Pagi ini Raksi tidak ada kelas dan hal yang membuatnya lebih cepat dan terburu kala bangun dari tempat tidurnya sudah bukan lagi masalah terlambat bangun untuk beribadah,melainkan panggilan dari ibunda ratu yang membuat bukan hanya Raksi tapi juga sang adik yang langsung meloncat dari zona nyaman.
Mereka membagi tugas mulai dari membersihkan rumah depan,ruang keluarga dan tamu bahkan sampai ruang belakang mereka. Raksi bahkan sama sekali tidak mengecek sudah berapa lama dia menghabiskan waktunya untuk bersih-bersih kala setelahnya mengecek ponsel dan tersentak pelan.
Disana terpampang nama sang wanita yang menelfonnya lebih dari 6 kali. Tidak biasanya Gisel menelfonnya sepagi ini,jika mereka ada janji Gisel tidak akan memberitahunya mendadak. Raksi menelfon nomor Gisel dan diangkat setelah dering kedua.
'Kakak kemana ?? Kok sampai nggak ngangkat telefon aku beberapa kali ??' Ujar wanita diujung sana.
Raksi tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum. Astaga kekasihnya sangat lucu.
"Kakak ada pekerjaan Gi,ibuk bakal datang hari. Beliau berangkat kemarin malam,palingan sampai sini agak siangan sekitar jam 12. Mau main kesini ??" Balas Raksi.
Gisel memekik senang disana. Meski jelas ada beberapa hal diantara mereka yang jika Raksi dan Gisel boleh jujur ada halangan untuk hubungan mereka. Ya memang sebenarnya bukan hanya orangtua Raksi tapi papa Gisel juga melakukan hal yang sama.
'Boleh,nanti agak sorean aku kesana. Ibuk suka makanan apa kak disini ?? Nanti biar aku bawain...' Balas Gisel semangat.
Raksi tampak berpikir.
"Ibuk bukan tipe pemilih makanan sih,tapi beliau suka banget sama balado..." Balas Raksi.
Gisel tampak diam tidak membalas disana,mungkin kekasihnya itu sedang berpikir apa saja bumbu atau bagaimana cara membuatnya.
'Oke kak,nanti aku datang kesana. Tolong bilangin sama ibuk ya,nanti aku bawain makanan itu aku bakalan masak sendiri juga. Sampai nanti malam kak...' Ujar Gisel semangat.
Raksi terkekeh pelan.
"Iya Gi,sampai nanti malam..."
Sambungan terputus dan dengan itu juga hembusan nafas kasar keluar begitu saja dari mulut sang adam. Tara yang kala itu ada disana menyaksikan bagaimana kakaknya menelfon seseorang yang sepertinya sudah dia hafal.
"Kak Gisel bakalan kesini kak ?? Nanti kalau ibuk nggak suka gimana ?? Kakak udah bilang sama Kak Gi buat nggak pake kalungnya ?? Atau buat Kak Gi nggak pake pakaian terbuka ??" Balas Tara memperingati Raksi.
Raksi menggeleng pelan.
"Kalung itu sama seperti tasbih kita Tar,kakak nggak bisa larang Gisel buat pake itu. Itu adalah jati diri dia, kepercayaan orang masing-masing berbeda Tar dan jelas kita tidak bisa menghakimi mereka. Toh Kak Gisel nggak pernah nyuruh kakak buat lepas sarung kalau pas malam kakak main kerumahnya..." Ujar Raksi.
Tara tampak keberatan. Dia juga termasuk orang yang sedikit mendukung hubungan Gisel dengan kakaknya,tapi ya bagaimana ?? Didalam agamanya tidak bisa menikahi wanita yang tidak se-Tuhan dengannya dan sang kakak.
***
"Ibuk nggak nyangka kalian bisa menjaga rumah peninggalan nenek dengan sangat baik. Sekarang ibuk percaya dan nggak ragu meninggalkan kalian berdua bersama..." Ujar wanita berambut sedikit memutih itu.
Raksi dan Tara menyalimi tangan sang wanita dan berpelukan pelan.
"Ibuk tidak perlu khawatir,Raksi sama Tara pasti akan menjaga rumah peninggalan nenek dengan baik..." Balas Raksi meyakinkan sang wanita paruh baya yang adalah ibunya.
"Ibuk seneng kowe kabeh iso njogo kauripan ee dewe-dewe. Ora ono wadul seng aneh-aneh,ora ono gelutan kang nggarai pedotan silahturahmi. Yo ngene iki seng dijenengne kaduluran..." Ujar wanita paruh baya itu__Lastri.
(Ibu senang kalian berdua bisa menjaga kehidupan kalian masing-masing. Tidak ada aduan yang aneh-aneh,tidak ada pertengkaran yang membuat hubungan silaturahmi putus. Ya seperti inilah yang dinamakan persaudaraan...)
Raksi mengangguk pelan dan menatap Tara yang hanya diam dari ketika ibunya sampai. Raksi sepertinya tahu kemana arah pemikiran adiknya,dia pasti memikirkan apa yang akan ibunya lakukan jika tahu Raksi dan Gisel masih berhubungan.
Bukan hal yang baru yang mengatakan bahwa Lastri jauh lebih suka jika Raksi bersama dengan Dena sebab ya,mereka satu Tuhan. Agama mereka sama,bacaan mereka sama, juga peraturan mereka sama. Raksi ingat benar bagaimana Lastri menyatakan secara terang-terangan kepada Gisel bahwa dia tidak akan pernah menyetujui Gisel bersama dengan Raksi.
Untungnya Gisel tidak langsung menunjukkan sikap radikal dan memilih menahan sakitnya ucapan sang ibu. Tapi yang namanya lidah lebih tajam dari pedang,sekalipun Gisel mengatakan dia tidak apa-apa Raksi tetap saja kepikiran dan tidak bisa tenang. Dia merasa bersalah karena jelas ibunya yang mengatakan hal itu dan Gisel adalah wanita.
***
"Kenapa ayah nggak ikut pulang juga buk ??" Tanya Tara pada Lastri.
Lastri mendongak dari kegiatannya mengambilkan makanan untuk anak-anaknya.
"Kalian kan tahu gimana ayah kalian ?? Deweke ki yo melek balik jane tapi yo piye gaweane ora biso ditinggal..." Balas Lastri sembari menaruh satu ayam kepiring Raksi.
(Kalian tahu sendiri kan bagaimana ayah kalian ?? Dia itu ingin sekali pulang tapi pekerjaannya tidak bisa ditinggal...)
Pria bergigi kelinci itu sama sekali belum membuka mulutnya setelah ibunya memutuskan untuk tinggal selama beberapa bulan. Bukan karena dia tidak suka,dia hanya khawatir ?? Entahlah sebenarnya Raksi juga tidak tahu akan apa yang ada didalam pemikirannya sekarang.
Ditengah keheningan itu Lastri membuka percakapan yang sebenarnya didalam adat Jawa dianggap tidak sopan karena dalam keadaan makan.
"Kowe isih ndue hubungan karo wedok ayu iku Rak ??" Ujar Lastri tiba-tiba.
(Kamu masih punya hubungan sama wanita cantik itu Rak ??)
Bukan hanya Raksi yang terkejut hingga tersedak tapi Tara pun sama terkejutnya.
"Enten menopo buk ?? taksih buk, kula sami gisel mboten wonten masalah punapa-punapa dados nggih taksih sae-sae mawon..."
(Ada apa bu ?? masih bu,saya sama Gisel tidak ada masalah apa-apa jadi ya masih baik-baik saja...)
Lastri tampak mengangguk tenang. Kemudian dia meletakkan peralatan makannya dengan tenang membuat kedua putranya gusar.
"Ora usah tegang,ibuk ora bakal ngongkon kangmas mu iki putus karo pacare. Nanging yo kowe Podo ngerti yen pacaran beda agama iku bakale duweni akhir kepriye...." Ujar Lastri.
(Tidak perlu tegang,ibu tidak akan menyuruh kakakmu putus dari kekasihnya itu. Tapi kalian pasti paham jika pacaran beda agama itu akan memiliki akhir seperti apa...)
Raksi tidak suka pembahasan macam ini,dia jadi terkesan begitu durhaka karena tidak menuruti ucapan ibunya. Tapi disisi lain dia akan menjadi begitu tidak bertanggung jawab jika memutuskan Gisel tanpa alasan yang jelas.
"Kowe iku wes gede le,ngerti endi seng bakale iso dipimpin langsung endi seng ora. Yo lek saumpomo kowe seng diutus pindah agama lha lek bocah ayu iku ?? Gisel iku mung ndue bapak bakal susah yen deweke ngetut awakmu. Dadi ya,belajar alon-alon diculne wae...." Jelas Lastri kemudian wanita paruh baya itu membawa piring dan alat maka kotor ke ruang cuci.
(Kamu itu sudah besar kak,sudah faham mana yang bisa dipimpin mana yang tidak. Ya kalau saumpama kamu yang disuruh pindah agama lha kalau anak cantik itu ?? Gisel itu cuma punya ayah akan susah dia ikut sama kamu. Jadi ya,belajar pelan-pelan untuk melepaskan saja...)
Raksi menghela nafas berat,seakan akan segumpal batu menghalangi pernafasannya. Dia teesekat,harus berakhir seperti itu ??
Disisi lain,wanita berbau hitam itu mematung diujung ruang tamu dan memilih mundur kala mendengar apa yang diucapkan ibunda dari kekasihnya itu.
Dia juga terluka.
***
Vote sama comment nya ditunggu guys !!!
KAMU SEDANG MEMBACA
Niskala (Completed)
Fiksi Penggemar(Doyoung × Jennie) Tentang perbedaan,pengorbanan,cinta dan harapan. Akankah mereka yang berbeda bisa bersama ataukah melepaskan rasa yang telah lama untuk menghadap pada Tuhannya ?? 'Tuhan mengijinkan kita bersama hanya sejenak,mungkin sebagai bentu...
