Niskala 4 : Sederhana

33 8 0
                                        

Selepas malam dimana mereka berbaikan,pagi ini Raksi memutuskan untuk menjemput Gisel. Memang sebenarnya dia tidak perlu melakukan itu,bukan apa karena jelas Gisel anak orang kaya dibanding dengan Raksi.

Suasana rumah Gisel bisa dikatakan sedikit hidup dibanding rumahnya yang lebih mirip kuburan karena hanya ada dirinya dan sang adik yang mungkin hanya akan bertemu jika mereka benar-benar tidak ada kegiatan.

"Gimana sama hubungan kalian ?? Baik-baik saja kan ??" Tanya Novel,papa Gisel.

Raksi mengangguk pelan.

"Baik om,ada apa ya ??" Ujar Raksi.

Novel menggeleng.

"Tidak apa-apa,om cuma penasaran saja. Karena jelas om sadar benar akan perjalanan cinta kalian. Om nggak akan larang kalian buat bersama sekarang,tapi nanti om berharap kamu sama Gisel dapat orang yang tepat buat masing-masing..." Nasehat Novel.

Raksi sebenarnya tidak suka dengan pembahasan hal semacam ini.Dia dan Gisel sudah berjanji untuk tidak akan membicarakan perbedaan mereka, bukan karena mereka menolak hukum alam dan agama mereka hanya saja mereka tidak mau memperkeruh keadaan. Prinsip mereka jalani saja dulu masalah nanti bersama atau tidak dipikirkan sambil jalan.

Memang terdengar sangat tidak masuk akal. Bagaimana bisa mengorbankan keyakinan hanya untuk cinta. Mana ada orang yang rela menjadi pendosa hanya demi membela cintanya ?? Bukankah itu bukan cinta ?? Melainkan nafsu belaka ??

Memang iya jika didalam ajaran agama Raksi tapi dalam keyakinan Gisel hal itu adalah cinta. Tapi Raksi tidak bisa memaksa Gisel mempercayainya begitu juga dengan Gisel yang tidak bisa memaksa Raksi untuk mempercayai agamanya.

"Berangkat sekarang kak ??" Ujar Gisel yang turun dari lantai dua kamarnya.

Raksi tersentak dari lamunannya. Ah dia bahkan tidak menyadari kala Novel telah beranjak dan duduk disofa ruang televisi. Raksi bangkit dan berpamitan dengan Novel lalu berangkat ke kampus dengan motornya.

***

Sebenarnya Gisel agak tidak suka berada dalam situasi seperti sekarang dimana dia tidak bisa berkata dengan leluasa karena kejadian kemarin.

"Kalau ngerasa awkard nggak apa-apa Gi,paham kok. Kamu udah selesai kelas kan ?? Mau makan siang bareng diluar ??" Ujar pria berlesung pipi itu.

Gisel tidak bisa. Bagaimana jika Raksi tahu ?? Bagaimana jika pria bergigi kelinci itu memergokinya bersama dengan orang yang jujur saja menjadi alasan kenapa dia dan Raksi bertengkar kemarin.

"Nggak bisa kak,Kak Raksi bakalan nyari saya nanti. Kita udah ada janji duluan,nanti mau main ke rumah Kak Raksi..." Ujar Gisel.

Pria itu___Arsena Meraki.

"Sebentar aja nggak bisa ?? Padahal kakak sekalian mau nunjukin kamu cara yang cepat dan cermat buat ngerjain tugas bisnis kamu. Ya kan kalau sama Raksi pasti nggak bisa orang Raksi anak Hukum. Dia kemana aja bawaannya undang-undang bukan kalkulator..." Balas Arsen.

Gisel tersenyum pelan,dia tidak suka dengan cara Arsen yang terkesan membuat lelucon atas nama Raksi.

"Tapi etika dan kecekatannya jelas masih bagus Kak Raksi kalau menurut saya,Kak Raksi tahu benar bagaimana membungkam para pemilik mulut tidak berguna..." Jelas Gisel.

Dia benci ketika Arsen selalu mengunggulkan dirinya kala sebenarnya semua orang itu memiliki kemampuan mereka masing-masing. Gisel beranjak dan nyaris pergi dari hadapan Arsen kala sebuah tangan menahan pergelangan tangannya.

"Saya minta maaf jika ucapan saya tadi membuat kamu kesal Gi,tapi bisakah kamu mempertimbangkan ajakan saya tadi ??" Balas Arsen tidak tahu malu.

Gisel melepaskan tangannya dari cekalan Arsen dan menatap pria itu tegas.

Niskala (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang