Suasana meja makan keluarga Aryasatya tampak lengang.Tidak ada pembicaraan sama sekali,hingga Novel berdehem sejenak.
"Gimana pelajaran kamu dikampus Gi ??" Tanya Novel membuka percakapan.
Gisel menelan makanan yang dia makan sebelum menjawab pertanyaan sang papa.
"Nggak ada yang istimewa pa,cuma pelajaran biasa..." Balas Gisel cuek.
Novel mengangguk pelan dan ganti menatap kearah putra sulungnya.
"Kamu tumbenan ada dirumah Gar ?? Biasanya juga ngelayap nggak kenal waktu, alasannya aja ke studio buat lukis tapi pulang malah bawa banyak ayam goreng. Sejak kapan studio lukis kamu jadi gerai jualan ayam goreng ??" Ujar Novel pada Gara.
Gara berdecak kesal.
"Ada pa,lagian Gara udah gede bisa jaga diri Gara sendiri. Papa jangan khawatir berlebihan gitu,nggak akan juga Gara berani nyembunyiin anak perawan disana pa..." Jelas Gara santai.
Novel terkekeh pelan.
"Trus hubungan kamu sama Raksi gimana Gi ?? Masih baik kan ??" Ujar Novel.
Gisel belum sempat membuka mulutnya untuk memberikan jawaban kala Gara lebih dulu menyambar pertanyaan papanya.
"Berantem pa,tadi aja pas Raksi ngater Gi pulang Gi sama sekali nggak noleh apalagi bilang makasih sama Raksi..." Adu Gara.
Novel menatap putri keduanya dalam.
"Bener Gi ??" Ujar Novel.
"Kak Raksi nggak ngasih tahu Gi soal masalah yang dia hadapi sama Kak Arsen. Aku juga nggak akan nanya kalau aku nggak dapat bocoran,lagian bukan salah Gi juga.Kenapa Kak Raksi nggak terus terang aja sama Gi ??" Jelas Gisel panjang.
Gara mendecak pelan.
"Nggak semuanya bisa dibicarain bareng kali Gi,mungkin aja kan Raksi ada alasan..." Balas Gara.
Gisel nyaris bersuara kala Gara kembali mengintrupsinya.
"Jangan egois,semua orang punya rahasia dan Raksi juga.Emang pernah Raksi maksa kamu cerita sama dia kalau marahan sama kakak atau papa ?? Kan enggak,dia pasti bakal nunggu kamu sampai cerita sendiri kan ??" Ujar Gara.
Sebenarnya Gara tidak salah,selama ini Raksi selalu mengalah dan sadar menghadapinya yang keras kepala dan benar lagi ucapan Gara. Bahwa Raksi tidak pernah memaksa dan imut campur urusan yang dia miliki kecuali Gisel memberitahunya.
Ah Gisel jadi merasa bersalah. Kenapa dia harus bersikap kekanakan seperti tadi ?? Kan dia jadi bingung mau bilang apa sama Raksi.
"Gisel udah selesai pa,Gisel ke kamar.." Pamit Gisel.
Gara mendecak kesal.
"Marah,kalau dikasih tahu marah. Jangan egois terus kamu Gi,udah untung Raksi mau sama kamu disaat banyak wanita yang sudi buat ngalah sama Raksi,jangan sampai aja Raksi capek sama sikap kamu dan malah nyari oranglain yang bisa bikin dia nyaman lebih dari kamu..." Teriak Gara.
Gisel merasa tertohok,kenapa kakaknya mengatakan hal buruk seperti itu padanya ?? Bukannya dibela dan dikasih tahu baik-baik, Gara malah menyumpahinya. Gisel yang notabennya wanita over thinking dipaksa untuk memutar otak.
"Bagaimana jika Kak Raksi beneran ninggalin aku ??" Bisik Gisel.
Bukan tanpa alasan,Raksi itu cerdas, dia tampan dan sangat sabar.Dibalik itu dia juga ketua himpunan dan hal itu sudah cukup untuk membuat semua orang menyukai Raksi. Bagaimana jika apa yang dikatakan Gara benar ?? Bagaimana jika Gisel terus bersikap kekanakan lalu Raksi bosan dan lelah kemudian memilih menyerah ??
KAMU SEDANG MEMBACA
Niskala (Completed)
Fanfiction(Doyoung × Jennie) Tentang perbedaan,pengorbanan,cinta dan harapan. Akankah mereka yang berbeda bisa bersama ataukah melepaskan rasa yang telah lama untuk menghadap pada Tuhannya ?? 'Tuhan mengijinkan kita bersama hanya sejenak,mungkin sebagai bentu...
