"Kak, pinjem hapenya boleh, hapeku mati, Savira pelit gak mau kasih pinjam," ucap Shana sambil menatap Savira dengan tatapan sebalnya.
"Eh, kutu kasur seenaknya ngana bilang aing pelit, gak tahu apa ini hape di pakai kerja," protes Savira tak terima.
"Sudah-sudah kalian ini ya berantem mulu,Pakai aja Shana," jawab Miska sambil melerai pertikaian keduanya.
"Sav, kamu gak makan?" tanya Miska pada Savira.
"Nanti dulu Kak."
"Shana gak makan?" tanya Miska.
"Belum pengen Kak," jawab Shana sambil sibuk
Ketiganya sedang berkumpul di cafe milik Shana, di tempat seperti biasa, gazebo belakang cafe. Tepat dua minggu setelah kejadian itu keadaan Shana terlihat lebih baik.
"Sav, geser dikit," pinta Shana.
"Mau ngapain sih, ahelah."
Savira menuruti permintaan Shana meski sambil menggerutu, dia menggeser duduknya memberi tempat lebih longgar untuk sahabatnya.
"Kak, numpang ya."
Tanpa menunggu jawaban dari Miska, Shana merebahkan tubuhnya dengan paha Miska jadi bantalnya, membuat si empunya paha langsung memundurkan tubuhnya yang semula fokus pada macbook yang terletak di meja menjadi bersandar pada pembatas gazebo.
"Bah, ini anak manja banar sama Kak Miska," olok Savira.
"Gapapa Sav," sahut Miska sambil tersenyum.
Shana tersenyum lalu balik menatap Savira dan menjulurkan lidahnya kearah sahabatnya itu,membuat Savira geram dan melemparkan tempat tisu yang mengenai pantat Shana namun yang di lempar tempat tisu mengabaikan serangan dari Savira dia sudah terlampau nyaman dengan posisinya saat ini yang rebahan di paha tapi pipinya tercetak rona merah, dia sendiri juga tidak tahu kenapa dia bisa betah nempel pada Miska, padahal sebelumnya dia tidak pernah begini pada orang lain kecuali Savira dia terbiasa menempel pada Savira tapi terhadap Miska itu suatu yang sungguh aneh, ada rasa nyaman saat dia bersandar atau menempel pada Miska membuatnya menjadi betah.
Terlebih sejak awal mereka bertemu kembali setelah bertahun-tahun Miska menghilang, mereka menjadi dekat dan semakin dekat, tidak hanya dengan Shana, tapi juga dengan Savira. Kedua gadis itu merasa di beri kasih sayang lebih seperti seorang Kakak pada adiknya, terkadang juga seperti seorang Ibu pada anaknya.
Miska sendiri tidak keberatan akan hal itu, dia menyayangi kedua gadis itu, terlebih pada Shana, dia menaruh perasaan lebih dari seorang Kakak, sahabat atau Ibu pada gadis itu, perasaan ingin melindungi, perasaan ingin memiliki selalu mendominasi hatinya, tapi dia tidak mau gegabah mengingat apa yang baru saja menimpa Shana.
"Hahaha," tawa Shana meledak, menghancurkan lamunan Miska yang sejak tadi memandangi gadis yang sedang tiduran di pahanya.
"Gila ya lu, ngagetin aja!" kesal Savira.
Shana masih tertawa terpinkal-pingkal, membuat Savira dan Miska saling pandang heran.
"Ini loh Kak, Sav, aku liat akun lawak di instagramnya Kak Miska," jelas Shana setelah tawanya mereda.
(Itu sebenernya aku ges, kalo lagi gabut suka buka instagram akun2 lawak, trus ketawa sampe perut kaku, kadang sampe gebrak2 meja, trus adek n mamiku selalu bilang aku gila, jujur aku ini receh banget liat hal lucu dikit aja langsung ngakak meski orang bilang gak lucu tapi bagiku lucu)
Miska dan Savira hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Shana.
"Heh, monyet, duduk napa sih, kasian Kak Miska susah tuh ngerjain kerjaannya," omel Savira yang melihat Miska agak kesusahan ngetik di macbooknya.
