•| TL 4 Burning Roses |•

34.9K 2.7K 157
                                        

Carla melirik pada logo kamar mandi wanita di sana lalu masuk dan menutup pintu salah satu bilik di sana yang sangat sepi.

"Huek!"

Carla lagi-lagi memuntahkan cairan yang tak ingin dikonsumsi oleh lambungnya itu malah membuat ia mengeluarkan kembali.

Minuman macam apa yang telah kau minum, Carla?! Ia mengeluarkan cairan itu dari tenggorokannya dan mengambil tisu dari tasnya untuk melap mulut setelah melepas kaca mata yang diberikan oleh Jennifer ke dalam tas.

"Huek!"

Setelah merasa bahwa muntah itu sudah keluar semua, Carla melap bibirnya lagi.

Tak beberapa lama setelah ia menyeka bibirnya ingin meraih gagang, pintu kamar mandi terdengar membuka dan terkunci bergantian setelahnya. Carla seketika merinding dan menggigit bibirnya takut, apa para wanita itu tahu bahwa ia di sini dan ingin menghabisinya? Ia dapat mendengar dengan jelas bahwa pintu keluar dari toilet ini terkunci. Tamatlah dia. Apalagi Carla tak pernah mau jika Arvid menyuruhnya untuk belajar bela diri.

"Ah.."

Sontak suara desahan wanita terdengar dari luar sana membuat Carla tersentak kaget, mana makin lama suara-suara yang membuat ia merinding sendiri itu makin kencang dan makin nyaring.

Carla menekukkan alisnya kaku, ia memang pernah mendengar suara itu saat di gudang kampus dahulu ataupun suara itu di tempatnya melewati ruangan-ruangan di club ini tadi, tetap saja jika menjadi orang ketiga di antara orang yang sedang bersenang-senang di satu ruangan. Ia tak tahu harus melakukan apa.

Apa dia tak punya uang untuk menyewa hotel? Mengapa harus di tempat seperti ini? Sebenarnya Carla tak peduli, tapi bagaimana pun juga ia berada di sana yang membuat ia mau tak mau harus mengalami dan merasa menjadi orang ketiga dari kenikmatan orang lain.

Makin lama suara desahan wanita itu makin mengganggu dan terus berkumandang di kamar mandi wanita itu membuat Carla tak tahan dan berusaha menutup kedua telinganya.

Ia bahkan tak berani bergerak dari tempatnya takut jika kepergok. Carla terdiam di detik-detik selanjutnya dengan berusaha menutup telinganya yang tak ada guna, karena suara itu menggema di toilet yang kosong ini.

Carla akhirnya memberanikan diri menegak liurnya sendiri saat tadi tak sadar menahannya, ia berusaha sekencang mungkin tak menimbulkan suara saat membuka kunci pintu dan mencoba mengintip siapa ulah dari pelaku yang mengganggu ketenangannya itu.

Carla sekitar satu senti bisa membuka pintunya dan mengintip lewat celah, ia tertegun dan tak berani bahkan untuk bernapas kembali. Melihat dari belakang pemuda yang kemeja hitamnya di keluarkan dari celana dan melihat punggung tangannya bergambar mawar yang tengah menyentuh leher seorang wanita berambut kuning yang sedari tadi mendesah membuat semua dari ketidak nyamanan ini dimulai.

Carla tak sadar agak bergetar, ia menggigit bibirnya sendiri sangat kuat takut jika keberadaannya diketahui oleh orang yang tentu amat familier di mata orang-orang, termasuk matanya.

Setelah terdiam begitu lama di posisi yang sama, Carla memberanikan diri membuka pintu lebih lebar guna mengeluarkan tubuhnya dari bilik yang sedari tadi menutupnya.

Drett..

Tapi naas, semakin ia hati-hati agar membukanya pintu itu, malah menimbulkan deritan dari engsel pintu kamar bilik itu membuat pemuda yang tadi mencium bibir wanita itu segera menjauhkan wajahnya dari sang wanita yang terduduk di wastafel, begitu pula tangannya yang tadi sudah menurunkan tali baju wanita itu sebelah kini terdiam di tempatnya.

Wanita itu melirik pada Carla yang bukan main ketakutan sampai tak sadar menggigit bibirnya terlalu keras.

Mata biru wanita itu refleks melihat ke arah Carla lalu menutup bajunya yang sudah melorot setengah menatap pada pengganggu yang bukan main ketakutan.

The (lost) LipsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang