Tak semua bisa di jelaskan untuk bisa di pahami.
Ada yang lebih baik menjadi rahasia meski pandangan negatif menjadi indikator penentu.
Terkadang lebih baik tenggelam dalam kolam negatif pikiran orang dari pada berkoak-koak memohon bantuan.
~pengagumhujan_rya
"Oh ... jadi gadis seksi yang tempo hari itu masih mahasiswi?" Bayu ber-oh iya mendengar cerita dari Fang yang mengetahui Silvy sebagai salah satu peserta debat yang meraih juara dua.
Saat ini mereka duduk di cafe yang tutup. Berbagi cerita di malam santai untuk bertukar keluh, kesah ataupun bahagia.
Cafe sederhana mereka memang tak buka setiap hari. Pada hari senin dan jumat mereka menutupnya, dengan alasan jika hari senin tugas di kampus sangat banyak, dan bagi orang indonesia hari senin adalah hari sibuk dalam satu minggu. Sedang hari jumat waktu mereka sangat sempit, sebab mereka akan mengikuti kajian rutin untuk menambah taqwa pada sang Pencipta.
"Berarti dia janda yang masih kuliah." Tebak Raja menjentikkan jari yang bunyinya cukup menandingi letusan bom di Gaza.
"Bisa jadi, tapi ... sayang banget ya, masih muda udah janda." Akmal terharu dan tanpa ia sadari rasa empatinya itu membuat perut teman-temannya seperti di gelitik.
"Kenapa ketawa?" Bentak Akmal.
Ia sangat jengkel melihat orang tertawa dengan bahan candaan dirinya sendiri.
"Gak apa-apa, Mal. Cuma ... ya lo harus hati-hati dan siap-siap salat tobat banyak rakaat.
Teguran atau sindirin dari Eko berhasil membuat wajah dengan jenggot tipis itu blushing, bukan karena tersipu malu tapi tersipu amarah.
"Eko ...."
Farhan menegur Eko yang sangat suka membuat pembuluh darah Akmal ingin meletus.
"Berarti gadis itu nikah muda dulunya," terka Fang.
Tebak-tebakan masih berlangsung dengan presepektif masing-masing.
"Udah-udah, gak penting juga," sergah Zaki untuk mengakhiri bahan cerita hari itu.
"Sekarang kita tagih janji Eko," sambungnya.
"Nah iya, siapa gadis di warung Bu Yati?" Raja ikut penasaran bukan kepayang.
Untuk mengindari berbagai dampak kegulanaan mereka meminta Eko menjelaskan semua yang terjadi kemarin.
Di angguki oleh yang lain, ide Zaki bak ide brilian Albert Entsien yang sangat berpengaruh.
"Oh, yang ane tahu ... dia itu kakak kandung dari Zuhra, baru saja menyelam hijrah menjadi muslimah sejati."
Penjelasan Eko mendapat enam anggukan kepala. Namun wajah-wajah mengintograsi masih mengintai bibir Eko. Mau tak mau ia harus menjelaskan apa yang ia tahu.
"Namanya kalau tak salah ..., Salimah. Ane pernah dengar Bu Yati memanggilnntya 'Imah' dan dia tak kuliah, di bekerja di Mall yang cukup besar di luar kota. Namun karena ibadah yang terganggu ia berenti. Sekarang ia menjadi penulis gitu. Sambil bantu-bantu selama ia masih di sini." Jelas Eko.
Untuk kesekian kali lagi, anggukan enam anak adam itu memahami.
"Udah ya, ane cuma tau segitu. Oh iya ... dia pernah makan di sini, yang ane bilang ada gadis cantik yang pernah datang kayak baru hijrah gitu."
Eko berusaha memutar film masa lalu mereka untuk memaksa memori temannya mengulang episod.
" Oh iya, pantas wajahnya tak asing," sembur Fang yang mengantar pesanan gadis itu kala itu.
Yang lain juga akhirnya mengangguk lagi.
"Udah kayak tukang hipnotis ane liat ente pada angguk-angguk aja." Eko tertawa lepas melihat para sohibnya yang polos bin kalem ini mencermati ceritanya.
Tak tertawa sendiri, tawa Eko di sambung dan mereka menertawakan diri mereka yang tertawa karena mereka sendiri. Bisa di bilang mereka menertawakan diri sendiri.
***
Pagi telah tiba kembali membangunkan jiwa yang lemah untuk kembali menaklukkan dunia. Setelah berbagi cerita di malam yang sunyi. Mereka kembali pada aktivitas biasanya sebagai pembisnis kecil, mahasiswa, pemuda tampan dan pemburu ilmu.
Tak pernah mereka tak berjamaah di sajadah dan ruangan hijau itu di kala subuh, sebab satu sama lain saling mengajak pada kebaikan, jika ada yang sulit melawan setan yang menduduki kelopak mata yang berat melaksanakan salat. Maka yang lain akan membangunkan dengan berbagai cara. Mulai dari menarik kaki, menggelitik telinga, teriak, hingga paling sadis menyiram dengan air es.
Mereka ingin pertemanan mereka itu tak hanya di dunia tapi juga di surga kelak.
Mawla ya solli wa sallim da iman abada
Ala habibika ghoiri kullimin
Nada dering yang merdu dari penyanyi fenomenal religi dunia Maher Zain, bersumber dari smartphone milik Bayu.
'Papi' begitulah tulisan di layarnya yang berlatar belakang Alquran cantik di atas sajadah.
Pembicaraan yang tak di ketahui mulai terjalin dalam gelombang ke gendang telinga masing-masing. Yang mereka tahu jika Ayah Bayu menelpon pasti akan mengirimi uang bulanan. Diantara mereka bertujuh yang mempunyai kehidupan lebih baik adalah Bayu. Jadi meski ada usaha kecil-kecilan Ayahnya tetap mengirim uang bulanan.
Pernah Bayu meminta untuk Ayahnya tak mengiriminya uang, tapi ayahnya menolak. Ayahnya berkata 'jika uangmu terasa lebih, tabung saja untuk modal nikah nanti' Maa syaAllah ya ayah dari Bayu ini.
Setengah jam lewat lima menit, percakapan dari sinyal itu selesai. Biasanya kegirangan akan tercetak di wajah Bayu. Tapi berbeda untuk kali ini. Tangislah yang kini menghiasi wajah bersih yang tak putih itu.
Enam temannya yang lain tanda tanya besar melihat ekspresi pemuda berdarah betawi-sunda yang biasanya cerah ceria kini murung mendung.
"Ada apa, Bayu?" Farhan mencoba menanyainya.
Dengan helaan napas untuk menetralkan emosinya dan isak yang menggetarkan dada bidangnya, Bayu coba membagi duka.
"Katakan saja, Bay," sambung Akmal.
Sekali lagi Bayu menghela napas, mencoba mencari titik kuat untuk menyatakan alasan ia terisak.
"Semua lahan perkebunan Papi terbakar."
"Astagfirullah," ucap mereka serentak.
"Dan sekarang papi syok, pingsan dan belum sadarkan diri, sambung Bayu
"Innalillah."
🦋🦋🦋
Assalamualaikum🤗💖😊
Selamat hari jum'at❤
Ndak ada yang mau komen ya?🙄
Yaudah gak apa-apa
Setia selalu pada update terbarunya ya sohib-sohibah🤗
Jangan lupa baca Alquran hari ini
Wassalamualaikum
KAMU SEDANG MEMBACA
Tujuh Sajadah Hijau
Spiritual"Ini sajadah hasil dari usaha kita, sampai kita selesai pada tujuan masing-masing, tujuh sajadah di ruangan hijau ini gak boleh berkurang." Itulah perjanjian dari tujuh orang pemuda yang meninggalkan kampung halaman untuk menuntut ilmu ke ibu kota...
