunda; juga jalan keluar masalah itu. Ou sekarang tinggal jaga diri untuk baik-baik saja, agar nanti bisa pulang dan kembali bertemu mereka semua...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Andai saja pikiran aneh itu tak datang, mungkin kehidupanku akan berubah seratus delapan puluh derajat. Andai saja..." -a Orion
. . . . .
Brakk!
Alfa menendang tepat di perutnya, Orion hanya bisa meringis menahan sakit. Karena apapun perlawanannya tak akan berbuah hasil, dua kakak kelas di depannya akan tetap membullynya.
Alfa; salah satu dari kakak kelas itu, mendekati Orion yang tersungkur di dekat tembok gudang. Menyeringai memandangi Orion, ia sangat suka pemandangan seperti ini.
"Bagaimana? Sakit?"
Orion menggelengkan kepala pelan, air matanya mulai mengalir membasahi pipi. Tangannya memegang perut yang ditendang Alfa tadi.
"Kak-"
"Tidak ada Zevan disini, jadi kau hari ini tidak selamat," lanjut Alfa.
"Kak, sakit..."
Dari dua kakak kelas itu tak ada yang menolongnya. Thalla; teman Alfa hanya melihat pertunjukkan itu dibelakang. Ini akan menjadi urusan Alfa dan Orion saja.
Alfa mengelus pipi Orion yang dibasahi air mata. Orion yang awalnya menunduk pun langsung mengangkat wajahnya. Tapi elusan itu berubah menjadi cengkeraman kuat dikedua pipi Orion. Ia meringis kesakitan, berharap ada yang menolongnya kali ini.
"Lebih sakit ayah dan bunda tidak melirikku Ou."
"Tapi kak, ayah bunda menyayangimu kau-"
Brakk!
Alfa menendang tembok didepannya, Orion hanya bisa menangis. Kakaknya salah paham, iya kakaknya. Hanya empat orang yang tahu disini jika Alfa itu kakak kandung Orion.
Kesalahpahaman tiga tahun lalu masih Orion ingat. Alfa memarahinya, Alfa membentaknya, Alfa menyakitinya untuk pertama kali. Sebelum itu Alfa sangat sayang padanya, sampai pikiran aneh itu datang mempengarungi dirinya. Semua berbanding terbalik dengan sekarang.
"Ayah bunda selalu melirik Kakak, hanya Kakak saja yang kurang memperhatikan. Mereka sudah berusaha yang terbaik untuk Kakak, mereka juga sayang Kakak. Kenapa sampai Kakak berpikir seperti itu hah?
Orion dan Kak Orien itu anak kandung Ayah Bunda, mereka sayang kita Kak. Mereka tidak ada yang namanya pilih kasih, tidak! Ayah Bunda-"
Orion tak melanjutkan kalimatnya, hanya isakan yang terdengar setelahnya. Ia sudah meluapkan apa yang selama ini dipendamnya, ia ingin meluruskan semua. Orion tak mau ada salah paham lagi antara ia dan kakaknya.
Sedangkan Alfa hanya terdiam memikirkan kalimat panjang Orion barusan. Dirinya termangu, apa selama ini ia salah? Panggilan itu juga membuatnya harus kembali pada masa lalu. Masa saat semua perlahan berubah, Orien yang dulu telah berganti menjadi Orion yang baru.
"Kakak salah paham. Ou kecewa sama Kakak, Kakak harusnya mengerti ini semua," ucap Orion pelan.
"Tapi Ayah Bunda-"
"KAKAK SALAH! SELAMA INI KAKAK CUMAN DIPENGARUHI DENGAN PIKIRAN ANEH ITU! KAKAK HARUSNYA SADAR!" Ini untuk pertama kalinya Orion membentak kakaknya. Dirinya tahu ini tak boleh dilakukan, tapi kakaknya masih saja dengan pikiran anehnya dulu.
"Maaf."
Walau tak sepenuhnya bersalah, Orion meminta maaf. Ini akan berhasil, pasti! Kakaknya pelan-pelan akan menerima.
"Ou-" Belum sempat Alfa melanjutkan kalimatnya, didepannya sudah disuguhkan pemandangan yang membuat dadanya tiba-tiba sakit. Orion memejamkan matanya dengan kerutan di dahi, tangan kirinya masih memegang perut yang ditendangnya tadi, dan tangan kanannya meremat dada.
Alfa tak tahu harus berbuat apa, pikirannya kemana-mana. Apa sebenarnya yang terjadi dengan Orion? Bahkan sekarang napasnya terdengar berat dan menyakitkan di telinga Alfa.
"K-ka-k, h-hahh-ssa-saki-kit," Kalimatnya putus-putus, tangannya masih setia memegang dada yang rasanya seperti ditusuk ribuan pedang itu.
"Ou-"
"KAKAK APAKAN ORION? KAKAK SEGERA PERGI DARI SINI ATAU AKU LAPORKAN KE GURU BK!" Teriakan itu datang dengan membawa Sirius dan wajahnya yang kaget melihat Orion.
"SUDAHLAH KAKAK PERGI."
Setelah kalimat itu berakhir, Alfa berlari pergi meninggalkan mereka berdua. Pikirannya tidak wajar kali ini, ia butuh sendiri.
"Ori-rion sa-saayang kk-kakak."
Sirius bingung melihat Orion yang kesusahan bernapas di hadapannya. Matanya melirik kesana-kemari berniat mencari tas Orion. Orion peka, ia menujuk pot tanaman hijau didepannya.
"Kamu ada asma? Pelan-pelan ambil napasnya, jangan panik dan jangan menangis. Nanti akan tambah susah," Perintah Sirius, ia membantu Orion memakai alatnya juga.
Setelah Orion berhasil mengembalikan napasnya, ia tersenyum kearah Sirius. Kakak kelasnya itu menolongnya, bayangkan saja jika dia tak datang.
"Kak Alfa? Yang sering membullymu?" tanya Sirius.
"Aku tidak bisa bilang dia membullyku atau tidak, ini hanya masalah keluargaku," jawab Orion sejujurnya, ia sudah berjanji akan lebih membuka diri pada Sirius.
"Keluargamu? Kak Alfa?"
"Iya, dia Kak Orien. Kakak kandungku."
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sampai sini ada yang paham? Iya tau kok, aku malah muter-muter:) Dikit aja nih ya, mungkin cuman sampe chapter belasan