'Sama seperti yang bapak pernah bilang,namanya dunia pasti akan ada yang datang dan akan ada yang pergi. Sama seperti itu juga,nanti saya akan dapat pengganti kamu dan kamu juga sama.
Terimakasih untuk perjuangannya selama ini bersama saya'
-From Raksi Guvalen to Gisel Arsatya-
***
Jika Gisel harus memilih dia tidak akan pernah sudi datang ketempat dimana pertama kali hubungannya bertaut jika bukan karena kekasihnya. Mungkin saja setelah ini dia dan Raksi akan mengalami kesakitan luar biasa karena rasa yang mereka gantungkan bersama.
"Harusnya tuhan tidak pernah mempertemukan kita kak..." Lirih Gisel.
Setetes air mata menuruni pipi putihnya. Dadanya menyesak. 3 jam menuju pertemuannya dengan Raksi yang jelas akan membawanya pada kesakitan luar biasa.
"Jika tahu jatuh cinta akan sesakit ini, maka dari awal saya tidak akan pernah meneruskannya kak. Kenapa kita harus ditakdirkan berbeda ?? Kenapa tuhan mempertemukan kita dalam perbedaan yang kuat.." Ujar Gisel dan dia menangis.
Pria yang berdiri didepan pintu kamar sang adik hanya menatap adiknya sedih. Jika dia tahu dari awal bahwa mereka berbeda maka mungkin dia tidak akan mengizinkan adiknya jatuh pada Raksi. Tapi sama seperti Gisel maka Gara juga tidak tahu.
Gara memasuki kamar Gisel dan memeluk sang adik kala Gisel menangis tergugu diatas karpet kamarnya. Keadaannya sangat mengenaskan.
"Maaf Gi,maafin kakak. Harusnya kakak tidak pernah membiarkan kamu sama Raksi mengenal sampai sedalam itu. Maafin kakak..." Balas Gara sembari memeluk adiknya erat.
Gisel tidak tahan,dia melepaskan segala sesak didadanya selama beberapa hari ini semenjak dia dan Raksi renggang. Ditambah ucapan papanya tempo hari mengenai pernikahan dan perjodohannya.
"Sakit banget kak,Gisel sesak..." Ujar Gisel pada Gara sembari memukul pelan dadanya.
"Shh,kakak tahu. Maafin kakak Gi,maaf..." Ujar Gara sembari memeluk kembali sang adik.
Tanpa mereka sadari pemimpin keluarga mereka memejam erat kala melihat bagaimana putrinya kesakitan.
'Apakah tidak bisa kamu pindah agama ?? Berkeyakinan sama seperti kami nak ??' Ujar Novel.
Pria muda itu menggeleng pelan.
'Maaf om,saya tidak bisa. Saya adalah tulang punggung keluarga saya dan saya akan menjadi imam dalam setiap tindak tanduk keluarga saya. Almarhum papa saya akan sangat sedih jika saya memutuskan meninggalkan kodrat saya sebagai muslim...'
Novel menghela nafas. Dia melakukan ini bukan tanpa alasan. Pertanyaan putrinya pada suatu malam membuatnya memutar otak untuk mencari solusi akan masalah pelik kali ini.
'Seperti yang selalu saya katakan sama kamu,seharusnya dari awal kalian tidak perlu bertemu. Akhir kalian sudah sangat bisa diprediksi dan kalian lebih memilih melangkahi takdir' Jelas Novel.
Raksi menunduk.
'Maaf karena saya tidak bisa menahan rasa saya om,maaf juga karena tidak bisa menjaga tuan puteri om dengan baik...' Ujar Raksi menyesal.
Novel tidak bisa berkata apapun,diam adalah hal yang bisa dia lakukan sekarang. Mereka tetap pada keputusan mereka masing-masing.
***
"Gisel beneran datang kan ?? Takutnya nanti dia nggak jadi kesini lagi karena sakit hati. Atau karena sedih..." Balas Wira.
Raksi menunduk dalam.
KAMU SEDANG MEMBACA
Niskala (Completed)
Fanfiction(Doyoung × Jennie) Tentang perbedaan,pengorbanan,cinta dan harapan. Akankah mereka yang berbeda bisa bersama ataukah melepaskan rasa yang telah lama untuk menghadap pada Tuhannya ?? 'Tuhan mengijinkan kita bersama hanya sejenak,mungkin sebagai bentu...
