Manjadda Wa Jaada 2

13 3 0
                                        

Usaha itu tak akan menghianati hasil, jika hasilnya tak sesuai itu bukan yang terbaik untuk kita minati.

~pengahumhuajan_rya


"Allahu Akbar"

Takbir pertama salat isya berjamaah telah terlontar dari bibir bersih tanpa kretek dari para pemuda pejuang ilmu ini.

Mereka selalu melaksanakan salat berjamaah, tak peduli ada pelanggan yang datang, jika waktu telah tiba, maka tak ada alasan menunda panggilan ilahi. Kita mungkin berpikir akan hidup beberapa waktu lagi hingga menunda seruan-Nya. Namun kita lupa bahwa kita tak sedikitpun tahu akan sisa umur yang telah di tetapkan sebelum kita lahir ke Ardi-Nya.

Satu rakaat hampir selesai dan Zaki baru saja datang dan segera mengikut gerakan imam yang saat ini diimami oleh Bayu.

Mereka selalu bergantian menjadi imam, karena bagaimanapun mereka memanglah calon imam untuk tulang rusuk masing-masing kelak.

"Assalamualaikum warahmatullah. Assalamualaikum warahmatullah"

Salat wajib telah usai mereka tunaikan dan tak lupa doa yang di hanturkan, sebab salah satu waktu termakbul dikabulkannya doa adalah setelah salat lima waktu.

"Eh, buruan siap-siap ke cafe, udah banyak pelanggan," ucap Raja dengan membenahi rambutnya dan segera berlalu ke cafe yang ada di balik pintu sebelah kanan mereka.

"Oke,"jawab mereka serempak.

Mereka berlalu satu-persatu menyambut rezeki malam ini.

Tak sengaja Farhan menabrak Zaki, untung saja mereka tak jatuh, sebab sebagai laki-laki tentu pertahanan tubuh mereka kokoh.

"Selow, Ki."

"Eh iya, Han. Em ... maaf ane telat lagi, gak bisa bantu-bantu persiapan sore." ujar Zaki.

Ia tak enak hati, karena sudah empat hari ia tak bisa membantu persiapan jualan mereka.

Farhan tersenyum, ia menepuk pundak Zaki dan membawa laki-laki tampan itu duduk sebentar di atas sajadah yang belum mereka lipat.

"Sebenarnya, ente kenapa? Zaki ..., kita itu disini bertujuh, kalau ada masalah bisa cerita. Jangan begini, kita khawatir tapi ente selalu menghindar," tutur Farhan.

Zaki menundukkan kepalanya, rasanya bagai di timpah batu berton-ton untuk menceritakan apa yang kini terjadi padanya. Berat amat berat.

"Ane belum bisa jelasin sekarang, Han."

Senyum yang mengalahkan gulali itu kini tercetak lagi di bibir Farhan rasa kasih sayang antar saudara seiman selalu tercurahkan oleh hangatnya perilaku dan tutur katanya.

"Oke, tapi ente jangan menghidar-hindar lagi, ya. Kita hadapi sama-sama apa masalah kita, mungkin kami tak bisa membantu banyak tapi setidaknya kami bisa menguatkan," jelas Farhan.

***

Hari berlalu begitu cepat, kontes debat antar bahasa akan dimulai. Tiada hari bagi Eko dan Raja tanpa berlatih, bahkan saat perjalanan hendak ke kampus, di dalam becak surga mereka mempraktekkan apa yang mereka pelajari.

Tujuh Sajadah HijauCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang