[TSDP #1]
Siapa sih yang nggak mau jadi pengurus inti OSIS? Satu sekolah bakal kenal, "Oh, dia Shahia Jenaya? Sekretaris OSIS Angkatan 72?" Seenggaknya itu yang ada dipikiranku ketika terpilih menjadi pengurus OSIS SMA Adiwangsa.
Namun, itu semua ng...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
KetosGalak | [Tikungan]
Yang nungguangkattangandolooo. Hoy. Hoy. Hoy. Hoy. 🖐️
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Disini ada POV Kae. Padahal ya niatawalnyabakal full POV Jena. Tapiakutidaktahanuntuk spill kehidupan, perasaan, pandangan, dan segalamacam yang ada padadiriKaezar. Wkwk. Selamat membacaaa. ❤️
BTW. Mohondibantutandain typo yaaa. Initanpa edit karenabarunyamperumah. Langsung post. T.T ❤️ ***
JENA
AKHIR pekan ini tidak ada Kak Aru. Kak Aru tidak pulang, sedangkan Sheya dan Shena pergi ke Depok, ke rumah kakeknya dan akan menginap dua hari di sana. Jadi, hari ini aku benar-benar tidak ada kegiatan. Chiasa sempat mengajakku pergi sih tadi, dan aku sempat tertarik untuk ikut.
Namun, "HP Papi ketinggalan, Fush. Tolong antarkan ke Blackbeans, ya?" Telepon Papi siang ini membuatku tahu, aku akan menghabiskan waktu akhir pekanku ini di Blackbeans.
Aku berangkat ke Blackbeans menaiki taksi online yang sudah dipesan Mami. Sempat berdebat dengan Gio sebelum pergi, memintanya ikut, tapi jelas aku selalu kalah. Gio lebih memilih game di komputernya daripada ikut denganku.
Aku sampai di Blackbeans satu jam kemudian, langsung bergerak ke lantai dua, tempat di mana Papi dan Om Janu berada.
"Memang kalau usia nggak pernah bohong, ya?" ujar Om Janu ketika melihat aku memberikan ponsel pada Papi.
Papi terkekeh. "Jangan mentang-mentang anak gue udah SMA sementara lo belum menikah, lantas lo pikir usia kita beda ya, Nu."
Om Janu tertawa. "Lho, jodoh gue kan Jena." Lalu menatapku. "Ya, Sayang?" tanyanya sebelum Papi melemparnya dengan gulungan kertas dan menghasilkan tawa lebih keras dari Om Janu.